DECEMBER 9, 2022
Buku

Pengantar Denny JA Untuk Buku 10 Prinsip Spiritual yang Universal dari Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Kita Bersama

image
(OrbitIndonesia/kiriman)

ORBITINDONESIA.COM - Elise Bertrand belum pernah menangis dalam keheningan. Mahasiswi filsafat dari Prancis itu lahir di tengah keluarga sekuler yang menjunjung akal, sastra, dan hak asasi manusia.

Ia tumbuh dengan Descartes dan Simone Weil di rak bukunya. Gereja hanyalah bangunan tua yang dilewati di jalan pulang. Tuhan adalah kata yang penuh beban.

Namun pada suatu musim semi di Universitas Michigan, Élise duduk bersila dalam ruangan klub meditasi. Ia datang bukan karena keinginan spiritual. Ia datang karena lelah.

Baca Juga: Menulis Ulang Perjuangan Perempuan dalam Sastra: Pengantar Dari Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Gunawan Trihantoro

Ibunya baru saja divonis kanker stadium akhir. Hidup tiba-tiba tak bisa dikendalikan. Buku-buku yang dulu memberinya keteguhan kini menjadi suara tanpa gema.

“Aku datang hanya untuk duduk,” katanya pelan kepada mentor klub. “Aku tidak ingin dijelaskan. Aku ingin merasa.”

Malam itu, tak ada ceramah. Tak ada dogma. Hanya diam.
Dan dalam diam itu, Élise menangis. Tanpa tahu kenapa.

Baca Juga: Inilah Pengantar dari Denny JA Untuk Buku Culture and Politics in Sumatra and Beyond

Tapi air mata itu menjadi awal dari sesuatu.
Bukan pertobatan. Bukan konversi. Tapi sebuah keterbukaan.
Jendela yang dibuka dari dalam.

Esai ini lahir dari ruang seperti itu.
Bukan ruang gereja, masjid, atau vihara.
Tapi ruang dalam jiwa di mana semua manusia bertemu sebagai manusia.

Buku ini bukan tentang satu agama. Ia adalah samudra.
Tempat semua sungai bermuara.

Baca Juga: Merekam Sejarah yang Luka Dalam Sastra: Pengantar Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Yang Menggigil Dalam Arus Sejarah

-000-

Halaman:

Berita Terkait