Mengangkat Talenta Difabel: Wajah Inklusif di Matahari Department Store
“Busana menjadi simbol penerimaan. Etalase menjadi ruang keberagaman. Toko bukan lagi sekadar tempat transaksi, melainkan ruang perjumpaan nilai.”
Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan oleh video dua gadis kembar penyandang disabilitas tunarungu asal Bandung, Hasna Alifah Salsabila dan Hasni Alifah Salsabila. Dalam unggahan yang kemudian viral itu, keduanya membagikan kabar bahagia karena diterima bekerja di gerai Matahari Department Store.
Dengan bahasa isyarat dan senyum yang tak henti merekah, mereka menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang datang. Momen sederhana itu terasa begitu tulus, sebuah kebanggaan karena dipercaya dan diberi ruang untuk membuktikan kemampuan.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya kabar rekrutmen biasa. Tetapi bagi komunitas difabel dan keluarga mereka, itu adalah penanda bahwa pintu yang selama ini terasa berat, perlahan bisa didorong.
Data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia masih jauh dari ideal. Banyak yang terkendala akses, stigma, hingga kurangnya kesempatan yang setara. Karena itu, ketika perusahaan ritel besar membuka ruang kerja inklusif, dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan psikologis.
Matahari, sebagai salah satu jaringan ritel fashion terbesar di Indonesia, memiliki posisi strategis. Setiap kebijakan perekrutan bukan sekadar keputusan internal perusahaan, melainkan juga pesan publik. Ketika pegawai difabel hadir di lini pelayanan, di balik kasir, atau di bagian penataan produk, yang terlihat bukan “keterbatasan”, melainkan profesionalisme.
Di Matahari Department Store, inklusi tidak tampil sebagai slogan. Ia hadir dalam bentuk interaksi sehari-hari: bahasa isyarat yang dipelajari rekan kerja, komunikasi tertulis yang menjadi jembatan, serta saling pengertian yang tumbuh dari kebiasaan.
Bagi pelanggan, pengalaman berbelanja tetap berjalan nyaman. Bahkan bagi sebagian, justru terasa lebih hangat karena ada kesadaran bahwa setiap transaksi bukan hanya soal membeli pakaian baru, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem kerja yang lebih adil.
Di sisi lain, Matahari tetap konsisten menghadirkan koleksi fashion yang relevan dengan selera pasar. Menjelang Lebaran 2026, tren bergerak pada perpaduan antara kenyamanan dan estetika yang bersih.
Warna-warna lembut dan netral seperti sage green, cream, dusty pink, butter yellow, hingga warm beige mendominasi etalase. Siluet longgar dan modest hadir melalui gamis yang flowy, tunik dengan detail minimalis, serta setelan dua potong yang fleksibel untuk berbagai suasana silaturahmi.
Koleksi pria pun bergerak ke arah yang lebih sederhana namun elegan. Koko modern dengan potongan bersih dan warna earth tone memberi kesan dewasa tanpa berlebihan. Untuk anak-anak, desain yang lebih ringan dan ceria tetap mempertahankan kesantunan, menjadikannya pilihan banyak keluarga muda yang ingin tampil serasi saat hari raya.
Ada ironi yang pelan-pelan dipatahkan di sini. Dunia fashion kerap dianggap hanya bicara penampilan luar. Namun ketika ruang ritel membuka kesempatan kerja yang setara, maknanya bergeser. Industri ini tidak lagi hanya tentang tren dan tampilan, tetapi juga tentang nilai yang dihidupkan melalui kebijakan nyata.
Dua gadis tunarungu yang viral itu mungkin hanya sebagian kecil dari kebijakan inklusif yang lebih luas. Namun kisah mereka cukup untuk mengingatkan bahwa representasi itu penting. Melihat seseorang yang selama ini terpinggirkan kini berdiri percaya diri di ruang publik, melayani pelanggan dengan profesional, adalah pesan yang jauh melampaui tren musiman.
Lebaran selalu dimaknai sebagai kemenangan setelah sebulan berlatih menahan diri. Tetapi kemenangan tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan dramatis. Kadang ia hadir dalam keputusan sederhana untuk memberi kesempatan yang setara.
Saat pelanggan memilih gamis atau setelan koko untuk hari raya, mungkin mereka tak selalu menyadari cerita di baliknya. Namun nilai itu tetap hidup dalam sistem kerja yang lebih inklusif, dalam ruang yang lebih ramah, dan dalam senyum pegawai yang bekerja dengan penuh kebanggaan.
Di tengah persaingan industri ritel yang ketat, langkah seperti ini menjadi pembeda. Bukan hanya soal koleksi terbaru, tetapi tentang bagaimana sebuah brand memposisikan diri di tengah isu sosial yang nyata. Dan mungkin, di antara rak-rak busana Lebaran tahun ini, yang paling indah bukanlah warna atau modelnya, melainkan keberanian untuk memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berdiri, bekerja, dan bermimpi.