Menulis Ulang Perjuangan Perempuan dalam Sastra: Pengantar Dari Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Gunawan Trihantoro
- Penulis : Krista Riyanto
- Kamis, 27 Februari 2025 05:56 WIB

Keyakinan mendalam terhadap tujuan dan misi mereka memberikan keberanian untuk menentang norma-norma yang ada.
Joan of Arc, misalnya, meyakini bahwa ia dipandu oleh suara ilahi untuk membebaskan Prancis dari penjajahan Inggris. Keyakinan ini memberinya kekuatan untuk menghadapi risiko dan tantangan yang luar biasa, termasuk penolakan dan pengkhianatan dari rekan-rekannya sendiri.
Demikian pula, Malahayati, sebagai laksamana perempuan pertama di dunia, menunjukkan dedikasi dan komitmen yang tak tergoyahkan dalam mempertahankan kedaulatan negerinya.
Visi dan keyakinan pribadi ini menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan mereka untuk melampaui batasan-batasan yang ditetapkan oleh budaya patriarkal.
Kedua: Kompetensi dan Keberanian yang Tak Terbantahkan
Kemampuan strategis dan keberanian yang ditunjukkan oleh Malahayati dan Joan of Arc membuktikan kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh kompetensi dan karakter.
Joan of Arc memimpin pasukan Prancis meraih kemenangan penting dalam Perang Seratus Tahun, sementara Malahayati berhasil memimpin armada laut .
Aceh melawan penjajah asing. Prestasi-prestasi ini memaksa masyarakat patriarkal untuk mengakui kemampuan mereka, meskipun bertentangan dengan norma-norma gender yang berlaku.
Keberanian mereka di medan perang dan kecakapan dalam strategi militer menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama. Sama hebat dan sama lemahnya untuk memimpin dan berprestasi dalam bidang yang tradisionalnya didominasi oleh laki-laki.
Ketiga: Dukungan dan Pengakuan dari Lingkungan Terdekat