DECEMBER 9, 2022
Internasional

Donald Trump Ingin Rayu Greenland dengan Manfaatkan Sejarah Perang Dunia II

image
Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA)

ORBITINDONESIA.COM - Dalam upaya halus untuk kembali mengincar Greenland, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah video bergaya dokumenter di platform X pada Jumat.

Video Trump tersebut menyerukan persatuan kembali antara AS dan Greenland di tengah apa yang ia sebut sebagai meningkatnya ancaman dari Rusia dan China.

Dalam video yang diiringi cuplikan sejarah, diceritakan bagaimana kedua pihak -- AS dan Greenland -- pernah bekerja sama selama Perang Dunia II.

Baca Juga: Wapres JD Vance: Presiden Donald Trump Serius Mau Mengakuisisi Greenland Meski Ditentang Eropa

"Greenland tanpa sadar menjadi pihak yang terlibat dalam konflik, dan AS turun tangan bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk melindungi," kata penyampai narasi (narator) dalam video tersebut.

Kisah yang disampaikan menyoroti peristiwa penenggelaman kapal militer AS akibat torpedo pada tahun 1943 dalam perjalanan ke Greenland, serta pengorbanan empat pendeta Amerika yang menyerahkan rompi pelampung mereka untuk menyelamatkan orang lain.

Melalui sejarah ini, Trump ingin membangun argumen tentang pentingnya aliansi strategis di kawasan Arktik.

Baca Juga: Presiden AS Donald Trump Tetap Ngotot Ingin Caplok Greenland Saat Jamu Sekjen NATO

"Bersama-sama, rakyat Amerika dan Greenland berdiri sebagai penjaga di puncak dunia," ujar narator, seraya memperingatkan tentang "ancaman baru dari agresi Rusia dan ekspansi China."

Video tersebut ditutup dengan pesan: "Sekarang adalah saatnya untuk kembali bersatu. Demi perdamaian, keamanan, dan masa depan. Amerika berdiri bersama Greenland."

Sementara itu, survei menunjukkan bahwa sebagian besar warga Greenland menentang gagasan bergabung dengan Amerika Serikat.

Baca Juga: Ratusan Warga Denmark Gelar Aksi Protes di Depan Kedutaan Amerika Serikat tentang Isu Greenland

Video itu dirilis bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Greenland, yang jadwalnya dipersingkat akibat mencuatnya kontroversi. Selain itu, pernyataan Trump yang dilontarkan beberapa hari sebelumnya semakin menambah polemik.

Halaman:

Berita Terkait