Elza Peldi Taher: Sumari, Anak Kucing, dan Sebuah Pelajaran Kecil tentang Kemanusiaan

Oleh Elza Peldi Taher, penulis SATUPENA

ORBITINDONESIA.COM - Senin siang 11 Mei 2026, jalan tol menuju Rawamangun tampak seperti biasa: padat, panas, dan tergesa. Mobil-mobil meluncur cepat di atas beton yang melayang di udara, seolah semua orang sedang dikejar sesuatu. Di kota besar seperti Jakarta, jalan tol bukan tempat untuk berhenti. Apa lagi untuk memikirkan seekor anak kucing.

Namun siang itu saya menyaksikan sesuatu yang membuat saya diam sejenak.

Di atas tol lantai dua, menjelang turun dari arah Cawang menuju Rawamangun, saya melihat sebuah mobil polisi berhenti. Di depannya, seorang polisi berjalan membungkuk. Karena penasaran, saya memperlambat kendaraan. Ternyata polisi itu sedang menggiring seekor anak kucing kecil yang tampaknya tersesat di tengah jalan tol.

Anak kucing itu tampak ketakutan. Sesekali ia bergerak ke arah tengah jalan. Polisi itu buru-buru menghalangi agar ia tidak tertabrak kendaraan. Dengan sabar ia mendekat sedikit demi sedikit, seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anak kecil yang panik.

Pemandangan itu terasa aneh sekaligus menyentuh.

Di tempat yang identik dengan kecepatan, klakson, dan ketergesaan, ada seseorang yang rela berhenti demi menyelamatkan seekor makhluk kecil yang bahkan mungkin tak dianggap penting oleh banyak orang.

Barangkali karena itulah pemandangan itu terasa begitu menyentuh. Polisi, dalam bayangan banyak orang, identik dengan ketegasan, kekuasaan, razia, dan wajah aparat yang sering membuat orang tegang. Tetapi siang itu saya melihat sisi lain: seorang polisi yang membungkuk demi menyelamatkan seekor anak kucing yang tak punya suara.

Saya lalu memilih berhenti di depan mobil polisi itu. Kondisi jalan sedang agak macet sehingga masih memungkinkan untuk berhenti sesaat. Tak lama kemudian polisi itu datang menghampiri saya sambil menggendong anak kucing yang sudah berhasil ia tangkap.

“Sudah saya tangkap, Pak. Kasihan saya melihatnya,” katanya singkat.
Kalimat itu sederhana. Tapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa tulus.
Polisi itu bernama Sumari, seperti tertulis dalam baju seragamnya.

Saya kemudian meminta izin memotretnya. Dalam foto itu, Sumari tampak memegang anak kucing kecil dengan wajah tenang. Jalan tol yang keras dan bising mendadak seperti kehilangan wajah garangnya. Yang tersisa hanya seorang manusia dan seekor makhluk kecil yang baru saja diselamatkan.

Ia tidak bergaya seperti pahlawan. Tidak pula tampak merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Padahal bagi saya, yang ia lakukan sangat berarti.
Sebab kebaikan sejati sering memang hadir dalam bentuk yang kecil dan sunyi.

Ia tidak sedang membuat pertunjukan. Tidak pula sedang mencari perhatian media sosial. Ia hanya merasa iba melihat seekor anak kucing yang bisa mati kapan saja di tengah derasnya kendaraan. Dan rasa iba itu cukup untuk membuatnya turun dari mobil, membungkuk di jalan tol, lalu mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi menyelamatkan seekor hewan kecil.

Mungkin kemanusiaan memang selalu dimulai dari kesediaan untuk membungkuk. Membungkuk bukan karena kalah, tetapi karena hati masih memiliki belas kasih.

Kejadian itu berlangsung cepat. Mungkin tak sampai dua menit. Tapi ia meninggalkan kesan yang panjang dalam ingatan saya.

Di tengah begitu banyak berita tentang kekerasan, kemarahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan wajah aparat yang sering terasa menakutkan, tiba-tiba muncul satu pemandangan kecil yang memulihkan harapan: ada polisi yang berhati lembut.

Dan sering kali, ukuran kemanusiaan seseorang justru terlihat dari caranya memperlakukan makhluk yang lemah.

Orang yang kasar kepada hewan kecil biasanya juga mudah kehilangan empati kepada manusia. Sebaliknya, orang yang masih mau berhenti demi menyelamatkan seekor anak kucing, biasanya masih memiliki ruang kasih yang luas di dalam hatinya.

Karena itu saya diam-diam berharap, semoga orang-orang seperti Sumari mendapat tempat yang baik dalam institusi kepolisian. Sebab sebuah institusi besar bukan hanya dibangun oleh aturan dan kekuasaan, tetapi juga oleh manusia-manusia yang masih memiliki hati.

Saya sungguh tak tahu siapa Sumari sebenarnya. Dari mana asalnya, bagaimana kehidupannya, atau sudah berapa lama ia menjadi polisi. Saya hanya bertemu dengannya mungkin tak sampai dua menit di atas jalan tol yang bising itu.

Tetapi kadang manusia memang dikenang bukan karena lamanya pertemuan, melainkan karena kebaikan kecil yang sempat ia tunjukkan.

Saya berharap suatu hari bisa bertemu lagi dengannya. Semoga ia tetap menjadi polisi yang memiliki nurani. Polisi yang tak kehilangan rasa iba di tengah kerasnya kehidupan kota dan kerasnya dunia pekerjaan yang ia jalani.
Polisi yang tak kehilangan rasa iba di tengah kerasnya kehidupan kota dan kerasnya dunia pekerjaan yang ia jalani.
Dunia mungkin tak berubah hanya karena seekor anak kucing diselamatkan di atas jalan tol. Tapi selama masih ada orang seperti Sumari, kita tahu: belas kasih belum benar-benar mati di negeri ini

Rawamangun 11 Mei 2026

Elza Peldi Taher ***