Catatan Denny JA: Sejarah Surat Cinta bagi yang Telah Tiada
- Penulis : Krista Riyanto
- Minggu, 23 Maret 2025 12:55 WIB

Al Quran pun mengabadikan tradisi ini:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…’” (QS. Al Hasyr: 10)
Kita bukan hanya diminta mengingat. Kita diizinkan untuk terus berhubungan.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Agama yang Berdampingan dengan Positive Psychology dan Neuroscience
Tradisi doa bagi yang wafat tak hanya milik Islam. Dalam Yahudi, doa Kaddish didaraskan bagi almarhum.
Dalam Kristen Katolik, misa arwah digelar. Dalam Hindu, upacara Shraddha dilangsungkan demi ketenangan leluhur. Dalam Buddha, sutra dilantunkan untuk membantu jiwa dalam perjalanan.
Manusia lintas zaman dan agama menolak untuk melupakan. Mereka memilih untuk mengingat, mendoakan, dan mengasihi bahkan setelah kepergian.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Menurunnya Peran Ulama, Pendeta, dan Biksu di Era Artificial Intelligence
Ini adalah bukti bahwa cinta spiritual adalah bahasa universal. Ia tak membutuhkan bahasa yang sama. Ia cukup dengan niat yang jernih.
-000-
Suatu hari, kita pun akan pergi. Dan yang tertinggal dari kita bukan hanya nama di batu nisan, tapi kenangan, kebaikan, dan doa dari mereka yang mencinta.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Kita Bersama
Maka jadilah kita surat cinta bagi masa depan—bagi mereka yang akan mengingat dan mendoakan kita kelak.