Doni El Malik: Beda Tanah untuk Akar yang Sama
Oleh Doni El Malik, tenaga pendidik di Bangka Selatan.
ORBITINDONESIA.COM - Ada masa ketika langkah menuju ruang kelas terasa seperti menjejak lantai yang dingin. Bukan karena lantainya yang salah, melainkan karena sepatu kita seolah tak lagi dianggap perlu menginjaknya.
Semua orang hadir, tetapi sapaan hanya berhenti di bibir, tak pernah benar-benar turun ke hati. Papan tulis kupenuhi warna dan penjelasan, namun yang memantul di wajah-wajah itu hanya bayangan kosong. Rasanya seperti berbicara kepada cermin retak—yang terlihat hanya diri sendiri, bukan mereka yang sedang mendengar.
Pernah kusimpan satu pertanyaan di lipatan sajadah:
“Apakah pelita ini memang tak lagi dibutuhkan, atau cahayanya yang tak lagi dicari?”
Aku tak menunggu jawaban turun dari langit. Aku memilih tetap menyalakan pelita itu, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku menulis, merancang, dan mengajar. Bukan karena ingin dilihat, melainkan karena aku tahu api kecil itu akan padam jika tak dijaga.
Kubimbing dua anak yang matanya masih mau menerima cahaya. Kubawa mereka ke gelanggang perlombaan. Dan ketika piala itu akhirnya pulang, tak ada arak-arakan atau tepuk tangan panjang. Hanya tiga pasang tangan dan satu senyum tulus di lorong sekolah.
Namun justru karena sunyi, maknanya terasa begitu jernih. Seperti tetes air pertama yang jatuh ke tempayan kosong.
Dari sana aku belajar, bertahan bukan berarti terus mengetuk pintu yang telah dikunci dari dalam. Bertahan adalah memastikan sumur dalam diri tetap berair, agar saat perjalanan menjadi panjang, kita tak mati kehausan di tengah jalan.
Ketika tanah di seberang sana mengirim kabar bahwa mereka membutuhkan penanam, aku pun mengemasi cangkul dan biji-biji yang selama ini kusemai dalam kesunyian. Kutinggalkan ruang lama dengan bangku-bangku yang rapi dan kapur yang tak berserakan.
Aku pergi bukan karena membenci tanah yang lama, melainkan karena memahami satu hal:
pohon yang sama terkadang harus berpindah tempat agar bisa tumbuh dan berbuah.
Di tanah yang baru, aku tak banyak bercerita tentang musim yang telah lewat. Aku hanya membuka lubang-lubang baru, menanam benih yang sama, dengan doa yang masih sama:
semoga kali ini hujan turun pada waktunya.
Menata hati rupanya seperti melipat pakaian lama yang tak lagi muat. Bukan untuk dibuang, melainkan disimpan baik-baik sebagai pengingat bahwa diri kita pernah bertumbuh.
Dan kadang-kadang, mengalah bukan berarti lemah.
Sebab akar pun tahu, ia berhak mencari air yang lebih jernih. ***