DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Menyerukan Kebenaran dan Keadilan

image
(OrbitIndonesia/kiriman)

Keadilan dalam tradisi Yahudi bukan hanya hukum tertulis, tetapi panggilan moral untuk membela kaum tertindas.

Dalam Khonghucu, Analek 12:19 berbunyi:
“Seorang junzi (manusia bijak) bertindak berdasarkan keadilan.”
Junzi adalah pribadi ideal dalam tradisi Tionghoa, yang mengutamakan keadilan di atas keuntungan pribadi.

-000-

Baca Juga: Catatan Denny JA: Hak Asasi Manusia Sebagai Filter Tafsir Agama Era Artificial Intelligence

Selain ajaran agama, filsafat Stoisisme (Stoicism) yang lahir di Yunani kuno juga menempatkan keadilan dan kebenaran sebagai prinsip tertinggi dalam kehidupan manusia. 

Stoisisme mengajarkan keadilan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan jalan menuju eudaimonia—kehidupan yang penuh makna.

Dalam karya Marcus Aurelius, Meditations (Buku V, Bagian 1), ia menulis:
“Di pagi hari, ketika engkau enggan bangun dari tempat tidur, ingatlah tugasmu sebagai manusia: berbuat adil, menjaga kebijaksanaan, dan mencintai kebenaran.”

Baca Juga: Catatan Denny JA: Komunitas Agama dan Spiritual di Era Artificial Intelligence

Keadilan bagi seorang Stoik bukan hanya tindakan eksternal, tetapi sikap batin yang selaras dengan hukum alam. 

Epictetus dalam Discourses (Buku I, Bab 29) menyatakan:
“Ketika kita bertindak adil, kita bukan hanya menjaga keharmonisan dengan sesama manusia, tetapi juga dengan semesta itu sendiri.”

Bagi Seneca, keadilan itu  ekspresi tertinggi dari kebajikan. Dalam Letters to Lucilius (Surat 90), ia menulis:
“Tidak ada jalan menuju ketenangan batin yang lebih pasti selain menegakkan keadilan. 

Baca Juga: Catatan Denny JA: Peta Jalan Agama di Zaman Artificial Intelligence

Itu karena keadilan melindungi kedamaian hati dan harmoni sosial.”

Halaman:

Berita Terkait