DECEMBER 9, 2022
Kolom

Mengkaji Opsi Tidak Dalam Hantaman "Nuklir" Tarif Trump

image
Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA)

Dengan tidak membalas, suatu negara dapat memberi sinyal kepada pihak lain bahwa mereka tidak tertarik pada eskalasi lebih lanjut, yang dapat menyebabkan de-eskalasi ketegangan. Untuk itu, Australia juga dianggap memberikan pesan diplomatik positif dan tampil sebagai pelaku rasional serta lebih dewasa dalam menghadapi ketegangan perekonomian.

Kerugian penurunan ekspor

Di lain pihak, dengan tidak membalas maka negara tersebut ke depannya berpotensi mengalami kerugian ekonomi dalam bentuk penurunan ekspor. Jika tarif secara khusus ditujukan pada industri-industri utama, negara tersebut dapat menghadapi penurunan pendapatan dan lapangan kerja di sektor-sektor tersebut.

Baca Juga: Presiden Donald Trump Setujui Jeda 30 Hari Atas Ancaman Tarifnya Terhadap Kanada dan Meksiko

Dengan tidak membalas, negara tersebut mungkin dianggap lemah atau tidak mau membela kepentingan ekonominya sendiri, sehingga negara agresor memiliki pengaruh yang lebih besar dalam negosiasi di masa mendatang.

Apalagi, jika negara yang tidak membalas dianggap tidak mau melawan, negara tersebut mungkin akan memberanikan diri untuk mengenakan tarif serupa di masa mendatang, meskipun tahu tidak akan ada konsekuensi yang signifikan dengan menaikkan tarif tersebut.

Selain itu, jika industri dan pekerja suatu negara terkena dampak buruk dari tarif dan pemerintah tidak membalas, negara tersebut mungkin akan menghadapi kritik dari dalam negeri dari berbagai pihak yang mendorong tindakan yang lebih kuat untuk melindungi industri nasional.

Baca Juga: Komisi Eropa: Tak Ada Alasan Pengenaan Tarif AS Buat Ekspor Uni Eropa

Tentu saja apakah ini merupakan strategi yang baik atau tidak tergantung kepada konteksnya. Karena Australia tidak terkena tarif yang lebih tinggi seperti sejumlah negara di kawasan Asia termasuk China dan Indonesia, maka ada kemungkinan Australia dapat menyerap dampak ekonomi jangka pendek terhadap pemberlakuan tarif global AS.

Apalagi, dalam sejumlah kesempatan lainnya, PM Australia menyatakan bahwa negara ingin mendiversifikasi hubungan perdagangan di seluruh dunia, khususnya dengan negara-negara Indo-Pasifik. Untuk itu, Albanese juga menyatakan bahwa dengan memperluas hubungan dagang itu akan membuat Australia tidak bergantung kepada satu negara sertu dapat meningkatkan hubungan di kawasan.

Itulah yang seharusnya dilakukan oleh banyak negara. Dengan menyadari bahwa pemerintahan Trump hanya akan terus mengandalkan ancaman tarif dalam hubungan perdagangan globalnya, maka lebih baik bila kerja sama dilakukan oleh mereka yang lebih memilih kelancaran dalam perdagangan.

Baca Juga: Pemerintah Turunkan Harga Tiket Penerbangan Dalam Negeri dan Tarif Tol Selama Mudik Lebaran

Dengan AS yang sibuk mengenakan tarif semaunya di sana-sini, maka alangkah baiknya bila berbagai negara untuk fokus kepada diversifikasi hubungan perdagangan antara lain dengan menegosiasikan kesepakatan baru dengan negara atau kawasan lain yang mungkin menawarkan persyaratan lebih baik daripada negara yang mengenakan tarif dengan semena-mena dan seenaknya.

Halaman:

Berita Terkait