DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Esai Denny JA: Aku, Bastille

image
(OrbitIndonesia/kiriman)

Darah meresap ke batu-batu jalan,
bercampur dengan hujan dan nyanyian massa.
Mereka bersorak, tapi di antara riuh,
ada yang berbisik, “Besok, giliran siapa?”

Di Rue Saint-Antoine, roti lebih mahal dari darah.
Seorang ibu menyerahkan cincin pernikahan,
tapi si pedagang hanya menggeleng,
“Satu keping emas, atau kau pulang dengan tangan kosong.”

Seorang pria mengulurkan tangannya yang berlumur luka,
“Aku punya darah, apakah itu cukup?”
Pedagang tertawa getir, 
“Di hari-hari ini,
darah lebih murah dari gandum.”

Di tangga kayu yang menuju maut,
seorang lelaki menatap langit Paris untuk terakhir kali.
Istrinya merintih di bawah panggung,
tangannya terulur, tetapi tak bisa menyentuh takdir.

“Dia hanya berkata, ‘Raja harus adil.’
Mengapa itu layak ditebus dengan kepala?”

Anaknya menangis, suaranya tenggelam
oleh genderang yang mengiringi keheningan.

Mata pisau berkilat,
sekedip waktu, dan segalanya sunyi.
Istri itu pingsan di tanah yang basah,
sementara kepala suaminya ditunjukkan kepada massa.

Di antara sorak dan sorai,
hanya angin yang membawa bisikan,
“Kebebasan datang dengan harga,
tetapi apakah harga ini terlalu tinggi?”

-000-

Aku,  penjara Bastille, lalu jatuh.

Halaman:

Berita Terkait