Jeffrey Epstein Sudah Mati, Tapi Mitos Adrenochrome yang Memanen Darah Anak Terus Hidup

ORBITINDONESIA.COM - Nama Jeffrey Epstein mungkin sudah berakhir di sel penjara Manhattan pada 2019. Namun di ruang-ruang digital, ia justru terus “hidup” — bukan sekadar sebagai pelaku kejahatan seksual terhadap anak, tetapi sebagai simbol utama dalam salah satu teori konspirasi paling ekstrem abad ini.

Di jagat QAnon, Epstein bukan hanya seorang finansier bejat. Ia dijadikan pintu masuk menuju narasi yang jauh lebih gelap: elite global yang memanen adrenochrome dari darah anak-anak demi mempertahankan kekuasaan dan keremajaan.

Bagaimana kisah ini bisa tumbuh begitu besar?

Kasus Epstein sendiri memang nyata. Ia dituduh mengelola jaringan eksploitasi seksual terhadap anak di bawah umur. Ia memiliki jet pribadi, pulau eksklusif di Karibia, serta jaringan pertemanan yang menyentuh politisi, pebisnis, hingga tokoh publik kelas dunia. Dokumen pengadilan dan kesaksian korban menjadi fakta hukum yang tak terbantahkan.

Namun, dari sinilah batas antara fakta dan fantasi mulai kabur.

Ketika Epstein meninggal di penjara—secara resmi dinyatakan bunuh diri—ruang spekulasi terbuka lebar. Banyak orang meragukan versi resmi. Kecurigaan publik terhadap elite politik dan ekonomi yang selama ini dianggap kebal hukum semakin menguat. Dalam atmosfer ketidakpercayaan itu, QAnon menemukan momentumnya.

Gerakan konspirasi ini, yang muncul di forum-forum internet sekitar 2017, mempromosikan keyakinan bahwa dunia dikendalikan oleh “cabal” elite global yang menjalankan jaringan pedofilia rahasia. Epstein dianggap sebagai bukti nyata bahwa jaringan semacam itu memang ada. Dari sana, narasi berkembang lebih jauh: bukan hanya eksploitasi seksual, tetapi ritual satanik dan praktik pemanenan adrenochrome.

Padahal secara ilmiah, adrenochrome hanyalah senyawa hasil oksidasi adrenalin. Zat ini bisa diproduksi secara sintetis di laboratorium. Tidak ada bukti medis yang menunjukkan bahwa adrenochrome memberi efek awet muda, apalagi bahwa ia diekstraksi dari anak-anak yang disiksa. Gambaran tentang zat ini lebih banyak dipopulerkan oleh karya fiksi seperti Fear and Loathing in Las Vegas, yang kemudian diambil secara harfiah oleh komunitas konspirasi.

Lalu mengapa cerita ini tetap memikat jutaan orang?

Jawabannya bukan semata soal logika, tetapi soal emosi. Dunia modern terasa kompleks, timpang, dan sering kali tidak adil. Ketika muncul kasus nyata seperti Epstein—seorang kaya raya dengan koneksi global yang lolos dari jerat hukum selama bertahun-tahun—kemarahan publik mencari saluran. Teori konspirasi menawarkan kerangka yang sederhana: ada musuh besar, ada kejahatan tersembunyi, ada rahasia yang sengaja ditutup-tutupi.

Di era algoritma media sosial, narasi yang paling mengejutkan dan mengerikan justru paling cepat menyebar. Cerita tentang elite peminum darah jauh lebih viral dibanding laporan forensik yang kering dan prosedural. Fakta yang valid bercampur dengan spekulasi, lalu dilapisi imajinasi kolektif hingga membentuk mitologi digital.

Ironisnya, teori ini justru mengaburkan fokus pada kejahatan nyata perdagangan manusia dan eksploitasi anak yang memang membutuhkan perhatian serius. Energi publik tersedot ke cerita-cerita sensasional, sementara kerja-kerja konkret pencegahan dan reformasi sistem sering terpinggirkan.

Jeffrey Epstein memang sudah mati. Tetapi dalam lanskap informasi global, ia telah berubah menjadi simbol—diperebutkan antara fakta hukum, trauma kolektif, dan fantasi politik. Mitos adrenochrome menunjukkan bagaimana di abad ke-21, batas antara dokumen pengadilan dan legenda urban bisa runtuh hanya dalam hitungan klik.

Tantangan ke depan bukan hanya membongkar kejahatan nyata, tetapi juga membangun ketahanan publik terhadap distorsi informasi. Sebab dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, perang bukan lagi hanya soal kekuasaan fisik, melainkan juga soal siapa yang berhasil menguasai narasi.

Dan dalam perang narasi itu, kebenaran sering kali bukan pihak yang paling keras suaranya.***