DECEMBER 9, 2022
Internasional

China Tanggapi Dukungan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk Potong Anggaran Pertahanan Negara Besar

image
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

ORBITINDONESIA.COM - Pemerintah China menanggapi pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang usulan pemotongan anggaran pertahanan negara-negara besar, dengan mengatakan besaran anggaran tersebut bertujuan untuk menjaga kedaulatan nasional.

"China berkomitmen untuk pembangunan yang damai. Anggaran pertahanan yang dibatasi tidak akan sesuai dengan kebutuhan untuk menjaga kedaulatan nasional, kepentingan keamanan, pembangunan dan kebutuhan menjaga perdamaian dunia," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa, 25 Februari 2025.

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam wawancara dengan televisi lokal pada Senin, 24 Februari 2025 mendukung usulan Presiden AS Donald Trump agar Rusia, Amerika Serikat (AS), dan China memangkas anggaran pertahanan mereka hingga setengahnya.

Baca Juga: Presiden Rusia Putin dan Presiden Iran Pezeshkian Tandatangani Perjanjian Formalisasi Kerja Sama Militer

Putin mengatakan, bila AS memangkas hingga 50 persen dan Rusia juga memangkas hingga 50 persen, lalu China juga akan bergabung jika China mau. Rusia pun siap untuk membahasnya.

Sebelumnya pada 13 Februari 2025, Donald Trump mengatakan bahwa ia ingin memulai kembali perundingan pengendalian senjata nuklir dengan Rusia dan China.

Trump berharap, AS, Rusia dan China memiliki kesepakatan untuk memangkas anggaran pertahanan mereka yang sangat besar hingga setengahnya.

Baca Juga: Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin Bertemu Secara Virtual

"Beberapa tahun terakhir telah menyaksikan peningkatan yang stabil dalam anggaran pertahanan global. Menurut statistik, anggaran pertahanan global tahun 2024 adalah sekitar 2,43 triliun dolar AS, tertinggi sepanjang masa," ungkap Lin Jian.

Di balik peningkatan stabil dalam anggaran pertahanan global, ungkap Lin Jian, adalah karena adanya situasi keamanan internasional dan regional yang semakin tegang dan defisit keamanan yang meningkat.

"Semua pihak menghadapi tantangan bersama dalam tata kelola keamanan global. Komunitas internasional, terutama negara-negara besar, harus memimpin dalam bertindak sebagai pendorong solidaritas global dan jangkar bagi perdamaian dunia," tambah Lin Jian.

Baca Juga: Presiden Vladimir Putin: Negosiasi Antara Rusia dan Ukraina Tidak Sah Jika Dilakukan Sekarang

Lin Jian mengatakan China menegakkan strategi pertahanan diri, mengejar pembangunan yang terkoordinasi antara ekonomi dan pertahanan nasionalnya, dan tidak pernah terlibat dalam perlombaan senjata dengan negara mana pun.

"China telah berupaya untuk menjaga perdamaian dunia melalui tindakan nyata dan menyuntikkan stabilitas dan kepastian ke dunia," ungkap Lin Jian.

Presiden Trump menyesalkan ratusan miliar dolar AS yang digunakan untuk membangun kembali persenjataan nuklir di AS dan mengatakan bahwa ia berharap untuk mendapatkan komitmen dari musuh-musuh AS agar juga memangkas pengeluaran senjata nuklir mereka.

Baca Juga: Presiden Ukraina Zelenskyy Siap Bertemu Putin untuk Akhiri Perang Ukraina - Rusia

Selanjutnya Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menginstruksikan Pentagon dan seluruh militer AS untuk mengembangkan rencana pengurangan anggaran pertahanan sebesar 8 persen per tahun selama lima tahun ke depan.

Sedangkan Presiden Putin mengakui bahwa pada 2024, belanja pertahanan dan keamanan mencapai sekitar 8,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia.

Putin lalu mengatakan usulan Trump bagus dan Rusia siap untuk berdiskusi. Dalam wawancara yang sama, Putin juga juga mengusulkan eksplorasi bersama atas produksi logam tanah jarang bekerja sama dengan AS.

Baca Juga: Dubes Rusia Sergei Tolchenov: Belum Ada Konfirmasi Presiden AS Donald Trump Menelepon Putin

Ia menambahkan bahwa Rusia memiliki beberapa lokasi produksi logam tanah jarang terbesar di dunia di wilayah paling utara negara tersebut serta di Kaukasus, Siberia, Timur Jauh, dan wilayah Ukraina yang diduduki Rusia dan disebut Putin sebagai "wilayah baru".

"Kami siap menarik mitra asing ke apa yang disebut wilayah baru, wilayah bersejarah kami yang telah kembali ke Rusia. Ada cadangan tertentu di sana juga. Kami siap bekerja dengan mitra kami, termasuk Amerika," kata Putin.***

Halaman:

Berita Terkait