Catatan Denny JA: Menyerukan Kebenaran dan Keadilan
- Penulis : Krista Riyanto
- Senin, 31 Maret 2025 08:41 WIB

-000-
Di sudut gelap sejarah, kita menemukan suara-suara yang menolak untuk dibungkam. Martin Luther King Jr., dengan pidato “I Have a Dream”, menyalakan obor keadilan di Amerika yang penuh diskriminasi.
Rosa Parks, dengan duduk di bangku bus, mengubah arah perjuangan hak sipil.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Hak Asasi Manusia Sebagai Filter Tafsir Agama Era Artificial Intelligence
Di Nusantara, sosok R.A. Kartini berjuang melawan ketidakadilan gender, membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk mendapatkan pendidikan.
Ia tidak hanya bermimpi tentang kesetaraan, tetapi bertindak demi memperjuangkannya.
-000-
Baca Juga: Catatan Denny JA: Komunitas Agama dan Spiritual di Era Artificial Intelligence
Di tengah gemerlap revolusi digital, keadilan menghadapi tantangan baru yang tak kasatmata. Algoritma raksasa teknologi sering kali memperkuat bias, menciptakan ketidaksetaraan akses informasi, dan melanggengkan diskriminasi berbasis data.
Privasi individu dijual demi keuntungan, sementara suara-suara kecil tenggelam dalam hiruk-pikuk propaganda digital. Di sisi lain, keadilan hukum tertatih mengejar kecepatan inovasi, meninggalkan celah bagi penindasan siber dan eksploitasi daring.
Dunia maya telah menjadi medan baru perjuangan moral manusia: bagaimana memastikan teknologi melayani kebenaran, bukan kepentingan segelintir pihak?
Baca Juga: Catatan Denny JA: Peta Jalan Agama di Zaman Artificial Intelligence
Keadilan kini bukan hanya tentang pengadilan fisik, tetapi juga tentang keberanian menuntut transparansi, etika, dan kesetaraan di dunia virtual.