DECEMBER 9, 2022
Ekonomi Bisnis

Muhammad Yamin: Indonesia Harus "Bermain Cantik" Hadapi Kebijakan Tarif Donald Trump

image
Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr Muhammad Yamin. ANTARA/HO-Unsoed

ORBITINDONESIA.COM - Akademikus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr Muhammad Yamin mengatakan, Indonesia harus "bermain cantik" dalam menghadapi kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mengenakan tarif dasar dan bea masuk baru kepada banyak mitra dagang.

"Indonesia tidak bisa dipungkiri ya kita harus punya strategi. Ada beberapa negara yang cukup super power kayak China melakukan 'perang', sementara negara-negara Eropa melakukan negosiasi supaya minimal dikurangi persentase tarif ekspornya," kata Muhammad Yamin, Dosen Jurusan Hubungan Internasional Unsoed itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat siang, 4 April 2025.

Terkait dengan hal itu, Muhammad Yamin mengatakan, Indonesia dengan posisi politik luar negerinya apakah tetap akan melakukan negosiasi seperti yang disampaikan oleh pemerintah.

Baca Juga: Produsen Mobil Eropa Resah dengan Tarif Baru AS yang Diterapkan Presiden Trump

Padahal jika berhitung secara kalkulasi dagang, kata dia, Indonesia tidak terlalu banyak bergantung pada produk-produk AS, karena yang paling banyak justru dari negara-negara lain seperti China, sehingga sebenarnya tidak terlalu khawatir terhadap tarif "timbal balik" yang diterapkan Presiden Trump.

"Kita kepada Amerika Serikat sebenarnya lebih ke hitech (teknologi canggih) dan memang kemudian kita masih menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang perdagangan internasional," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, Indonesia harus pintar membaca peluang dan membaca tantangan karena kebijakan tersebut sebenarnya merupakan peluang untuk bisa lepas dari cengkeraman-cengkeraman investasi asing yang menggunakan dolar atau dari Amerika Serikat.

Baca Juga: Sangat Marah Pada Putin, Trump Ancam Kenakan Tarif Sekunder Sektor Minyak Rusia Terkait Ukraina

Bahkan di Indonesia pun, lanjut dia, investasi dari Amerika Serikat tidak terlalu besar meskipun masuk dalam lima besar investor asing di Indonesia.

"Tetapi Amerika Serikat bukan nomor satu, masih dikuasai oleh Singapura, Jepang, dan China. Artinya, kita 'bermain cantik' saja, toh kita ketika 32 persen, produk-produk yang kita kirim ke Amerika Serikat seperti kopi, cengkih, dan tembakau memang bukan yang dominan," katanya.

Dalam hal ini, kata dia, produk-produk Indonesia yang diekspor ke Amerika Serikat bukanlah produk yang memengaruhi pasar internasional secara langsung seperti halnya minyak atsiri dan sebagainya.

Baca Juga: Wall Street Muak dengan Tarif Trump, Saham Berada di Jalur Kuartal Terburuknya dalam Beberapa Tahun

Dengan demikian, lanjut dia, Indonesia lebih baik "bermain cantik" dengan mencari pasar baru di negara-negara yang mau menerima produk-produk tersebut.

Halaman:

Berita Terkait