ANALISIS: Mengapa IHSG Bisa Anjlok yang Memicu Halt Trading
- Penulis : M. Ulil Albab
- Rabu, 19 Maret 2025 11:15 WIB

ORBITINDONESIA.COM - Anjloknya IHSG pada 18 Maret 2025 hingga 6,12 persen, yang memicu Halt Trading, dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global.
Berikut adalah analisis anjloknya IHSG berdasarkan informasi yang tersedia dan konteks pasar.
Faktor penyebab anjloknya IHSG itu mencakup faktor domestik dan global.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan Seiring Optimisme Seusai Pencoblosan Pemilu 2024
Faktor Domestik:
Ketidakpastian Kebijakan dan Kepercayaan terhadap Pemerintah
Salah satu penyebab utama adalah menurunnya kepercayaan investor terhadap pemerintah Indonesia. Sentimen negatif ini diperparah oleh rumor mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, meskipun rumor tersebut kemudian dibantah.
Baca Juga: Penguatan IHSG dan Optimisme Pasar Modal di Tengah Dinamika Pascapemilu
Ketidakpastian ini menciptakan persepsi bahwa stabilitas fiskal Indonesia sedang terancam, yang langsung memengaruhi pasar saham. Selain itu, kebijakan pemerintah yang dianggap tidak ramah bisnis, seperti pajak yang memberatkan, turut berkontribusi pada penurunan kepercayaan investor.
Posts on X juga mencerminkan sentimen bahwa trust issue terhadap pemerintah, termasuk kebijakan seperti RUU TNI yang kontroversial, menjadi faktor penekan.
Defisit APBN dan Stabilitas Fiskal
Baca Juga: Prabowo Tunjuk Sri Mulyani dan Tiga Wakil Menteri Bertugas di Kementerian Keuangan
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang melebar menjadi Rp 31,2 triliun pada Februari 2025 menjadi sinyal buruk bagi investor. Ditambah dengan utang negara yang terus meningkat, investor khawatir akan kemampuan pemerintah mengelola keuangan negara.
Ketidakpastian fiskal ini membuat pasar saham rentan terhadap aksi jual, sebagaimana diungkapkan dalam artikel dari katadata.co.id yang menyebutkan bahwa defisit APBN dan kebijakan yang tidak realistis menjadi pemicu utama.
Sentimen Global:
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani: Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi Usai Trump Tolak Kesepakatan Pajak Global
Ketakutan Perlambatan Ekonomi Dunia
Sentimen global juga memainkan peran besar. Pasar global sedang dilanda ketakutan akan perlambatan ekonomi, terutama setelah S&P 500 di AS turun 2,7 persen akibat kekhawatiran resesi.
Ketegangan perdagangan global, termasuk rencana tarif dagang dari Presiden AS Donald Trump (sebagaimana disebutkan dalam liputan6.com pada 14 Maret 2025), turut memengaruhi bursa Asia, termasuk Indonesia. Investor asing yang panik cenderung menarik dana dari pasar emerging markets seperti Indonesia, yang memperparah penurunan IHSG.
Rupiah Melemah dan Premi Risiko Meningkat
Nilai tukar rupiah melemah 0,37 persen ke level 16.466 per dolar AS pada 18 Maret 2025, sebagaimana dilaporkan oleh katadata.co.id. Pelemahan ini, ditambah dengan kenaikan premi risiko Indonesia (Credit Default Swap/CDS mencapai 76 basis poin, menurut posts on X), membuat investor semakin khawatir.
Rupiah yang lemah meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi, yang pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat dan konsumsi domestik—faktor yang disebutkan dalam posts on X sebagai salah satu pemicu anjloknya IHSG.
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani: Pemerintah Pastikan Program Tiga Juta Rumah Tak Bebani APBN
Aksi Jual Investor Asing
Investor asing melakukan aksi jual besar-besaran, sebagaimana tercermin dari sentimen pasar yang disebutkan dalam beberapa sumber. Liputan6.com melaporkan bahwa pada 10-14 Maret 2025, investor asing mencatatkan aksi jual senilai Rp 450,33 miliar, meskipun angkanya lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.
Tren ini kemungkinan berlanjut hingga 18 Maret, memperparah tekanan pada IHSG. Ketidakpastian global dan domestik mendorong capital outflow dari pasar Indonesia.
Baca Juga: IHSG Pagi Ini Menguat di Tengah Pelemahan Mayoritas Bursa Kawasan Asia
Konsumsi Lesu dan Ketidakpastian Kebijakan Prabowo
Konsumsi domestik yang lesu, sebagaimana disebutkan dalam posts on X, menjadi faktor tambahan. Selain itu, ketidakpastian terkait kebijakan Presiden Prabowo Subianto, yang baru menjabat, turut memengaruhi pasar. Investor khawatir terhadap arah kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan baru, terutama jika kebijakan tersebut tidak mendukung pertumbuhan ekonomi atau pasar modal.
Konteks Tambahan dan Analisis Kritis
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Alokasikan Rp49,4 Triliun untuk THR ASN 2025
Meskipun faktor-faktor di atas sering disebut sebagai penyebab utama, ada aspek yang perlu dilihat lebih kritis. Pemerintah dan BEI mungkin cenderung menyalahkan sentimen global untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik yang lebih dalam, seperti tata kelola ekonomi yang buruk atau korupsi yang masif—yang juga disinggung dalam posts on X sebagai faktor yang tidak bisa diabaikan.
Selain itu, rumor mundurnya Sri Mulyani, meskipun dibantah, menunjukkan adanya ketegangan politik internal yang mungkin tidak sepenuhnya terungkap ke publik. Hal ini diperparah oleh narasi di media sosial yang menyoroti ketidakpercayaan publik terhadap eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Kesimpulan
Baca Juga: Menteri Keuangan Sri Mulyani Umumkan APBN Tekor Rp31 Triliun
Anjloknya IHSG pada 18 Maret 2025 adalah hasil dari kombinasi faktor domestik (defisit APBN, rumor politik, kebijakan yang tidak ramah bisnis, dan ketidakpastian kebijakan Prabowo) serta faktor global (perlambatan ekonomi dunia, pelemahan rupiah, dan aksi jual investor asing).
Sentimen negatif ini diperkuat oleh menurunnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dan politik Indonesia, yang tercermin baik dari data pasar maupun opini publik di media sosial. Untuk pemulihan, pemerintah perlu memberikan sinyal kebijakan yang lebih jelas dan meyakinkan, serta mengatasi masalah struktural seperti defisit fiskal dan kepercayaan investor.***