Budaya Patriarki dan Ternyata Suamiku Teroris: Pengantar dari Denny JA Untuk Buku Puisi Esai Mila Muzakkar
- Penulis : Krista Riyanto
- Senin, 24 Februari 2025 05:05 WIB

ORBITINDONESIA.COM - “Sulaeman, laki-laki yang menjanjikan surga itu tak ada memeluknya, hanya neraka yang ia berikan, pada tiga bidadari yang telah patah sayapnya. Mereka bagai tiga bintang di langit kelam, dikhianati oleh matahari yang seharusnya memberi cahaya.”
(Mila Muzakkar, Sayap Patah Istri Teroris)
Umi Yanti tak pernah membayangkan suatu hari polisi akan mengetuk pintunya dengan amarah. Rumah yang dulu penuh tawa anak-anaknya akan berubah menjadi tempat interogasi.
Lebih menyakitkan lagi, ia tidak tahu. Lelaki yang tidur di sampingnya, yang pernah membelai rambutnya dengan lembut, yang berjanji akan membawanya ke surga, ternyata seorang teroris!
Di kota kecil tempat Umi Yanti tinggal, perempuan seperti dirinya bukanlah seseorang yang bisa berbicara banyak tentang hidupnya sendiri.
Mereka lahir untuk percaya, untuk mengikuti. Seorang suami adalah pemimpin, dan istri berjalan di belakang. Begitulah yang diajarkan. Begitulah yang harus diterima.
Ketika suaminya mulai menghilang berbulan-bulan, ia tidak bertanya terlalu banyak. Waktu Sulaeman tidak mengirim uang, ia berpikir mungkin suaminya sedang kesulitan.
Lalu polisi datang dan menggeledah rumahnya. Ia hanya bisa mengucapkan satu kata yang paling jujur yang pernah keluar dari mulutnya: “Saya tidak tahu.”
Tetapi dunia tidak menerima ketidaktahuan sebagai alasan. Masyarakat lebih suka melihatnya sebagai bagian dari dosa suaminya.
Tetangga-tetangganya yang dulu memanggil namanya dengan hangat kini menghindari. Warung kecil tempatnya menjual kue-kue kini sepi.
Orang-orang lebih memilih menjauh daripada menyentuh makanan dari tangan seorang “istri teroris.”
Siapakah yang lebih jahat? Suaminya yang mengkhianatinya dalam diam? Atau dunia yang menghukumnya atas dosa yang tak pernah ia lakukan? Atau sistem patriarki yang membuat perempuan tak mengembangkan sikap kritis kepada suami?
-000-
Membaca puisi esai Mila soal istri teroris itu, saya teringat novel A Thousand Splendid Suns (2007) karya Khaled Hosseini.
Mariam, seorang anak haram yang dipaksa menikah dengan Rasheed. Ia menjalani kehidupan penuh penderitaan akibat kekerasan fisik dan mental dari suaminya.
Laila, yang kehilangan orang tuanya akibat perang, juga terpaksa menikah dengan Rasheed, menjadi istri kedua, demi kelangsungan hidupnya.
Awalnya, hubungan antara Mariam dan Laila, sebagai perempuan yang berbagi suami, dipenuhi ketegangan.
Namun seiring waktu, mereka menemukan kekuatan dalam persahabatan dan solidaritas. Kebersamaan mereka menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi Rasheed.
Mereka berdua menunjukkan dukungan antarperempuan dapat menjadi sumber kekuatan menghadapi penindasan.
Puncak perlawanan terjadi ketika Mariam mengambil tindakan drastis untuk melindungi Laila dari kekerasan Rasheed.
Dalam sebuah insiden, Mariam membunuh Rasheed demi menyelamatkan nyawa Laila. Tindakan ini mencerminkan keberanian dan tekad Mariam untuk melawan ketidakadilan. Ia menyadari konsekuensi fatal yang akan dihadapi.
Pengorbanan Mariam menjadi simbol perlawanan terhadap sistem patriarki yang menindas perempuan.
Setelah kematian Rasheed, Laila melanjutkan hidup dengan Tariq, cinta lamanya, dan anak-anaknya. Mereka kembali ke Kabul pasca-Taliban untuk berkontribusi dalam pembangunan kembali kota tersebut.
Laila bekerja sebagai guru, berusaha memberikan pendidikan kepada generasi muda, khususnya anak-anak perempuan.
Melalui pendidikan, Laila berupaya memutus rantai penindasan dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah bagi perempuan Afghanistan.
Kesamaan antara kisah Mariam dan Umi Yanti, mereka berdua dihancurkan oleh lelaki yang awalnya mereka percaya.
Namun ada satu perbedaan besar. Mariam akhirnya melawan. Ia tidak hanya menerima nasibnya, tetapi memilih untuk mengubahnya, dengan cara yang tragis dan heroik sekaligus.
Umi Yanti? Ia tidak punya kesempatan itu. Dunia sekitarnya tidak memberinya ruang untuk melawan.
-000-
Mengapa kasus ini terjadi pada Umi Yanti, Mariam, Laila, dan banyak lagi perempuan lain? Sudah berulang kali kita mendengar perempuan yang terjebak dalam labirin yang tidak pernah mereka pilih.
Tiga alasan mengapa budaya patriarki mengekang potensi perempuan. Apa jadinya sebuah dunia jika separuh populasi harus meminta izin untuk memiliki mimpi?
Bayangkan sebuah sistem yang begitu tertanam dalam kesadaran kolektif, hingga orang-orang yang tertindas pun tidak menyadari bahwa mereka sedang dijerat.
Itulah patriarki, sebuah warisan yang diwariskan turun-temurun, seperti kutukan yang diam-diam mengubah nasib jutaan perempuan di dunia.
Kita bisa melihat jejaknya di mana-mana. Dalam puisi, dalam novel-novel besar dunia, dalam statistik ketidakadilan yang terus berulang.
Umi Yanti dalam puisi esai Mila Muzakkar atau Mariam dan Laila dalam A Thousand Splendid Suns, misalnya, tidak memilih untuk lahir sebagai perempuan di Indonesia atau Afghanistan yang penuh gejolak.
Seperti halnya Umi Yanti dalam puisi esai Mila Muzakkar, mereka tidak meminta untuk ditindas. Tapi patriarki tidak membutuhkan izin untuk bekerja. Ia hanya perlu diterima sebagai “kodrat.”
Pertama: Patriarki Menghancurkan Otonomi Perempuan
Otonomi adalah hak untuk menentukan jalan hidup sendiri. Tapi dalam sistem patriarki, perempuan sering kali harus mendapatkan persetujuan dari orang lain. Itu bisa ayah, suami, atau saudara laki-laki, untuk melakukan hal-hal yang seharusnya menjadi hak mereka sejak lahir.
Mariam dalam A Thousand Splendid Suns adalah contoh sempurna dari perempuan yang kehilangan otonominya bahkan sebelum ia bisa memahami apa itu kebebasan.
Sebagai anak haram, ia tidak pernah diberi pilihan. Ayahnya menyembunyikannya, ibunya meracuninya dengan rasa takut, dan akhirnya, ia dipaksa menikah dengan seorang lelaki yang memperlakukannya sebagai properti, bukan sebagai manusia.
Lihatlah dunia kita. Berapa banyak perempuan yang tidak bisa memilih siapa yang mereka nikahi? Berapa banyak perempuan yang kariernya dihentikan hanya karena “sudah waktunya menikah”? Berapa banyak perempuan yang impiannya dikorbankan atas nama “kodrat”?
Patriarki tidak sekadar menindas perempuan secara fisik, tetapi juga membunuh kemungkinan-kemungkinan mereka. Itu adalah perampokan yang tidak kasat mata, tapi dampaknya terasa dalam seluruh aspek kehidupan.
Kedua: Patriarki Membiarkan Kekerasan terhadap Perempuan Berlanjut
Di banyak tempat, perempuan diperlakukan seperti barang yang bisa digunakan, dipukul, dan dibuang. Kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, dan bahkan pembunuhan atas nama “kehormatan” masih dianggap wajar di banyak budaya yang dikendalikan oleh patriarki.
Ketika Mariam dipukuli oleh suaminya karena makanan yang ia masak tidak sesuai selera, ia tidak melawan. Bukan karena ia tidak ingin, tetapi karena ia tahu bahwa dunia tidak akan berpihak padanya.
Perempuan dalam sistem patriarki sering kali tidak hanya menjadi korban kekerasan, tetapi juga sistem hukum dan sosial yang melindungi pelaku.
Di dunia nyata, statistik menunjukkan mayoritas kasus kekerasan terhadap perempuan tidak pernah dilaporkan. Mengapa? Karena perempuan sering kali dipersalahkan atas penderitaan mereka sendiri.
• Diperkosa? “Pakaianmu terlalu terbuka.”
• Dipukuli suami? “Mungkin kamu kurang patuh.”
• Dilarang bekerja? “Kamu harus fokus pada keluarga.”
Patriarki memberikan kekuatan kepada laki-laki untuk mendominasi. Lebih dari itu, ia menciptakan lingkungan agar perempuan merasa mereka tidak punya pilihan selain menerima perlakuan itu.
Ketiga: Patriarki Menjebak Perempuan dalam Lingkaran Kemiskinan
Ketika perempuan tidak memiliki hak atas pendidikan, mereka kehilangan peluang ekonomi. Ketika perempuan dipaksa menikah di usia masih kanak- kanak, mereka kehilangan kesempatan membangun kemandirian finansial. Ketika perempuan harus selalu mengutamakan keluarga di atas karier, mereka kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Patriarki memastikan perempuan tetap berada di bawah laki-laki. Itu tidak hanya dalam urusan rumah tangga, tetapi juga dalam sektor ekonomi.
Statistik dari banyak negara menunjukkan perempuan masih mendapatkan bayaran lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang sama.
Mereka juga lebih sering keluar dari dunia kerja karena tekanan sosial yang menganggap bahwa peran utama mereka adalah di rumah.
Dalam A Thousand Splendid Suns, Laila adalah perempuan cerdas dengan masa depan yang cerah. Tapi ketika perang menghancurkan keluarganya, ia tidak punya pilihan selain menikahi Rasheed untuk bertahan hidup.
Ini adalah realitas yang dihadapi banyak perempuan di dunia nyata. Mereka tidak bisa keluar dari kemiskinan karena sistem patriarki tidak memberi mereka alat untuk melawan.
Sama seperti Umi Yanti dalam puisi Mila Muzakkar, yang ditinggalkan suaminya dengan utang yang harus ia bayar sendirian, banyak perempuan di dunia nyata yang hidup dalam keterbatasan ekonomi karena mereka tidak pernah diberi kebebasan untuk membangun hidupnya sendiri.
Seperti tergambar dalam puisi esai Mila Muzakkar:
“Umi Yanti mendekati pintu, ‘Cari siapa Pak?’ hanya dari balik pintu ia bertanya.
‘Saya dari bank, Ibu,’ jawab laki-laki bersuara berat.
Umi Yanti agak lega. Setidaknya, bukan laki-laki berseragam coklat yang datang.
Laki-laki itu menyerahkan selembar kertas,
mata Umi Yanti tertuju pada angka Rp 30.000.000.
‘Ap.. apppa… ini Pak?’ suaranya kembali gagap.
‘Itu utang suami Ibu. Tiga bulan lalu, Pak Sulaeman meminjam uang di bank,’ laki-laki berbaju batik itu menjelaskan.
Seperti kapal tua di lautan ganas,
dihantam gelombang tanpa pelabuhan untuk berlabuh,
tubuh Umi Yanti lemas, lunglai.
Tanpa sadar ia terjatuh di sudut pintu rumahnya.
‘Astagfirullah, astagfirullah, dosa apa hamba ya Allah,’ mulutnya komat-kamit.
Butiran air matanya tak lagi terbendung.
Umi Yanti memeluk kedua putrinya.”
Patriarki bukan sekadar tradisi. Ia adalah sistem yang mematikan. Ia mencuri kebebasan perempuan.
Ia membiarkan kekerasan terjadi tanpa konsekuensi.
Ia menjebak perempuan dalam kemiskinan yang diwariskan turun-temurun.
Namun kita harus juga berikan data bandingan. Persentase perempuan yang bekerja di ruang publik di Indonesia meningkat.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi perempuan yang bekerja sebagai tenaga profesional mengalami peningkatan dari 44,02% pada tahun 2010 menjadi 49,53% pada tahun 2023. Ini berarti hampir setengah dari tenaga profesional di Indonesia adalah perempuan. (1)
-000-
Buku Karena Perempuan, Aku Dicancel karya Mila Muzakkar adalah kumpulan 16 puisi esai yang mengangkat kisah-kisah dramatis, pahit, dan menyayat hati tentang perempuan dari berbagai latar belakang.
Buku ini menyoroti isu-isu ketidakadilan gender, budaya patriarki, diskriminasi sosial, dan tragedi personal yang dialami perempuan di berbagai tempat, dari desa terpencil hingga kota-kota besar.
Mila Muzakkar menulis dengan pendekatan puisi esai, sebuah format yang memadukan fakta dan fiksi, yang membuat kisah-kisahnya terasa lebih hidup dan menggugah.
Setiap puisi dalam buku ini membawa kita masuk ke dalam pengalaman perempuan yang sering kali dipinggirkan oleh masyarakat.
Keistimewaan puisi esai dalam buku ini adalah kemampuannya untuk memadukan kisah nyata dengan kekuatan naratif dan puitis. Beberapa puisi bahkan terinspirasi langsung dari berita nyata dan pengalaman hidup penulis.
Melalui gaya narasi yang kontemplatif dan reflektif, buku ini menggali emosi terdalam pembaca, memaksa kita untuk berpikir ulang tentang realitas sosial yang sering kita abaikan.
Buku Karena Perempuan, Aku Dicancel adalah suara bagi mereka yang tak bisa bersuara. Ini adalah catatan sejarah yang tersamar dalam bait-bait puisi, sebuah saksi bisu dari perempuan-perempuan yang bertahan, berjuang, dan melawan dalam sunyi.
Mila Muzakkar menghadirkan puisi sebagai bentuk keadilan, menulis agar perempuan tidak hanya menjadi objek dalam narasi orang lain, tetapi menjadi tokoh utama dalam kisah hidup mereka sendiri.
Buku ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan, diperbincangkan, dan dijadikan inspirasi untuk perubahan.
Agar dunia benar-benar adil, suara perempuan harus didengar lebih dari sekadar bisikan di balik pintu yang tertutup.***
Jakarta, 23 Februari 2025
CATATAN
(1) Hampir separuh tenaga profesional Indonesia adalah perempuan.