Thursday, Mar 27, 2025
Kolom

Merekam Sejarah yang Luka Dalam Sastra: Pengantar Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Yang Menggigil Dalam Arus Sejarah

image
(OrbitIndonesia/kiriman)

Buku ini bukan hanya kumpulan puisi. Ia adalah dokumen kemanusiaan.

Ia adalah upaya agar mereka yang hilang di dalam sejarah, mereka yang lenyap tanpa batu nisan, tidak benar-benar menghilang.

Dunia sering mencatat nama pemimpin dan strategi perang, tetapi siapa yang menuliskan jeritan anak yang kehilangan ibunya dalam kamp konsentrasi?

Baca Juga: Catatan Denny JA: Menurunnya Peran Ulama, Pendeta, dan Biksu di Era Artificial Intelligence

Siapa yang menyimpan cerita seorang lelaki tua yang menunggu istrinya, yang tak pernah kembali dari Hiroshima?

Dalam puisi esai ini, mereka hidup kembali. Primo Levi, penyintas Holocaust, pernah berkata:

“Jika memahami itu mustahil, mengenang itu kewajiban.”

Baca Juga: Catatan Denny JA: Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Kita Bersama

Dan buku ini adalah pemenuhan kewajiban itu.

Sejarah telah terjadi.
Tetapi apakah kita akan mengingatnya?
Atau membiarkannya tenggelam,
seperti nama-nama yang karam di lautan waktu?

Sastra tidak bisa mengubah masa lalu.
Tetapi ia bisa memastikan bahwa mereka yang jatuh,
tidak jatuh dalam kesia-siaan.

Baca Juga: Catatan Denny JA: Hak Asasi Manusia Sebagai Filter Tafsir Agama Era Artificial Intelligence

“Sejarah mengulang dirinya dalam wajah yang baru,
tetapi luka tetap sama, hanya nama yang berganti.
Di Gaza, di Ukraina, di tanah-tanah tanpa suaka,
anak-anak masih kehilangan ibunya dalam politik kekerasan yang tak mereka pahami.

Halaman:

Berita Terkait