Menulis Ulang Perjuangan Perempuan dalam Sastra: Pengantar Dari Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Gunawan Trihantoro
- Penulis : Krista Riyanto
- Kamis, 27 Februari 2025 05:56 WIB

ORBITINDONESIA.COM - “Sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta kekuasaan. Kadang, ia lahir dari luka, air mata, dan keberanian perempuan yang melawan arus zaman.”
Di abad ke-16, ketika dunia masih mengukir nasib perempuan terkurung di dalam rumah, seorang wanita berdiri tegak di geladak kapal. Ia menggenggam rencong, dan menantang angin lautan yang ganas.
Ia bukan hanya legenda, tetapi kenyataan yang menampar wajah sejarah. Namanya Malahayati, dan ia adalah laksamana perempuan pertama di dunia.
Ia bukan dari Inggris atau Portugis atau Amerika Serikat. Ia orang Aceh.
Bagaimana mungkin, dalam abad yang keras bagi perempuan, ia mencapai posisi yang bahkan jarang diberikan kepada pria biasa? Jawabannya tersembunyi di gelombang ombak yang membentuk Aceh.
Rencong ini bukan sekadar senjata,” katanya,
“Ini adalah suara tanah yang enggan diam.”
(Malahayati: Rencong di Tangan Perempuan, Gunawan Triahantoro, 2025)
Demikianlah tokoh Malahayati kita baca kembali dalam puisi esai karangan Gunawan Trihantoro.
Aceh bukan sembarang negeri. Ia adalah tanah yang terbakar oleh hasrat maritim. Laut bukan hanya pemisah, tetapi penghubung bagi peradaban-peradaban besar.
Di abad ke-16, Aceh kekuatan maritim yang disegani. Ia berdiri sebagai benteng Islam dan jalur perdagangan utama yang menghubungkan Timur dan Barat.