Diplomasi Gencatan Senjata AS-Iran: Kesepakatan yang Tidak Menyelesaikan Apapun, Cuma Menunda Perang

ORBITINDONESIA.COM - Al Jazeera melaporkan telah memperoleh bocoran kerangka kesepakatan AS-Iran yang diusulkan, yang ditengahi oleh Turki, Qatar, dan Mesir.

Di atas kertas, kesepakatan ini tampak seperti pengekangan terhadap Iran. Pada kenyataannya, kesepakatan ini lebih seperti jeda dalam perang, di mana kedua pihak tidak meyakini bahwa perang telah betul-betul berakhir.

Syarat-syaratnya sangat luas, dramatis—hampir teatrikal.

Iran akan berkomitmen untuk tidak melakukan pengayaan uranium selama tiga tahun, diikuti oleh pengayaan yang dibatasi di bawah 1,5 persen. Persediaan uranium Iran yang sangat diperkaya akan dipindahkan keluar negeri ke pihak ketiga.

Teheran akan menghentikan transfer senjata dan teknologi ke sekutu non-negara regionalnya (Houthi Yaman, Hamas, Hizbullah Lebanon). Iran akan berjanji untuk tidak memulai penggunaan rudal balistik. Dan akhirnya, Iran dan Amerika Serikat akan menandatangani perjanjian non-agresi.

Jika kesepakatan ini terdengar bersejarah, itu karena memang dimaksudkan demikian. Diplomasi menyukai citra.

Tetapi pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah ini memuaskan Washington. Pertanyaannya adalah apakah kesepakatan AS-Iran itu memuaskan Israel—dan jawabannya hampir pasti tidak.

Israel tidak memandang Iran sebagai masalah yang dapat dinegosiasikan. Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial. Rezim Iran secara terbuka membenci Israel dan tidak pernah menyembunyikan keyakinannya bahwa negara itu seharusnya tidak ada.

Dari perspektif Israel, setiap kesepakatan yang membiarkan rezim Teheran tetap utuh—terlepas dari tingkat pengayaan uranium atau janji tentang rudal balistik—hanyalah penundaan, bukan solusi. Begitulah cara pandang Israel.

Di sisi lain, Iran memahami realitas ini dengan jelas. Teheran tahu bahwa tidak ada jaminan tertulis apapun yang akan menghapus tujuan strategis Israel: untuk memastikan Iran tidak pernah mencapai titik, di mana ia dapat secara menentukan mengancam negara Israel.

Itulah sebabnya mengapa setiap perjanjian AS-Iran, betapapun detailnya, diperlakukan di Teheran sebagai sesuatu yang sifatnya sementara—berguna untuk memperoleh bantuan, memberi waktu, dan melakukan reposisi.

Inilah kebohongan inti diplomasi Timur Tengah modern: perjanjian yang seolah menyelesaikan kontradiksi. Padahal tidak. Perjanjian hanya menangguhkan kontradiksi tersebut.

Singkirkan segala basa-basi dalam rumusan bahasanya, dan kesepakatan ini sebenarnya bukanlah perdamaian—melainkan sekadar jeda.

Karena, baik di bawah Barack Obama, Joe Biden, atau Donald Trump, konsensus jangka panjang di Washington tidak pernah berubah. Sanksi, perundingan, kampanye tekanan, atau serangan, semua itu hanyalah alat yang berbeda untuk menuju tujuan strategis yang sama: perubahan rezim di Iran, baik cepat atau lambat, terang-terangan atau terencana.

Itulah konstanta yang tak terucapkan. Iran mengetahuinya. Israel mengetahuinya. Dan negara-negara di kawasan Timur Tengah itu mengetahuinya.

Jadi, kesepakatan apa pun yang muncul—sekalipun terlihat komprehensif, sekalipun diatur dengan cermat—tidak akan mengakhiri konflik. Itu hanya akan menunda bentrokan.

Gencatan senjata yang ditulis dengan tinta diplomatik, menunggu untuk dibatalkan dan dihancurkan oleh krisis berikutnya, pemilihan umum berikutnya, atau perhitungan berikutnya, bahwa waktu telah habis.

Ini bukan perdamaian. Ini adalah jeda dalam perang.

6 Februari 2026

*Satrio Arismunandar, pakar SCSC (South China Sea Council), dinarasikan berdasarkan data The Movement For Social Change-GH. ***