DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Esai Isbedy Stiawan ZS: Dulu Jalan Ini Mulus

image
Ilustrasi jalan yang dulu mulus (Foto: Isbedy Stiawan ZS)

ORBITINDONESIA.COM - secangkir kopi masih panas
sebatang rokok baru tumpas
Mad di pekarangan rumah
memandang luas ke jalan raya
di bawah rimbunan pepohonan
matahari menyala di sela dedaunan
sebelum ke sawah, selalu di situ
seperti menghitung jumlah truk 
yang melintas. truktruk pembawa 
batubara. dari tanjung enim 
ke tarahan panjang. dan ia terhibur
meski rumahnya tersiram lumpur
dan debu yang menutupi pandangan

truktruk itu berjalan kompoi
dalam pekat malam
ataupun terik siang
Mad selalu bilang ke tamu yang datang,
pemandangan seperti ini hanya ada di Way Kanan
truktruk yang melaju kencang 
tonase tinggi; menandu batu hitam
ruas jalan jadi rusak. “kalau ingin selamat 
lintasi jalan di sini,
kau harus hatihati,” pesan Mad, membaca
tanda lalu lintas di tepi jalan

dulu, ruas jalan lintas tengah, Way Kanan,
tidak seperti sekarang. tak kau temukan
berlubang ataupun bergelombang
setiap kendaraan bagai selancar di atas salju
orangorang yang melangkah di pagi buta 
tak khawatir disenggol, apalagi ditimpa
truk yang terbalik di jalan yang rusak
rumahrumah benderang. lampulampu
kendaraan layaknya cahaya kunangkunang
anakanak bermain di pekarangan
di bawah purnama yang terang
sorot lampu dari kendaraan
menciptakan sebersit bayang
itulah keriangan di masa anakanak

Baca Juga: Puisi Esai Isbedy Stiawan ZS: Perempuan di Seberang Istana Batubara

–aku nikmati sekali kala itu,
malam adalah perjalanan usia
yang berwarnawarni–

kini jalan sudah tak lagi mulus, sebagian
warga mencari lahan baru untuk rumah
atau migrasi ke kota. tak tahan lantaran
lingkungan rusak. sejak truktruk batubara
beratus kali melintas sejak pagi ke lain pagi
sementara warga di tepi ruas jalan hanya
mendapatkan debu dan muntahan lumpur
sedangkan pengusaha tambang 
hidup mewah dan kelimun riang
warga di sini tak dapat kompensasi
apaapa, selain batuk dan asma

jembatan yang dulu kokoh
mulai tampak rapuh 
suara tubuh reotnya 
menjadi hantu setiap warga 
yang melintas di sana
“perekenomian mulai lumpuh,
hasil perkebunan busuk 
sebab lambat diangkut,” Mad bercerita,
kecemasan itu mengalir bagai anak sungai
warga sepakat; “kita harus tolak truk 
yang akan melintas. kita paksa balik arah.” 

Baca Juga: Puisi Esai Denny JA: Marhaen di Abad 21

dan aparat kepolisian turut membantu
merazia truk batubara melebihi tonase
dan over dimension over loading (ODOL).(2)

tapi, apakah masalah jalan di sini kemudian
selesai? sampai kini, kata Mad, trukttuk 
batubara terus saja menumbuk 
jalan sampai benarbenar jadi bubuk

“apakah korban kecelakaan akibat ruas jalan
rusak, harus terus bertambah?” tanya Mad

Baca Juga: Puisi Esai Denny JA: Mohammad Hatta dan Korupsi yang Menggila

siang berkabut
sesaat hujan
dan jalan di depan rumahnya 
akan kembali jadi kolam
ikanikan berenang…

Lampung, Desember 2024-Januari 2025

CATATAN:

Baca Juga: Catatan Denny JA: Merekam Sejarah Melalui Puisi Esai

Puisi esai ini hanya fiksi, diangkat dari fakta jalan rusak di Kabupaten Way Kanan akibat tonase berlebih dari truk pengangkut batubara dari Sumatera Selatan ke Bandar Lampung. Termaktub dalam "Kitab Puisi Esai Elegi Galian Tambang (CBI, Januari 2025)

(1) https://www.kupastuntas.co/2024/04/23/jalinteng-lampura-rusak-parah-akibat-angkutan-batubara-sopir-kami-bayar-setoran
(2) https://www.rilis.id/Daerah/Berita/Khawatir-Jembatan-di-Lampura-Roboh-Truk-Batubara-Dirazia-Tim-Gabungan-Waykanan-4cNBCp1

Biodata

Baca Juga: Puisi Esai Denny JA: Malam Natal di Perang Dunia Pertama

Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan asal Lampung dan alumni Forum Puisi Indonesia 87 yang masih produktif sampai kini. Buku-buku dan karya puisinya kerap memenangkan lomba/sayembara, atau masuk nomine. 

Karya-karyanya dimuat Kompas, Horison, Suara Merdeka, Lampung Post, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Tanjungpikang Pos, Riau Pos, Padang Ekpres, Haluan, Bali Pos, Trans Sumatera, Kupas Tuntas, Poros Lampung, Lampung TV, inilampung.com.

Tahun 2022 ia meluncurkan buku puisi terbitan Siger Publisher, yakni Nuwo Badik, dari Percakapan dan Perjalanan, Mendaur Mimpi Puisi yang Hilang, Ketika Aku Pulang (2022),  Masuk ke Tubuh Anak-Anak (Pustaka Jaya, Bandung), Biografi Kota dan Kita (April 2023), Puisi Buruk yang Diuntungkan (2024), Satu Ciuman, Dua Pelukan (Istana Agency Jakarta, 2025).

Baca Juga: Puisi Esai Denny JA: Tarian Mawar Hitam, Elegi Flu Spanyol

Pada 2015 Isbedy pernah sebulan di Belanda dan lahirlah kumpulan puisi November Musim Dingin. Selain itu ia juga pernah diundang ke negara Thailand, Singapura, Brunei Darussalam. 

Buku puisinya, Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua masuk 5 besar pilihan Majalah Tempo (2019) dan Kini Aku Sudah Jadi Batu! terpilih 5 besar Badan Bahasa Kemendikbud RI (2019). 

Buku Puisi: Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020).

Baca Juga: Puisi Esai Denny JA: Haruskah Kutembak Raja dan Keluarganya?

Buku Cerpen: Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Seandainya Kau Jadi Ikan, Perempuan di Rumah Panggung (masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award), Kau Mau Mengajakku ke Mana Malam ini? (Basabasi, 2018), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020), Malaikat Turun di Malam Ramadan (Siger Publisher, 2021).***

Halaman:

Berita Terkait