Angkatan Udara AS Resmi Mengubah Armada Pesawat Angkutnya Menjadi Pesawat Pembom Sementara
ORBITINDONESIA.COM - Angkatan Udara AS secara resmi mengubah armada pesawat angkutnya menjadi pesawat pembom sementara. Dalam langkah besar untuk memperluas opsi serangan jarak jauhnya, militer telah menetapkan target tahun 2027 untuk mengerahkan rudal jelajah yang diluncurkan dari kargo.
Inisiatif ini, yang baru-baru ini diformalkan sebagai program resmi bernama Dragon Cart, akan memungkinkan pesawat angkut standar seperti C-130 Hercules dan C-17 Globemaster untuk meluncurkan sejumlah besar rudal tanpa modifikasi permanen pada pesawat.
Perkembangan ini, yang diumumkan pada awal Mei 2026, menandai pergeseran dalam cara Angkatan Udara berencana untuk menangani konflik skala besar, khususnya di wilayah Indo-Pasifik yang luas.
Dari Kargo ke Pertempuran
Konsep di balik Dragon Cart sangat sederhana. Alih-alih memuat rudal ke sayap atau ruang internal pesawat pembom tradisional, senjata ditempatkan di atas palet kayu atau logam khusus. Palet ini kemudian digulirkan ke bagian belakang pesawat kargo seperti halnya pasokan standar.
Setelah pesawat berada di posisi yang tepat, palet dijatuhkan dari landasan kargo belakang. Parasut dikerahkan untuk menstabilkan palet di udara. Saat melayang ke bawah, rudal jelajah dilepaskan satu per satu.
Mesinnya menyala, dan rudal-rudal itu terbang menuju targetnya yang berjarak ratusan mil jauhnya. Sistem amunisi palet ini secara efektif mengubah pesawat pendukung menjadi platform serangan mematikan dalam hitungan menit.
Memecahkan Permainan Angka
Salah satu alasan utama dorongan ini adalah masalah matematika sederhana. Angkatan Udara AS memiliki jumlah pembom khusus yang relatif kecil, seperti B-52 dan B-21 yang baru. Namun, mereka mengoperasikan ratusan pesawat kargo.
Dengan memberikan kemampuan kepada pesawat angkut ini untuk meluncurkan rudal, Angkatan Udara tiba-tiba dapat meningkatkan "kedalaman magasin" mereka, jumlah total rudal yang dapat mereka tembakkan sekaligus.
Dalam konflik intensitas tinggi, pertahanan udara musuh dapat kewalahan oleh salvo besar ancaman yang datang. Dragon Cart memungkinkan militer untuk menciptakan "gerombolan" rudal jarak jauh ini tanpa perlu membangun lusinan pembom baru yang mahal. Hal ini menjadikannya cara yang terjangkau untuk tetap unggul dari sistem pertahanan modern yang canggih.
Fleksibilitas dan Ambiguitas
Para pemimpin militer sering berbicara tentang "ambiguitas operasional," yang merupakan cara mewah untuk mengatakan bahwa mereka ingin membuat musuh terus menebak-nebak. Karena C-130 yang membawa makanan penyelamat nyawa terlihat persis seperti C-130 yang membawa palet rudal jelajah, lawan tidak dapat dengan mudah mengetahui pesawat mana yang merupakan ancaman.
Hal ini menciptakan masalah pertahanan utama bagi musuh mana pun. Mereka harus memutuskan apakah akan mengabaikan pesawat kargo, mempertaruhkan serangan rudal, atau menggunakan rudal pencegat yang mahal untuk menembaknya jatuh, berpotensi membuang senjata berharga pada pesawat non-tempur.
Ketidakpastian ini merupakan bagian kunci dari strategi "Penggunaan Tempur yang Lincah" AS, yang menekankan pergerakan unit-unit kecil dan tidak terduga di sekitar medan perang.
Jalan Menuju 2027
Meskipun teknologi ini telah diuji sejak 2019 dengan nama Rapid Dragon, pengumuman tahun 2026 menegaskan bahwa ini sekarang menjadi prioritas resmi. Pusat Manajemen Siklus Hidup Angkatan Udara saat ini sedang memberikan kontrak untuk rudal-rudal spesifik yang akan digunakan dalam sistem Dragon Cart.
Senjata-senjata baru ini merupakan bagian dari Keluarga Amunisi Massal Terjangkau, atau FAMM. Senjata-senjata ini dirancang agar lebih murah daripada rudal jelajah tradisional, memungkinkan militer untuk membeli ribuan rudal sekaligus. Tujuannya adalah agar unit-unit pertama dilatih dan dilengkapi dengan kemampuan serangan palet ini pada akhir tahun 2027.
Transisi dari proyek penelitian ke program resmi merupakan tonggak penting. Ini menunjukkan bahwa Angkatan Udara tidak lagi hanya bereksperimen dengan "pembom kargo" tetapi siap untuk menjadikannya bagian permanen dari armada.
Penyebaran sistem Dragon Cart pada tahun 2027 akan memberi Angkatan Udara AS cara yang cepat dan berbiaya rendah untuk mengubah armada transportasinya yang besar menjadi kekuatan serang jarak jauh yang ampuh, yang akan mempersulit pertahanan musuh di seluruh dunia.
(Sumber: The Military Channel) ***