Catatan Denny JA: Peta Jalan Agama di Zaman Artificial Intelligence
- Penulis : Krista Riyanto
- Rabu, 19 Maret 2025 12:45 WIB

Lalu, dari tafsir yang bertentangan:
• Yang konservatif berkata, “Ketaatanlah yang memberi makna.”
• Yang liberal berbisik, “Ciptakan sendiri maknamu, bebas dari dogma.”
Baca Juga: Catatan Denny JA: Agama yang Berdampingan dengan Positive Psychology dan Neuroscience
Pemuda itu terdiam. Dalam genggamannya, ada dunia. Ia bisa memilih jalannya, atau tersesat dalam lautan jawaban.
Ia pun sadar—AI bisa memberinya semua jawaban, tetapi makna tetap harus ia temukan sendiri. Tapi itu lebih baik dibanding jika ia hanya diberi satu tafsir saja oleh ulama, pendeta atau biksu.
-000-
Baca Juga: Catatan Denny JA: Menurunnya Peran Ulama, Pendeta, dan Biksu di Era Artificial Intelligence
Spiritualitas akan semakin bersifat personal, berbasis pencarian mandiri. Hari raya agama akan menjadi warisan budaya bersama.
Tafsir agama yang sesuai dengan HAM akan bertahan, sementara yang menindas akan memudar.
Jika Darwin menunjukkan bahwa spesies yang bertahan bukan yang terkuat, tetapi yang paling mampu beradaptasi, hal yang sama berlaku untuk tafsir agama.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Kita Bersama
Di era AI, agama yang bertahan bukanlah yang paling dogmatis, tetapi yang paling mampu berkembang bersama zaman.