Buku Timothy Bond Ungkap Pentingnya Kekuatan Penangkalan Terhadap Serangan Musuh
- Penulis : Satrio Arismunandar
- Selasa, 01 April 2025 00:01 WIB

Timothy M. Bond, et al. What Role Can Land-Based, Multi-Domain Anti-Access/Area Denial Forces Play in Deterring or Defeating Aggression? Santa Monica: RAND Corporation, 2017. Tebal: 159 halaman.
ORBITINDONESIA.COM - Kekuatan anti-access/area denial (A2/AD) memiliki peran penting dalam strategi peperangan modern. Amerika Serikat, sebagai negara adidaya, kini harus melihat kenyataan bahwa negara-negara lain pesaingnya juga mengembangkan kekuatan A2/AD yang signifikan. Sehingga ini bisa membatasi ruang manuver kekuatan militer AS.
Tak heran, jika RAND Corporation lalu menerbitkan laporan hasil kajiannya, terkait kekuatan A2/AD ini. Konteks penerbitan buku ini adalah rasa was-was AS melihat bangkitnya China, sebagai kekuatan ekonomi dan militer global.
Baca Juga: China Beri Perhatian Khusus untuk Penyelesaian Laut China Selatan dan Judi Online di ASEAN
China sedang berusaha membangun tatanan regional dan internasional, yang meningkatkan status dan pengaruhnya. Ini sesuatu yang menjadi pendorong strategis utama bagi China, untuk menguasai Taiwan dan Laut China Timur dan Laut China Selatan.
Ada ambisi teritorial dan aspirasi China, untuk memiliki pengaruh regional yang lebih besar. Maka, potensi krisis dan konflik tertinggi di Pasifik barat terletak pada perselisihan antara China dan para negara tetangganya, yang bisa meningkat menjadi konflik bersenjata.
Karena komitmen keamanan AS kepada sekutu-sekutunya di kawasan itu, konflik yang melibatkan China dan sekutu-sekutu AS hampir tak terhindarkan akan melibatkan militer Amerika Serikat pada tingkat tertentu.
Baca Juga: China Pantau Perkembangan Penangkapan Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte
Tujuan militer China adalah meningkatkan penekanan pada bagaimana melawan kemampuan AS, yang datang untuk membantu sekutu-sekutunya di Kawasan Pasifik barat. Untuk itu, Tentara Pembebasan Rakyat China telah memulai program modernisasi yang ambisius.
Program militer China ini terus-menerus mengerahkan kekuatan A2/AD yang tangguh. Termasuk kemampuan A2 (anti-access), yang membatasi kemampuan pasukan lawan untuk memasuki area operasional. Juga, kemampuan AD (area-denial) yang menurunkan kemampuan angkatan udara dan kekuatan laut lawan untuk beroperasi atau bermanuver secara bebas.
Dalam buku ini, dikatakan bahwa Rusia juga merupakan tantangan A2/AD bagi AS dan para sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dalam waktu 60 jam atau kurang, pasukan Rusia mampu mengalahkan pasukan yang saat ini ditempatkan di negara-negara Baltik.
Baca Juga: China, Rusia, Iran Bertemu di Beijing Bahas Masalah Nuklir
Pasukan NATO berlomba untuk memperkuat negara-negara Baltik, yang harus dilewati dalam jangkauan pasukan A2/AD Rusia, terutama di Kaliningrad.
Beroperasi di bawah payung A2/AD ini, angkatan laut dan udara Rusia dapat melancarkan serangan dan operasi amfibi di daerah belakang Estonia dan Latvia. Juga, merebut Gotland dan pulau-pulau strategis lainnya, dan melarang lalu lintas laut dari Stockholm (Swedia) ke pasukan NATO di Riga dan Tallinn.
Untuk mengatasi tantangan ini, analis RAND Arroyo Center memeriksa peran yang dapat dimainkan oleh pasukan multi-domain berbasis darat yang bersahabat, dalam menghalangi atau mengalahkan agresi yang dilindungi oleh payung A2/AD.
Baca Juga: Satelit China Secara Resmi Kalahkan Kecepatan Transmisi Data Starlink Milik Elon Musk
Analisis buku RAND Corporation ini fokus utamanya adalah pada China. Tetapi kajian ini juga memeriksa penggunaan kekuatan multi-domain untuk bertahan melawan Rusia dan --meski cuma diulas secara singkat-- melawan Iran.
Laporan dalam buku ini juga berupaya untuk lebih memahami tujuan, kepentingan, sasaran, dan kemampuan China dan sekutu-sekutu AS di Pasifik barat, untuk menetapkan konteks strategis guna meningkatkan pertahanan sekutu AS.
Beberapa temuan kunci dari kajian RAND Corporation ini adalah: AS dan sekutunya dapat mengadopsi beberapa strategi untuk melawan agresi musuh, ketika dilindungi oleh kemampuan A2/AD.
Baca Juga: China Bantah Akan Kerahkan Pasukan Penjaga Perdamaian ke Ukraina
Pendekatan tradisional yang bisa dilakukan AS adalah membangun pangkalan regional, untuk mengoperasikan kekuatan darat, udara, dan maritim yang diproyeksikan dari Amerika Serikat.
Beberapa pasukan yang dikerahkan kemudian ditugaskan untuk mempertahankan pangkalan ini dari serangan sistem A2/AD musuh, sambil secara bersamaan mengerahkan kemampuan A2/AD yang sama.
Sebagai contoh, dalam Operasi Desert Shield dan Desert Storm, AS dan sekutunya mengerahkan pasukan ke pangkalan regional, untuk membalikkan invasi Irak dan pendudukan Irak di Kuwait. Pasukan udara, darat, dan laut AS mempertahankan pangkalan ini, sambil melakukan serangan udara dan rudal terhadap unit-unit pertahanan udara dan rudal balistik Irak.
Baca Juga: Imigrasi Amankan Dua Buronan Pemerintah China
AS menggunakan pendekatan serupa dalam Operasi Iraqi Freedom satu dekade kemudian. AS mendirikan dan mempertahankan pangkalan di Arab Saudi, Qatar, dan Yordania, terhadap serangan rudal balistik dan udara Irak. Sambil militer AS menyerang unit-unit pertahanan udara dan rudal balistik Irak.
Tetapi, akan sangat sulit untuk sukses menggunakan strategi yang sama, untuk melawan kekuatan militer yang setara atau hampir setara. ***