Pencarian Identitas, dan Burung Gagak Ingin Menjadi Merak: Pengantar dari Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Mahwi Air Tawar
- Penulis : Krista Riyanto
- Rabu, 26 Februari 2025 08:38 WIB

Di sepertiga malam
aku menyelinap, ruang tamu lengang,
hanya bayangan dan gelak lantang
suamiku, Kiaji Subang, di atas langgar
bersama kawan, larut dalam cerita dan kelekar
tentang tubuh molek pesinden idaman lelaki kekar.
Di sepertiga keheningan
jari-jari khayalan membelai mimpi
meminang pesinden dengan birahi yang diselipkan
ke balik kutang abaikan pantangan:
“Begitu seharusnya, guru bajing pantang beristri satu,”
kata itu menggema, menusuk palung hati,
membuatku tersayat sindiran pilu.
Tanpa ragu, aku melompat dari jendela samping,
menembus kegelapan, meniti jalan setapak
menuju kuburan tempat leluhur disemayamkan,
tempat ritual letrek menanti,
untuk meruntuhkan janji yang teranyam
antara dusta dan ambisi yang kian merundung.
Tiga helai daun kering melayang,
jatuh tepat di depan gerbang kuburan,
masa lalu memburu, guruh masa depan
memburu.
Oh, alangkah pilu luka melulu
dalam tiga hentakan kaki lubangi bumi
suami merana, suami nelangsa terbakar angkara.
Di balik gemuruh malam, bayang Suhmiyati tersingkap,
calon istri kedua yang terselubung ambisi,
membuat hati ini bergemuruh, terombang antara cinta
dan harga diri yang kian terancam.
Selain itu, buku ini juga mengeksplorasi tema konflik budaya, ketimpangan sosial, hingga pencarian makna hidup, membuatnya lebih dari sekadar karya sastra. Ia juga merupakan dokumentasi perasaan dan pemikiran manusia dalam menghadapi perubahan zaman.
Buku Puisi Esai ini bukan hanya sekadar kumpulan puisi, tetapi juga potret pergulatan manusia dengan identitas, budaya, dan tragedi kehidupan.