Menuju Era Penguatan Fondasi Transformasi Pembangunan Indonesia
- Penulis : M. Imron Fauzi
- Jumat, 01 November 2024 05:13 WIB

Pertumbuhan ekonomi dari sisi produksi yang menjadi kerangka ekonomi makro 2025--2029 dalam Rancangan Teknokratik RPJMN mencakup beberapa target. Mulai dari industri pengolahan 5,8--7 persen, pertanian 3,5--4 persen, listrik 5,6--6,1 persen, konstruksi 6,4--6,7 persen, transportasi 7,4--8,6 persen, perdagangan 5,2--5,6 persen, informasi dan komunikasi (infokom) 7,8--8,5 persen, dan pertambangan 3,9--4,1 persen.
Adapun pertumbuhan ekonomi pada sisi pengeluaran terdiri dari konsumsi Rumah Tangga (RT) Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) 5,4--5,6 persen, konsumsi pemerintah 5--5,7 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/Investasi 6,4--6,7 persen, ekspor barang dan jasa 7,2--7,9 persen, serta impor barang dan jasa 7,4--8,3 persen.
Seluruh ambisi tersebut ditujukan untuk memperoleh pertumbuhan ekonomi 5,6--6,1 persen secara rata-rata.
Target lainnya ialah Gross National Income/GNI per kapita 5.500 dolar Amerika Serikat (AS) sebagai baseline pada tahun 2025 menjadi 7.400-7.670 dolar AS, kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) maritim 8,1 persen menjadi 9,1 persen, kontribusi PDB manufaktur 20,9 persen menjadi 21,9--23 persen, tingkat kemiskinan 6-7 persen menjadi 4,5--5 persen, indeks rasio gini 0,379--0,382 menjadi 0,372-0,375, lalu kontribusi Produk Domestik Regional Bruto Kawasan Timur Indonesia (PDRB KTI) 21,5 persen per data tahun 2022 menjadi 23,3 persen pada 2029.
Kemudian, peringkat Global Power Index ditargetkan meningkat, dari 34 sebagaimana baseline tahun 2023 menjadi 29 pada tahun 2029, Indeks Modal Manusia 0,54 sesuai data tahun 2022 menjadi 0,61, dan penurunan intensitas emisi gas rumah kaca, dari 38,6 persen pada 2025 menjadi 62,37 persen.
Sasaran-sasaran tersebut menjadi tanggung jawab Bappenas yang menjadi pengambil keputusan, koordinator, dan think-tank perencanaan pembangunan Indonesia, serta mampu “merekayasa” lingkungan sedemikian rupa sehingga dapat memengaruhi masyarakat untuk mengubah pola perilaku dan mutu kehidupan mereka.
Baca Juga: Sandiaga Uno Sedang Godok Kebijakan Moratorium Pembangunan Hotel dan Stop Konversi Lahan Pertanian
Peran baru arsitek pembangunan nasional
“Setiap orang itu ada masanya dan setiap masa ada orangnya.” Pernyataan tersebut, yang konon diucapkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dikutip oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas periode 2019-2024 Suharso Monoarfa dalam prosesi serah terima jabatan (sertijab).
Jabatannya sebagai Menteri PPN/Kepala Bappenas diserahkan kepada Rachmat Pambudy, seorang Guru Besar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang akan memimpin selama periode 2024--2029.
Baca Juga: Siti Nugraha Mauludiah: Indonesia Tegaskan Komitmen Kolaborasi Pembangunan Dengan Afrika
Akademikus ini bukan sosok baru bagi Presiden RI Prabowo Subianto. Pada tahun 2009, Partai Gerindra sempat mengajukan namanya untuk bergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, tetapi akhirnya Gerindra memutuskan tak bergabung dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).