Di Bawah Langit yang Bersyahadat
- Minggu, 15 Desember 2024 05:25 WIB

Oleh: Leni Marlina
"Dan langit itu Kami tinggikan dengan kekuasaan Kami, dan Kami pula yang meluaskannya." — QS. Adh-Dhariyat: 47
<1>
ORBITINDONESIA.COM - Fajar tak lahir dari rahim malam,
ia terbit dari firman yang dilantunkan dalam sunyi.
Cahaya bukan sekadar terang,
ia adalah napas pertama semesta,
menggetarkan cakrawala yang berlutut
di bawah nama-Nya.
Langit membuka dirinya seperti mushaf,
setiap retaknya adalah ayat
yang mengabarkan luka manusia.
Awan bergelayut bukan sebagai tirai,
tapi tinta yang menuliskan takdir,
mengambang dalam warna kelabu kehendak.
<2>
Gunung-gunung bertakbir dalam diam,
melontarkan bayangannya ke lembah-lembah sujud.
Mereka berdiri sebagai saksi purba,
menyimpan sumpah yang pernah terucap
oleh para nabi dan umat yang tersesat.
Lembah tidak sekadar kosong,
ia adalah halaman di mana doa-doa
menggema tanpa suara.
Petir menyelinap di balik awan,
seperti ketakutan pada kekuasaan Tuhan.
Kilauannya bukan ancaman,
melainkan peringatan:
"Dan Dialah yang mengirimkan kilat sebagai ketakutan dan harapan."
Hujan turun perlahan,
membawa rahmat yang terbungkus rahasia.
Tetesannya membasuh tanah yang haus,
tapi juga meninggalkan jejak
seperti dosa-dosa yang menolak larut.
<3>
Dan laut?
Ia berzikir dengan gelombang,
setiap hempasannya mengucapkan asma-Nya.
Namun di dasar palung,
janji-janji manusia terbenam,
seperti kapal-kapal yang lupa arah kiblat.
Laut bukan sekadar air,
ia adalah cermin takdir,
menghempaskan segala yang fana.
Di bawah langit yang bersyahadat,
seorang hamba berdiri dalam kekosongan.
Matanya adalah cawan doa,
tangannya menggenggam butir-butir dzikir,
kakinya tertanam dalam debu bumi
yang kelak menjadi saksi.
<4>
Horizon bukan garis,
ia adalah ilusi:
tempat di mana dunia berakhir
dan keabadian dimulai.
Dan di sinilah puisi ini lahir,
bukan sebagai keindahan,
tapi sebagai tasbih yang patah—
lantunan yang terus terulang,
mengabarkan keagungan-Nya
di tengah luka semesta.
Padang, Sumbar, 2023 ***
Catatan:
Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2023 puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.
Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATUPENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria's Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC); (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat); (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia).