Puisi Esai Isbedy Stiawan ZS: Dulu Jalan Ini Mulus
- Penulis : M. Ulil Albab
- Rabu, 12 Februari 2025 02:50 WIB

ORBITINDONESIA.COM - secangkir kopi masih panas
sebatang rokok baru tumpas
Mad di pekarangan rumah
memandang luas ke jalan raya
di bawah rimbunan pepohonan
matahari menyala di sela dedaunan
sebelum ke sawah, selalu di situ
seperti menghitung jumlah truk
yang melintas. truktruk pembawa
batubara. dari tanjung enim
ke tarahan panjang. dan ia terhibur
meski rumahnya tersiram lumpur
dan debu yang menutupi pandangan
truktruk itu berjalan kompoi
dalam pekat malam
ataupun terik siang
Mad selalu bilang ke tamu yang datang,
pemandangan seperti ini hanya ada di Way Kanan
truktruk yang melaju kencang
tonase tinggi; menandu batu hitam
ruas jalan jadi rusak. “kalau ingin selamat
lintasi jalan di sini,
kau harus hatihati,” pesan Mad, membaca
tanda lalu lintas di tepi jalan
dulu, ruas jalan lintas tengah, Way Kanan,
tidak seperti sekarang. tak kau temukan
berlubang ataupun bergelombang
setiap kendaraan bagai selancar di atas salju
orangorang yang melangkah di pagi buta
tak khawatir disenggol, apalagi ditimpa
truk yang terbalik di jalan yang rusak
rumahrumah benderang. lampulampu
kendaraan layaknya cahaya kunangkunang
anakanak bermain di pekarangan
di bawah purnama yang terang
sorot lampu dari kendaraan
menciptakan sebersit bayang
itulah keriangan di masa anakanak
Baca Juga: Puisi Esai Isbedy Stiawan ZS: Perempuan di Seberang Istana Batubara
–aku nikmati sekali kala itu,
malam adalah perjalanan usia
yang berwarnawarni–
kini jalan sudah tak lagi mulus, sebagian
warga mencari lahan baru untuk rumah
atau migrasi ke kota. tak tahan lantaran
lingkungan rusak. sejak truktruk batubara
beratus kali melintas sejak pagi ke lain pagi
sementara warga di tepi ruas jalan hanya
mendapatkan debu dan muntahan lumpur
sedangkan pengusaha tambang
hidup mewah dan kelimun riang
warga di sini tak dapat kompensasi
apaapa, selain batuk dan asma
jembatan yang dulu kokoh
mulai tampak rapuh
suara tubuh reotnya
menjadi hantu setiap warga
yang melintas di sana
“perekenomian mulai lumpuh,
hasil perkebunan busuk
sebab lambat diangkut,” Mad bercerita,
kecemasan itu mengalir bagai anak sungai
warga sepakat; “kita harus tolak truk
yang akan melintas. kita paksa balik arah.”
Baca Juga: Puisi Esai Denny JA: Marhaen di Abad 21
dan aparat kepolisian turut membantu
merazia truk batubara melebihi tonase
dan over dimension over loading (ODOL).(2)
tapi, apakah masalah jalan di sini kemudian
selesai? sampai kini, kata Mad, trukttuk
batubara terus saja menumbuk
jalan sampai benarbenar jadi bubuk
“apakah korban kecelakaan akibat ruas jalan
rusak, harus terus bertambah?” tanya Mad
Baca Juga: Puisi Esai Denny JA: Mohammad Hatta dan Korupsi yang Menggila
siang berkabut
sesaat hujan
dan jalan di depan rumahnya
akan kembali jadi kolam
ikanikan berenang…