DECEMBER 9, 2022
Kolom

Menulis Ulang Perjuangan Perempuan dalam Sastra: Pengantar Dari Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Gunawan Trihantoro

image
(OrbitIndonesia/kiriman)

ORBITINDONESIA.COM - “Sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta kekuasaan. Kadang, ia lahir dari luka, air mata, dan keberanian perempuan yang melawan arus zaman.”

Di abad ke-16, ketika dunia masih mengukir nasib perempuan terkurung di dalam rumah, seorang wanita berdiri tegak di geladak kapal. Ia menggenggam rencong, dan menantang angin lautan yang ganas. 

Ia bukan hanya legenda, tetapi kenyataan yang menampar wajah sejarah. Namanya Malahayati, dan ia adalah laksamana perempuan pertama di dunia. 

Ia bukan dari Inggris atau Portugis atau Amerika Serikat. Ia orang Aceh.

Bagaimana mungkin, dalam abad yang keras bagi perempuan, ia mencapai posisi yang bahkan jarang diberikan kepada pria biasa? Jawabannya tersembunyi di gelombang ombak yang membentuk Aceh.

Rencong ini bukan sekadar senjata,” katanya,
“Ini adalah suara tanah yang enggan diam.”

(Malahayati: Rencong di Tangan Perempuan, Gunawan Triahantoro, 2025)

Demikianlah tokoh Malahayati kita baca kembali dalam puisi esai karangan Gunawan Trihantoro.

Aceh bukan sembarang negeri. Ia adalah tanah yang terbakar oleh hasrat maritim. Laut bukan hanya pemisah, tetapi penghubung bagi peradaban-peradaban besar. 

Di abad ke-16, Aceh kekuatan maritim yang disegani. Ia berdiri sebagai benteng Islam dan jalur perdagangan utama yang menghubungkan Timur dan Barat.

Malahayati tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi ilmu dan keberanian. Ia bukan perempuan biasa. Darah  bangsawan mengalir di nadinya. 

Ia putri dari Laksamana Mahmud Syah, seorang panglima angkatan laut Kesultanan Aceh. 

Sejak kecil, ia telah melihat bagaimana kapal-kapal asing datang dengan niat dagang tetapi meninggalkan luka penjajahan.

Di saat perempuan lain diajarkan merenda dan menari di balairung istana, Malahayati belajar membaca arah angin dan menyusun strategi perang. 

Ia dididik di Mahad Baitul Maqdis, akademi militer tertinggi di Aceh, yang melatih panglima-panglima perang terbaik. 

Bakatnya bersinar, dan ketika suaminya, seorang laksamana, gugur di medan laga. Malahayati tidak memilih berkabung di balik tirai. Ia memilih maju mengambil pedang, menggantikan posisi suaminya di garis depan.

Selanjutnya Gunawan menulis:

“Dibakar menjadi api perjuangan. la mendirikan pasukan Inong Balee, 
Janda-janda yang kehilangan pasangan.

Bersama mereka, 
ia membangun benteng, 
Benteng yang tak hanya dari batu, 
Namun dari tekad dan doa.

Di abad 16, ketika perempuan menjadi warga kelas dua, mereka justru dijadikan Malahayati pasukan utama bala tentara.

Ia membentuk pasukan Inong Balee, legiun perempuan yang dipenuhi janda-janda pejuang. Mereka bukan hanya menolak tunduk, tetapi menjadikan luka mereka sebagai bara yang menghanguskan musuh.

-000-

Saya menelusuri dokumen sejarah.  Apa yang membuat Malahayati bukan hanya seorang pemimpin, tetapi seorang ikon? 

Ketika kapal-kapal Belanda pertama kali mengarungi Selat Malaka, banyak yang meremehkan Aceh. Cornelis de Houtman, penjelajah Belanda yang sombong, datang dengan perhitungan bahwa Aceh negeri yang bisa ditundukkan dengan diplomasi berbalut tipu daya. 

Namun ia lupa, Aceh memiliki seorang perempuan yang melihat jauh lebih tajam dari mata seorang penjajah.

Malahayati tidak membuang waktu dengan negosiasi kosong. Ia paham setiap langkah mundur adalah undangan bagi kehancuran. 

Maka, ketika peperangan pecah, ia sendiri yang memimpin armada. Di geladak kapal, rencongnya menembus dada Cornelis de Houtman, mengirim pesan ke seluruh Eropa: Aceh bukan tanah yang bisa dijajah.

Di abad ke-16, tidak ada perempuan yang berani berdiri sejajar dengan armada laki-laki. Tetapi Malahayati melakukannya..

Malahayati tidak hanya berperang dengan pedang, tetapi juga dengan diplomasi dan strategi. Di bawah kepemimpinannya, Aceh membangun pertahanan laut yang kuat. 

Ia menguasai seni perang laut, menyusun siasat dengan kecermatan yang membuat lawan gentar sebelum pertempuran dimulai.

Ia memahami kekuatan Aceh bukan hanya pada senjata, tetapi juga dalam jaringan diplomatiknya. Ia menjaga hubungan dengan Kekaisaran Ottoman, yang saat itu menjadi pusat kekuatan Islam dunia. 

Ketika kekuatan Barat mulai menekan Asia Tenggara, Malahayati memastikan Aceh tidak berdiri sendirian.

Di bawah komandonya, pasukan Inong Balee tidak hanya mengisi celah dalam militer Aceh. Tetapi pasukan ini  menjadi unit yang paling disiplin dan efektif dalam bertempur. 

Ia menolak pandangan perempuan adalah kelemahan. Baginya, perempuan adalah benteng terakhir yang tidak akan runtuh sebelum darah terakhir ditumpahkan.

Seorang pemimpin tidak hanya  diukur dari seberapa banyak pertempuran yang dimenangkan, tetapi dari seberapa banyak hati yang ia gerakkan. 

Malahayati bukan hanya pemimpin militer, tetapi juga pemimpin rakyat. Di masa ketika perempuan jarang mendapat tempat dalam kepemimpinan, Malahayati bukan hanya berdiri di garis depan. Ia juga mengangkat perempuan-perempuan lain untuk berjuang bersamanya. 

Pasukan Inong Balee bukan hanya sekumpulan janda perang, tetapi simbol bahwa kehancuran tidak boleh menjadi akhir. Mereka bangkit, berlatih, dan bertempur sebagai bukti bahwa perempuan adalah penjaga negeri.

Ketika ia berlayar, rakyat Aceh tidak hanya melihatnya sebagai panglima perang, tetapi sebagai ibu yang melindungi mereka. Ia bukan hanya laksamana, ia adalah nyawa yang menjaga kehormatan Aceh tetap utuh.

-000-

Membaca kisah Malahayati dalam puisi esai Gunawan Trihantoro, saya teringat perempuan lain yang sama ajaibnya.

Yaitu Joan of Arc. Tokoh perempuan Ini juga direkam dalam karya sastrawan penerima Nobel Sastra: George Bernard Shaw, “Saint Joan,” (1923). 

Drama ini mengisahkan kehidupan Joan of Arc dan perjalanannya sebagai pemimpin militer serta perannya dalam Perang Seratus Tahun.

Joan of Arc sendiri hidup pada tahun 1412-1431. Ia adalah seorang gadis petani dari Prancis.

Di tengah dominasi budaya patriarkal, ia muncul sebagai pemimpin militer yang visioner dan berani. 

-000-

Dalam sejarah yang didominasi oleh budaya patriarkal, munculnya tokoh-tokoh perempuan seperti Malahayati dan Joan of Arc sebagai pemimpin perang merupakan fenomena yang menggugah pemikiran. 

Keberadaan mereka menantang norma-norma sosial yang membatasi peran perempuan dan menginspirasi generasi berikutnya. 

Berikut adalah tiga alasan yang merenungkan mengapa, meskipun dalam kultur patriarki yang kuat, perempuan-perempuan luar biasa ini mampu menjulang dan memimpin pertempuran:

Pertama: Kekuatan Visi dan Keyakinan Pribadi

Malahayati dan Joan of Arc memiliki visi yang melampaui batasan gender yang dikenakan oleh masyarakat mereka. 

Keyakinan mendalam terhadap tujuan dan misi mereka memberikan keberanian untuk menentang norma-norma yang ada. 

Joan of Arc, misalnya, meyakini bahwa ia dipandu oleh suara ilahi untuk membebaskan Prancis dari penjajahan Inggris. Keyakinan ini memberinya kekuatan untuk menghadapi risiko dan tantangan yang luar biasa, termasuk penolakan dan pengkhianatan dari rekan-rekannya sendiri. 

Demikian pula, Malahayati, sebagai laksamana perempuan pertama di dunia, menunjukkan dedikasi dan komitmen yang tak tergoyahkan dalam mempertahankan kedaulatan negerinya. 

Visi dan keyakinan pribadi ini menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan mereka untuk melampaui batasan-batasan yang ditetapkan oleh budaya patriarkal.

Kedua: Kompetensi dan Keberanian yang Tak Terbantahkan

Kemampuan strategis dan keberanian yang ditunjukkan oleh Malahayati dan Joan of Arc membuktikan kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh kompetensi dan karakter. 

Joan of Arc memimpin pasukan Prancis meraih kemenangan penting dalam Perang Seratus Tahun, sementara Malahayati berhasil memimpin armada laut .

Aceh melawan penjajah asing. Prestasi-prestasi ini memaksa masyarakat patriarkal untuk mengakui kemampuan mereka, meskipun bertentangan dengan norma-norma gender yang berlaku. 

Keberanian mereka di medan perang dan kecakapan dalam strategi militer menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama. Sama hebat dan sama lemahnya untuk memimpin dan berprestasi dalam bidang yang tradisionalnya didominasi oleh laki-laki.

Ketiga: Dukungan dan Pengakuan dari Lingkungan Terdekat

Meskipun beroperasi dalam masyarakat patriarkal, baik Malahayati maupun Joan of Arc menerima dukungan dan pengakuan dari individu-individu kunci di sekitar mereka. 

Joan of Arc, misalnya, berhasil meyakinkan Dauphin Charles VII untuk memberinya komando atas pasukan Prancis, sebuah keputusan yang tidak lazim pada masa itu. 

Dukungan ini menunjukkan bahwa ketika perempuan menunjukkan kompetensi dan determinasi yang kuat, mereka dapat memperoleh kepercayaan dan kesempatan untuk memimpin. Ini terjadi bahkan dalam struktur sosial yang membatasi peran mereka. 

Refleksi atas kehidupan Malahayati dan Joan of Arc mengajarkan kita bahwa visi yang kuat, kompetensi yang nyata, dan dukungan dari lingkungan dapat memungkinkan perempuan untuk melampaui batasan-batasan yang ditetapkan oleh budaya patriarkal. 

Kisah mereka menjadi inspirasi bahwa perubahan dan kemajuan sering kali dimulai dari individu-individu yang berani menentang norma demi kebaikan yang lebih besar.

-000-

Sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta kekuasaan. Kadang, ia lahir dari luka, air mata, dan keberanian perempuan yang melawan arus zaman.“

Demikianlah era pembuka tulisan ini. Jejak Perempuan di Palagan Nusantara” kumpulan puisi esai karya Gunawan Trihantoro sebuah mozaik perjuangan perempuan Indonesia.

Para pejuang itu dihidupkan kembali dalam 15 puisi esai yang sarat dengan narasi kepahlawanan, keteguhan hati, dan renungan mendalam.

Buku ini tidak hanya berbicara tentang perang yang diwarnai darah dan senjata. Tetapi ini juga perang melawan kebodohan, ketidakadilan, dan hegemoni patriarki. 

Malahayati dan Cut Nyak Dien muncul sebagai panglima perang yang menolak tunduk pada penjajahan. 

Nyi Ageng Serang dan Martha Christina Tiahahu menyalakan api perlawanan dalam kebisuan sejarah yang kerap melupakan perempuan sebagai pemimpin. 

Namun, buku ini juga mengangkat perlawanan yang tak bersenjata, Kartini dan Dewi Sartika memperjuangkan pendidikan, Rasuna Said dan Roehana Koeddoes mengguncang masyarakat dengan gagasan, dan Fatmawati merajut kemerdekaan dengan tangannya sendiri.

Buku ini menampilkan keragaman topik, dari perjuangan fisik di medan tempur hingga pertarungan ide dalam pena dan pendidikan. 

Ia menunjukkan perjuangan tidak memiliki satu wajah. Ia berwujud dalam keberanian melawan penjajah, keberanian menolak norma yang mengekang, hingga keberanian mengubah masa depan.

Pelajaran utama dari buku ini sejarah  tidak hanya milik laki-laki. Perempuan selalu mampu menjadi tulang punggung perlawanan, baik dengan senjata, kata-kata, maupun pengorbanan diam-diam. 

Buku ini menjadi penghormatan bagi perempuan yang namanya mungkin tidak selalu ada di buku pelajaran. Tetapi jejak mereka  tetap abadi di tanah air yang mereka perjuangkan. 

Bukan sejarah yang lupa, tetapi tinta yang berat sebelah.  Perempuan bertempur, namun namanya senyap.

Maka  biarlah sastra, biarlah puisi esai, menjadi perisai dan sangkakala,
menyerukan jejak para pejuang perempuan yang tak boleh pudar.***

Singapura, 26 Februari  2025

(1) Kisah pejuang perempuan dalam sastra dan non-fiksi

Medium · Mission4.5K+ likes  ·  6 years ago50 Women Heroes Who Changed the World | by Mission

Halaman:

Berita Terkait