Anjuran Menulis di Era Artificial Intelligence Dari Denny JA
- Penulis : Krista Riyanto
- Jumat, 01 Agustus 2025 13:00 WIB

Oleh Rosadi Jamani*
ORBITINDONESIA.COM - Tadi malam saya ikut rapat tahunan Satupena se-Indonesia. Online, tentu saja. Karena kalau offline, saya harus memikirkan transportasi, akomodasi, dan money. Di layar zoom muncullah beliau, Denny JA, Ketua Umum Satupena.
Mungkin banyak belum tahu. Tapi, kalau Denny JA yang tukang survei itu, pasti banyak menganggukkan kepala. Kenal.
Baca Juga: Rosadi Jamani: Buku Tak Lagi Didewakan
Ia duduk di kursi sofa, matanya tajam menatap layar. Suaranya yang besar dan gahar menjadi ciri khas utamanya. Wajahnya tampak bercahaya. Entah karena lampu ringlight atau karena memang beliau sudah mencapai level penulisan yang tak bisa dicapai oleh manusia biasa.den
Denny JA tidak datang membawa puisi. Ia datang membawa kenyataan. Materi presentasinya berjudul “Menulis di Era AI”, tetapi efeknya seperti ceramah kiamat bagi para penulis yang hidup dari likes dan ucapan “Keren bang tulisannya.” Ia menyuguhkan data. Bukan dusta. Empat tipe penulis dibentangkan seperti kartu tarot nasib literasi:
Pertama, penulis miliarder/triliuner. Mereka sangat langka. Hanya 600 orang dari 50 juta penulis aktif dunia. Mereka tak menulis demi sekadar dibaca, mereka menulis dan dunia bersujud. Mereka kawin dengan Hollywood. Buku mereka dijadikan serial. Bahkan bila mereka batuk, Netflix bisa bikin dokumenter tentangnya. Contohnya? J.K. Rowling. Si ibu dari Harry Potter. Kaya raya, masuk klub triliuner, tokonya di mana-mana, bukunya diterjemahkan ke 80 bahasa, tapi… tak pernah menang Nobel Sastra. Ironis, bukan?
Baca Juga: Rosadi Jamani: Buku Tak Lagi Didewakan
Lalu datang penulis lain, entah siapa namanya, entah dari desa mana, bukunya tidak dijual di minimarket, tidak difilmkan, bahkan tidak dibaca oleh sepupunya sendiri. Tapi… dia meraih Nobel. Hadiah paling sakral dalam dunia kata-kata. Dunia mengangguk. Dunia bertepuk tangan. Tapi dompetnya tetap tipis.
Itulah dunia kepenulisan. Tak adil. Tetapi magis.
Seperti halnya film. Film Rhoma Irama bisa bikin satu kampung berbondong-bondong ke bioskop, bisa bikin nenek-nenek teriak histeris dan anak muda merenung di teras. Tetapi tidak pernah meraih Piala Citra. Justru film yang membuat kita tidur di kursi, lalu bangun dan bertanya “Ini film udah habis?”, malah menang penghargaan. Dunia ini aneh. Tapi kita hidup di dalamnya.
Baca Juga: Rosadi Jamani: Buku Tak Lagi Didewakan
Denny JA lanjut memetakan tiga golongan lainnya, penulis full-timer (yang bisa makan dari tulisan), penulis part-timer (yang makan dari kerjaan lain, tapi tetap menulis diam-diam), dan penulis karena makna, yang menulis karena kalau tidak menulis, mereka bisa gila atau lebih buruk lagi, jadi influenser atau buzzer.
Namun yang membuat malam itu mistis adalah pernyataan pamungkas Denny JA, “AI bukan musuh. AI adalah asisten.” Seperti tuyul digital yang bisa bantu merangkai ide, menyunting naskah, bahkan meniru gaya sastra latin abad ke-14. Tetapi penulis sejati, katanya, tetaplah penjaga makna. Di tengah derasnya kata-kata buatan mesin, manusia harus tetap jadi makhluk yang memilih, memilah, dan memaknai.
Saya terpana seperti bertapa. Lalu melihat diri di cermin, wajah penulis part-timer yang belum mandi dan belum selesai revisi. Tetapi hatiku panas. Semangatku mendidih. Denny JA benar. Kita mungkin tidak jadi miliarder. Mungkin tidak difilmkan. Mungkin tidak viral. Tapi selama kata-kata kita masih punya nyawa, masih bisa menyentuh, menggerakkan, menyentil, atau sekadar membuat satu orang tersenyum di pagi hari yang kelabu, kita menang.
Baca Juga: Puisi Rosadi Jamani: Tewas dalam Pembebasan
Malam tadi saya menulis. Bukan untuk Nobel. Bukan untuk Piala Citra. Tetapi untuk diriku sendiri. Karena dalam dunia yang makin bising oleh suara mesin, tulisan manusialah yang bisa tetap bernyanyi.
Terus terang saya salut dan hormat pada Pak Denny JA yang layak diteladani. Di tengah kesibukkannya sebagai salah satu komisaris di BUMN, setiap hari ia menulis. Ada saja yang ditulisnya. Lah, saya yang hanya sibuk ngopi, masa’ kalah. Saya menyebutnya, dialah narasumber yang menulis, mirip seperti abah Dahlan Iskan.***
*Rosadi Jamani, Ketua SATUPENA Kalimantan Barat