Istri Almarhum Gus Dur, Shinta Nuriyah Buka Puasa di Gereja Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates, Yogyakarta
- Penulis : Satrio Arismunandar
- Jumat, 22 Maret 2024 05:34 WIB
ORBITINDONESIA.COM - Istri Presiden Republik Indonesia keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Shinta Nuriyah berbuka bersama dengan umat lintas agama, difabel dan kaum marjinal di Kompleks Gereja Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Shinta Nuriyah, di Kulon Progo, bertanya soal makna dari puasa.
"Puasa untuk menggugurkan kewajiban tahunan atau usaha karena Allah SWT, dan atau Ramadan datang lalu puasa yakni menahan dahaga dan lapar dari pagi sampai matahari terbenam?," tanya Shinta Nuriyah.
Baca Juga: Butir Butir Filsafat dan Pemikiran Gus Dur tentang Agama dan Sebagainya
Shinta bicara dalam acara bertajuk Buka Puasa Bersama Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, di Kompleks Gereja Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates pada 15.30 WIB-19.00 WIB, Kamis, 21 Maret 2024 petang.
Menurut Shinta Nuriyah, puasa yang sebatas menggugurkan kewajiban akan memunculkan keserakahan dan kezaliman, dan kegiatan-kegiatan yang tidak pas.
"Untuk itu, jangan melakukan puasa formalistik belaka, tapi puasa yang revolusioner yang mengubah orang yang berpuasa menjadi orang berkepribadian lebih baik," katanya lagi.
Baca Juga: Nasihat Gus Dur tentang Sholat
Lebih lanjut, Shinta Nuriyah mengatakan dirinya sangat senang berbuka puasa di Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates. Menurutnya, acara ini merepresentasikan wajah Indonesia yang penuh dengan keberagaman suku dan agama.
"Saya sendiri merasa sangat bahagia, karena saya merasa bahwa saya seolah-olah melihat miniatur Indonesia yang sangat indah. Karena di sini berkumpul tidak hanya berbagai suku bangsa, tapi juga berbagai agama. Inilah wajah dari rakyat Indonesia. Karena itu sekali lagi saya merasa bahagia sekali hadir di tempat ini," katanya pula.
Shinta juga berpesan kepada rakyat Indonesia, agar senantiasa menjaga kerukunan serta toleransi antarumat beragama.
Baca Juga: Perkumpulan Penulis Satupena Akan Diskusikan Pemikiran Islam Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafii
"Kita ini adalah masyarakat yang pluralis, terdiri dari berbagai suku dan agama. Karena itu harus bisa hidup rukun, saling menghormati saling menghargai, saling menyayangi, itu pesan saya," katanya lagi.