Catatan Denny JA: Menyerukan Kebenaran dan Keadilan
- Penulis : Krista Riyanto
- Senin, 31 Maret 2025 08:41 WIB

Sejak awal peradaban, semua agama mengajarkan keadilan dan kebenaran adalah pilar utama kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.
Tanpa keadilan, dunia menjadi padang tandus tempat yang kuat menindas yang lemah. Tanpa kebenaran, manusia terjerumus dalam labirin kebohongan yang menghancurkan nurani.
Islam menegaskan pentingnya berlaku adil dalam segala keadaan, bahkan terhadap musuh. Dalam QS. Al-Maidah: 8: “Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”
Baca Juga: Catatan Denny JA: Hak Asasi Manusia Sebagai Filter Tafsir Agama Era Artificial Intelligence
Keadilan manifestasi dari ketakwaan sejati.
Ia bukan sekadar tindakan hukum, tetapi kesadaran spiritual bahwa Tuhan menyaksikan setiap perilaku manusia.
Kristen menggemakan panggilan yang sama melalui Yesaya 1:17:
“Belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan.”
Yesaya mengingatkan iman tanpa keadilan hanyalah ritual kosong. Keadilan menjadi bukti nyata cinta kasih yang hidup.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Komunitas Agama dan Spiritual di Era Artificial Intelligence
Dalam Hindu, Bhagavad Gita 4:7-8 menyatakan:
“Setiap kali kebenaran merosot dan kejahatan meningkat, Aku akan turun ke dunia untuk menegakkan dharma.”
Dharma itu hukum kosmis yang menjaga keseimbangan semesta. Menegakkan dharma merupakan panggilan bagi setiap manusia untuk menjaga harmoni.
Buddha dalam Dhammapada 256-257 menyampaikan:
“Orang yang menegakkan kebenaran dan bertindak adil adalah orang yang bijaksana.”
Buddha mengajarkan kebijaksanaan tertinggi lahir dari keberanian berdiri di pihak kebenaran, meski jalan itu penuh duri.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Peta Jalan Agama di Zaman Artificial Intelligence
Yahudi melalui Mikha 6:8 mengingatkan:
“Ia telah memberitahukan kepadamu apa yang baik, yaitu berlaku adil dan mencintai kasih setia.”