DECEMBER 9, 2022
Kolom

Goenawan Mohamad: Dua Paus

image
Adegan film Two Popes (Foto: The Hollywood Reporter)

Ia tak selesaikan kalimatnya. Tapi kemudian ia ucapkan keputusannya: Gereja harus berubah, dan Begoglio-lah yang akan membawanya. Ia sendiri akan mengundurkan diri; ia ingin Kardinal Argentina itu jadi Paus berikutnya.

Bergoglio menolak. Ia bukan orang yang tepat. Ada yang gelap di masa lalunya: di tahun 1970-an, untuk menjaga keselamatan gereja dan umat, ia bekerja sama dengan diktatur militer yang baru mengambil alih kekuasaan. Ketika teman-teman Jesuitnya membuat gerakan untuk demokrasi,
ia tak membantu. Mereka disergap, di antaranya dibunuh. Ia dituduh berkhianat, dan ia merasa berkhianat. Ia berdosa.

Dan baginya, “dosa itu luka, bukan cuma noda”. Maaf saja tak cukup.

Baca Juga: Staf Museum di Vatikan Ajukan Pengaduan Kolektif Pertama Kalinya, Minta Perbaikan Kondisi Kerja

Ini berlaku juga bagi Benediktus yang tak mengikis habis kejahatan seks di kalangan padri.

Maka kedua Paus itu bertaut. Saya ingat baris sajak Soebagio Sastrowardojo: “Melalui dosa kita bisa dewasa”.

Kesadaran akan dosa diri tak menghapus dosa itu, tentu, tapi bisa menghapus perasaan paling suci dan ketakaburan — dan kita akan lebih siap memeluk dunia yang rapuh.

Baca Juga: Ketua KWI Antonius Subianto Bunjamin: Paus Fransiskus Bawa Misi Kemanusiaan ke Indonesia

25 Maret 2016:  Paus Fransikus (d/h Kardinal Bergoglio) membersihkan kaki imigran Muslim yang terpaksa lari dari tanah airnya. Caritas in veritate. “Kebenaran vital bagi hidup, tapi tanpa cinta kasih, ia tak tertanggungkan”, kata orang baik dari Argentina itu.

*Goenawan Mohamad adalah kolumnis dan sastrawan. ***

Halaman:
Sumber: WhatsApp grup News

Berita Terkait