Merawat Kepedulian melalui Donasi Barang Layak Pakai dan Ekoteologi
Oleh : Lilis Ernawati
Sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus dosen di Institut Muhammadiyah Darul Arqam (IMDA) Garut, keseharian saya tidak hanya berlangsung di ruang domestik dan ruang kelas. Di sela-sela aktivitas tersebut, saya menjalani sebuah ikhtiar sosial yang berangkat dari kegelisahan sederhana: bagaimana merawat barang-barang layak pakai agar tetap bernilai guna dan tidak berakhir sebagai sampah.
Kegelisahan itu muncul dari pengalaman pribadi. Di rumah, saya mendapati banyak barang—terutama pakaian—yang sudah tidak terpakai. Bukan karena rusak, melainkan karena kekecilan atau jarang digunakan. Di satu sisi, saya ingin memberikannya kepada orang lain. Namun di sisi lain, ada rasa sungkan dan khawatir salah sasaran, bahkan takut dianggap menghina. Jika dibuang atau dijadikan lap, rasanya terlalu sayang, karena barang-barang tersebut masih sangat layak digunakan.
Dari kegelisahan tersebut, saya bersama beberapa teman sempat berembuk dan membentuk sebuah perkumpulan kecil yang menerima dan menyalurkan donasi barang bekas layak pakai. Namun keterbatasan dana operasional membuat satu per satu rekan mengundurkan diri. Hingga dua tahun terakhir, aktivitas ini hanya dijalankan oleh kami bertiga: saya sendiri, Pak Mahmud, dan Pak Toni.
Kami berjalan dengan cara yang sangat sederhana. Siapa yang sempat dan siapa yang mampu, dialah yang bergerak—baik untuk mengambil barang dari rumah donatur maupun mengantarkannya ke lokasi bencana dan warga yang membutuhkan. Jika di lokasi bencana barang belum diambil oleh warga, kami tidak meninggalkannya, melainkan mengantarkan langsung agar benar-benar sampai ke tangan yang memerlukan.
Sebagai dosen, saya juga kerap melibatkan mahasiswa dalam aktivitas ini. Saya mengajak mereka berdonasi, khususnya pakaian layak pakai. Biasanya, mahasiswa mengumpulkan barang donasi di mess DKM kampus. Setelah selesai mengajar, saya mengangkutnya sendiri menggunakan sepeda motor saat perjalanan pulang.
Keterbatasan sarana menjadi tantangan utama. Sepeda motor yang saya gunakan sering kali harus berbagi fungsi dengan kebutuhan pribadi. Sementara Pak Mahmud—yang justru memiliki waktu paling banyak dan dikenal paling rajin—tidak memiliki kendaraan yang layak untuk mengangkut barang. Motornya hanya cukup untuk mobilitas ringan dan tidak memungkinkan membawa muatan.
Dalam kondisi tertentu, jika jumlah barang cukup banyak, seorang rekan bernama Pak Imat membantu mengangkut menggunakan mobil pribadinya. Di waktu lain, beberapa warga dengan kesadaran sendiri mengantarkan donasi langsung ke rumah saya.
Di tengah aktivitas sosial tersebut, saya juga menjalankan proses pengkaderan mahasiswa melalui kelas healing berbasis ekoteologi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendampingan dan berbagi pengetahuan dari LSM Libas Garut, para pemerhati lingkungan,LH serta Kelompok Pancaniti. Alhamdulillah, mereka bersedia terlibat dan berbagi ilmu secara sukarela.
Ekoteologi—yang saat ini juga menjadi semangat yang didorong oleh Kementerian Agama dan pemerintah—kami terjemahkan sebagai praktik nyata di lapangan. Mahasiswa tidak hanya belajar menanam dan merawat tanaman, tetapi juga mengolah sampah, membuat obat dari bahan alami, serta beternak unggas dan ikan. Semua proses tersebut dirancang sebagai pembelajaran hidup yang terintegrasi antara iman, ekologi, dan keadilan sosial.
Ke depan, setelah mahasiswa cukup menyerap pengetahuan dan keterampilan, kami merencanakan langkah lanjutan yang lebih konkret, yakni turun ke masyarakat dengan menjadikan satu RW sebagai RW percontohan. RW ini diharapkan menjadi RW hijau yang mampu memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus perekonomian warga. Salah satu rencana yang sedang disiapkan adalah memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami tanaman produktif seperti jeruk purut, serta membangun sistem pengelolaan sampah berbasis warga.
Masalah sampah menjadi perhatian serius. Kami berharap sampah rumah tangga tidak lagi sepenuhnya dibuang ke TPA, melainkan dapat diolah dan didaur ulang di tingkat RW, sehingga bernilai guna dan tidak mencemari lingkungan. Pendekatan ini kami yakini dapat mengurangi risiko banjir dan longsor, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga alam.
Namun, sebagaimana kegiatan donasi, praktik ekoteologi di lapangan pun tidak lepas dari persoalan pembiayaan. Meski saya telah dinyatakan lulus mengikuti pelatihan ekoteologi di Jakarta, hingga kini belum ada dukungan lanjutan bagi para peserta pelatihan untuk mengimplementasikan program di daerah masing-masing. Akibatnya, seluruh kegiatan masih dijalankan secara mandiri.
Ketika mahasiswa berkegiatan di lapangan dan membutuhkan konsumsi sederhana, saya kembali harus bersiap sendiri. Hal ini tidak mudah, mengingat sebagian besar mahasiswa di kampus kami berasal dari keluarga menengah ke bawah. Justru karena latar belakang itulah, kegiatan ini menjadi penting. Keterampilan menanam, mengolah sampah, dan beternak kami harapkan dapat menjadi bekal ekonomi, agar mahasiswa dan masyarakat tidak terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan praktik utang yang membebani.
Ada satu hal yang kerap mengguncang batin saya. Saat berada di lokasi bencana, tidak jarang warga menyampaikan bahwa yang paling mereka butuhkan adalah uang. Di titik itu, saya sering merasa terpukul—bukan karena tidak peduli, tetapi karena kemampuan saya untuk membantu secara finansial memang sangat terbatas.
Namun saya tetap meyakini bahwa setiap bentuk kebaikan memiliki arti. Barang-barang layak pakai, pengetahuan mengolah sampah, keterampilan merawat alam, serta solidaritas sederhana adalah bagian dari ikhtiar menjaga martabat manusia dan keberlanjutan kehidupan.
Saya menyimpan banyak mimpi. Semoga Allah memberikan jalan dan kemudahan, agar ikhtiar kecil ini terus tumbuh dan memberi manfaat lebih luas—bagi manusia, lingkungan, dan generasi yang akan datang.
Namun saya tetap meyakini bahwa setiap bentuk kebaikan memiliki arti. Barang-barang layak pakai, pengetahuan menanam, keterampilan merawat alam, dan solidaritas sederhana adalah bagian dari upaya menjaga martabat manusia dan keberlanjutan kehidupan.
Saya menyimpan banyak mimpi. Semoga Allah memberikan jalan dan kemudahan, agar ikhtiar kecil ini terus tumbuh dan memberi manfaat lebih luas—bagi manusia, lingkungan, dan generasi yang akan datang.