Menulis Ulang Perjuangan Perempuan dalam Sastra: Pengantar Dari Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Gunawan Trihantoro
- Penulis : Krista Riyanto
- Kamis, 27 Februari 2025 05:56 WIB

Meskipun beroperasi dalam masyarakat patriarkal, baik Malahayati maupun Joan of Arc menerima dukungan dan pengakuan dari individu-individu kunci di sekitar mereka.
Joan of Arc, misalnya, berhasil meyakinkan Dauphin Charles VII untuk memberinya komando atas pasukan Prancis, sebuah keputusan yang tidak lazim pada masa itu.
Dukungan ini menunjukkan bahwa ketika perempuan menunjukkan kompetensi dan determinasi yang kuat, mereka dapat memperoleh kepercayaan dan kesempatan untuk memimpin. Ini terjadi bahkan dalam struktur sosial yang membatasi peran mereka.
Refleksi atas kehidupan Malahayati dan Joan of Arc mengajarkan kita bahwa visi yang kuat, kompetensi yang nyata, dan dukungan dari lingkungan dapat memungkinkan perempuan untuk melampaui batasan-batasan yang ditetapkan oleh budaya patriarkal.
Kisah mereka menjadi inspirasi bahwa perubahan dan kemajuan sering kali dimulai dari individu-individu yang berani menentang norma demi kebaikan yang lebih besar.
-000-
Sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta kekuasaan. Kadang, ia lahir dari luka, air mata, dan keberanian perempuan yang melawan arus zaman.“
Demikianlah era pembuka tulisan ini. Jejak Perempuan di Palagan Nusantara” kumpulan puisi esai karya Gunawan Trihantoro sebuah mozaik perjuangan perempuan Indonesia.
Para pejuang itu dihidupkan kembali dalam 15 puisi esai yang sarat dengan narasi kepahlawanan, keteguhan hati, dan renungan mendalam.
Buku ini tidak hanya berbicara tentang perang yang diwarnai darah dan senjata. Tetapi ini juga perang melawan kebodohan, ketidakadilan, dan hegemoni patriarki.