Resensi Buku Karya Teguh Santosa: Meniti Buih Reunifikasi Korea
- Penulis : Satrio Arismunandar
- Senin, 24 Februari 2025 15:00 WIB

Adapun Korea Utara berhaluan politik yang tertutup dan kepemimpinan terpusat dengan Kim Il Sung sebagai "the founding fathers" satu kutub dengan Uni Soviet (setelah ambruk berganti nama menjadi Rusia) serta China.
***
Buku ini berasal dari disertasi "Reunifikasi Korea dengan Keterlibatan Multipihak: Suatu Studi Melalui Game Theory" di Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung.
Dalam buku ini, penulisnya, Teguh Santosa, berupaya membaca prospek unifikasi di Semenanjung Korea dengan mendalami dinamika di lingkungan internal dan eksternal kedua Korea. Hal itu dianggap berpengaruh dalam pembuatan kebijakan luar negeri kedua Korea.
Baca Juga: Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un Serukan Peningkatan Kekuatan Nuklir Tanpa Batas
Teguh Santosa adalah seorang jurnalis, dosen dan sekaligus diplomat yang intim dengan isu Korea, terutama Korea Utara. Saya sebut diplomat, tanpa terkurung definisi kaku atas profesi diplomat, karena Teguh adalah utusan Rachmawati Soekarnoputri (putri ideologis Bung Karno) untuk mewakilinya ke Pyongyang, Korea Utara di tahun 2003 dan 2015. Kita tahu Bung Karno adalah seorang pemimpin Asia, bahkan juru bicara Dunia Ketiga, yang begitu tergoda mewujudkan perdamaian dunia dan menyadari bahwa perbedaan ideologi politik dan lain-lain adalah suatu keniscyaan di dunia beradab.
Pada Oktober 2015, Teguh bahkan mewakili Rachmawati untuk memberikan trofi dan sertifikat "Star of Soekarno" kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Anugerah untuk Kim Jong Un itu diserahkan Teguh pada Presiden Presidium Majelis Tertinggi Rakyat Korea, Kim Yong Nam.
Satu lagi, Teguh getol mengampanyekan dan memperjuangkan reunifikasi damai Semenanjung Korea lewat "Asia Pasific Regional Committee for Peaceful Reunification of Korea". Ini menjelaskan betapa intim dan begitu dekatnya Teguh dengan isu atau topik yang dia teliti dan lalu dibukukan menjadi "Reunifikasi Korea: Game Theory" ini.
Buku ini memang berasal dari disertasi, tapi bukan sejenis karya ilmiah yang bikin dahi berkerut karena ruwetnya cerita dan cara menyampaikan (penulisan) yang membuat pembaca menggerutu. Sebaliknya buku ini ditulis dengan renyah, mengalir dan taat pada bahasa Indonesia yang baku, tapi tidak beku.
Sebuah buku yang berbicara dengan tertib, runtut dan sistematis sehingga lengkap menyuguhkan dinamika lingkungan internal dua Korea serta dinamika lingkungan internasional, yang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, berpengaruh dan menentukan arah angin perdamaian dan reunifikasi di negara penting di Asia Timur itu.
***
Selain aspek historis, dua negara memiliki modal penting -- kalau bukan insentif -- untuk maju ke meja perundingan dan bernegosiasi karena memasukkan urgensi reunifikasi dalam konstitusi masing-masing. Walau begitu, menurut Teguh, perspektif, orientasi dan tujuan reunifikasi kedua negara itu berbeda. Konstitusi Korsel menyebutkan wilayah Republik Korea terdiri atas Semenanjung Korea dan pulau-pulau yang berdekatan dengannya.
Baca Juga: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Resmi Didakwa dengan Tuduhan Pemberontakan
Konstitusi Korea Utara menyatakan negara revolusioner itu mewakili tradisi unggul yang terbentuk sepanjang perjuangan melawan imperialis untuk mencapai kemerdekaan tanah air dan kesejahteraan rakyat. Bagi Korut, reunifikasi tak hanya terkait penyatuan kedua Korea, namun juga bagian dari perjuangan melepaskan diri dari pihak-pihak yang menjajah serta turut campur dalam hubungan antar-Korea (hal. 189).