Friday, Apr 4, 2025
Kolom

Catatan Denny JA: Menyerukan Kebenaran dan Keadilan

image
(OrbitIndonesia/kiriman)

Prinsip Stoisisme menekankan keadilan harus ditegakkan bukan karena takut hukuman atau demi pujian, tetapi karena ia adalah bagian dari logos, hukum universal yang mengatur kosmos. 

Seorang Stoik sejati akan memilih berdiri di pihak kebenaran meskipun dunia melawan.

-000-

Baca Juga: Catatan Denny JA: Hak Asasi Manusia Sebagai Filter Tafsir Agama Era Artificial Intelligence

Jika dunia ini adalah sebuah tubuh, maka keadilan adalah nafasnya. Tanpa keadilan, tubuh itu akan membusuk dalam kebohongan dan ketidakadilan. 

Di setiap zaman, keadilan menjadi penyeimbang antara kekuasaan dan tanggung jawab moral. Ia melahirkan masyarakat yang bermartabat, tempat di mana yang kuat melindungi yang lemah, dan yang lemah tidak takut untuk berbicara.

Seperti kisah Khansa di Madinah, sejarah dunia dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang mengorbankan dirinya demi kebenaran dan keadilan. 

Baca Juga: Catatan Denny JA: Komunitas Agama dan Spiritual di Era Artificial Intelligence

Nelson Mandela, yang menghabiskan 27 tahun di penjara demi menghapus apartheid di Afrika Selatan, mengajarkan keadilan lebih kuat daripada penindasan. 

“Saya belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan atasnya,” ujar Mandela.

Sama halnya dengan Mahatma Gandhi di India, yang menentang ketidakadilan kolonial dengan jalan satyagraha—perlawanan tanpa kekerasan yang berakar pada kebenaran. 

Baca Juga: Catatan Denny JA: Peta Jalan Agama di Zaman Artificial Intelligence

“Keadilan yang tertunda adalah ketidakadilan,” demikian Gandhi memperingatkan dunia.

Halaman:

Berita Terkait