Eko Kuntadhi: Papua, Kemewahan dan Air Mata
- Penulis : Dimas Anugerah Wicaksono
- Senin, 26 September 2022 09:05 WIB
ORBITINDONESIA - Saya pernah ke sebuah lokasi yang susah diakses di Papua. Posisinya di atas gunung. Perjalanan ke sana hanya via pesawat kecil, berisi 5-6 orang. Distrik Puldama, di pegunungan oksibil.
Tidak ada akses jalan. Gedung sekolah dengan fasilitas seadanya. Hanya ada satu guru untuk seluruh murid SD. Itupun statusnya honorer.
Ada Puskesmas. Tapi jaraknya sehari jalan kaki. Cuma ditunggui oleh mantri lulusan SMU. Kalau ada pasien, sakit apapun, obatnya sama: vitamin C dan aspirin.
Baca Juga: Hanno Behrens Mengaku Jadi Anak Jaksel
Masyarakatnya tinggal di honay, rumah jerami.
Hidup disana, waktu seperti berjalan pelan. Lelet sekali. Sebab gak banyak aktifitas yang dapat dilakukan. Suasana gelap gulita tanpa penerangan.
Untung saja waktu itu ada program desa terang dari ESDM. Setiap honay dapat satu panel surya, dua lampu, dan batere penyimpan energi. Jadilah ada setitip cahaya di setiap honey itu bila malam turun.
Komunikasi dengan dunia luar terhenti. Wong, gak ada sinyal.Palimg ada satu pesawat walkie talkie untuk menginformasikan pesawat yang landing di jalur berbatu itu.
Di Nduga, lain lagi kisahnya. Satu kabupaten Nduga, jalan aspal paling hanya 5 kilometer saja. Selebihnya jalan seperti kibangan kerbau.