Hamas Kecam Israel Karena Menunda Pembebasan Warga Palestina
- Penulis : Dody Bayu Prasetyo
- Senin, 24 Februari 2025 03:45 WIB

ORBITINDONESIA.COM - Hamas pada Minggu, 23 Februari 2025, mengecam Israel karena menunda pembebasan tahanan asal Palestina.
Kelompok perlawanan Palestina itu menilai penundaan oleh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dan pertukaran tawanan dengan Hamas.
Israel semula akan membebaskan 620 warga Palestina pada Sabtu, 22 Februari 2025, untuk ditukar dengan enam sandera yang dibebaskan Hamas. Namun, Israel menunda pembebasan itu karena proses penyerahan sandera oleh Hamas dinilai "memalukan".
Baca Juga: PM Israel Netanyahu: Perang Akan Dihentikan Jika Pemimpin Hamas Pergi dari Gaza ke Negara Ketiga
"Klaim Israel itu salah dan lemah serta bermaksud untuk menghindari kewajiban sesuai kesepakatan," kata pemimpin Hamas, Ezzat Al Rishq, dalam sebuah pernyataan.
"Upacara penyerahan tidak menghina tawanan, tetapi menunjukkan perlakuan manusiawi terhadap mereka," kata dia.
Israel mengatakan akan menunda pembebasan hingga penyerahan sandera berikutnya dilakukan tanpa upacara "yang merendahkan".
Baca Juga: Hamas Bebaskan Tiga Sandera Israel di Tengah Gencatan Senjata Gaza
"Penghinaan sesungguhnya adalah perlakuan terhadap tahanan Palestina dalam proses pembebasan mereka, yang kerap melibatkan penyiksaan, pemukulan, dan penghinaan yang disengaja hingga saat-saat terakhir," kata Rishq.
"Para tahanan Palestina dibebaskan dengan tangan diborgol dan mata tertutup, keluarga mereka diancam agar tidak merayakan kepulangan mereka,” kata dia.
Rishq menuduh pemimpin Israel Benjamin Netanyahu sengaja menyabotase kesepakatan Gaza. Netanyahu disebutnya terang-terangan melanggar perjanjian dan Israel kurang bertanggung jawab memenuhi komitmennya.
Baca Juga: Israel Langgar Gencatan Senjata Gaza, Hamas Tunda Pembebasan Sandera
Rishq mendesak para mediator dan komunitas internasional untuk menekan Israel agar menghormati kesepakatan dan membebaskan para tahanan tanpa menunda-nunda.
Kesepakatan gencatan senjata yang mulai diberlakukan bulan lalu itu telah menghentikan perang genosida yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza.
Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 48.300 warga Gaza, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan menghancurkan wilayah kantong Palestina itu.
Baca Juga: Hamas Siap Serahkan Kendali Gaza kepada Otoritas Nasional Palestina
Mahkamah Pidana Internasional pada November mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant, karena melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilancarkannya di Jalur Gaza.***