China di Balik Poros Pakistan–Arab Saudi–Turki: Pukulan Diplomatik bagi India
ORBITINDONESIA.COM - Baru-baru ini saya menulis bahwa Rusia, Iran, China, Pakistan, dan Korea Utara mulai memperlihatkan karakteristik sebuah poros kekuatan militer baru. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa arti perubahan konstelasi kekuatan global tersebut bagi India?
Ketika Amerika Serikat dan Eropa masih terkuras oleh perang di Ukraina dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah, China secara relatif terus memperkuat kemampuan militernya, industri pertahanannya, teknologi, serta jaringan diplomatiknya.
Pencapaian strategis China yang paling signifikan justru berada di sekitar India.
Beijing telah menghabiskan bertahun-tahun membangun pengaruh di lingkungan strategis India, sementara New Delhi belum berhasil membangun arsitektur geopolitik tandingan yang sebanding.
Pakistan tetap menjadi mitra strategis terdekat China. Pada saat yang sama, Beijing mempererat hubungan dengan Nepal, Sri Lanka, dan Bangladesh, serta memperluas kehadirannya di kawasan Samudra Hindia.
Kini muncul perkembangan baru yang tidak boleh diabaikan India.
Poros Baru di Sekitar India
Pada 7 Agustus 2026, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah, yang menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu pihak penandatangan akan dipandang sebagai serangan terhadap ketiganya.
Secara individual, ketiga negara tersebut membawa aset strategis yang berbeda.
Pakistan memiliki kekuatan militer yang besar sekaligus kemampuan nuklir. Turki memiliki industri pertahanan domestik yang berkembang pesat, terutama dalam bidang drone, rudal, kendaraan tempur, dan berbagai sistem militer canggih. Arab Saudi memiliki sumber daya finansial yang sangat besar, posisi penting dalam pasar energi, serta pengaruh luas di dunia Muslim.
Jika ketiga kekuatan tersebut dipadukan, Pakistan memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah pakta pertahanan: jangkauan strategis yang lebih luas.
Dan Pakistan tetap berada sangat dekat dengan orbit strategis China.
Pakta tersebut memang tidak secara resmi ditujukan kepada India. Arab Saudi dan Turki juga tidak serta-merta menjadi negara yang memusuhi India.
Namun, dari perspektif geopolitik New Delhi, perkembangan ini tetap merupakan sesuatu yang sangat tidak nyaman.
Selama beberapa dekade, Pakistan terutama dipandang dalam konteks persaingan dan konflik India-Pakistan. Kini posisi Islamabad menjadi jauh lebih kompleks. Pakistan terhubung secara bersamaan dengan China, Arab Saudi, dan Turki, sembari tetap mempertahankan hubungan dengan Amerika Serikat serta memainkan peran yang semakin penting di Asia Barat.
Bagi sebuah negara dengan skala ekonomi yang masih jauh di bawah India, kemampuan Pakistan membangun jaringan strategis seperti itu merupakan pencapaian diplomatik yang patut diperhitungkan.
Dan hal itu memunculkan pertanyaan yang tidak nyaman bagi New Delhi:
Mengapa India—dengan ekonomi yang jauh lebih besar, populasi yang sangat besar, basis teknologi yang berkembang, serta posisi internasional yang semakin penting—belum mampu membangun jaringan strategis yang sama kuatnya?
Tekanan dari Utara
Pertanyaan tersebut menjadi semakin serius jika dilihat bersamaan dengan tekanan langsung dari China.
Beijing terus mengklaim wilayah Arunachal Pradesh. Warisan konflik Galwan juga masih memengaruhi penempatan militer kedua negara di Ladakh.
Pada saat yang sama, China terus membangun infrastruktur dalam skala besar di dataran tinggi Tibet. Beijing juga memulai proyek pembangkit listrik tenaga air raksasa di Sungai Yarlung Zangbo, yang kemudian mengalir menjadi Sungai Siang dan selanjutnya Brahmaputra di India.
Bagi India, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai bendungan atau infrastruktur. Air, jalan, energi, dan infrastruktur di kawasan Himalaya memiliki dimensi strategis sekaligus keamanan.
Sekilas melihat peta sudah cukup untuk memahami kompleksitas persoalan tersebut. China berada di utara. Pakistan berada di barat. Pengaruh China terus berkembang di negara-negara yang berada di sekitar India.
Sementara itu, kerja sama pertahanan baru antara Pakistan, Turki, dan Arab Saudi berpotensi memperluas tantangan strategis India hingga ke Asia Barat. Pada saat yang sama, kehadiran China di Samudra Hindia terus berkembang.
Dengan demikian, India tidak hanya menghadapi satu negara yang kuat di perbatasan utara.
India menghadapi lingkungan geopolitik yang semakin terkoneksi dan kompleks.
Kesalahan Strategis India
Dalam situasi seperti itu, India tampaknya terlalu lama mengandalkan harapan bahwa Amerika Serikat akan mengimbangi China untuk kepentingan New Delhi.
Pada saat yang sama, hubungan historis India dengan Rusia justru mengalami ketegangan yang menurut saya tidak selalu diperlukan. Ini merupakan kesalahan strategis.
India membutuhkan Amerika Serikat. Tetapi India tidak boleh menggantungkan seluruh strategi keseimbangannya pada Washington.
Demikian pula, India membutuhkan hubungan yang stabil dengan Rusia, bukan hanya karena sejarah hubungan kedua negara, tetapi juga karena kepentingan pertahanan, energi, teknologi, dan posisi Rusia dalam arsitektur Eurasia.
Masalah lain muncul dalam hubungan India dengan Iran. Iran memiliki arti strategis yang sangat besar bagi India, terutama terkait akses ke Asia Tengah dan Timur Tengah. Pelabuhan Chabahar, misalnya, memiliki arti penting bagi upaya India membangun jalur konektivitas yang tidak sepenuhnya bergantung pada Pakistan.
Karena itu, memburuknya hubungan India-Iran harus dilihat secara hati-hati. India tidak seharusnya mengorbankan kepentingan strategis jangka panjangnya hanya demi kedekatan dengan satu mitra tertentu di Timur Tengah.
India Membutuhkan Strategi Besar
Yang dibutuhkan India sekarang bukan sekadar penambahan persenjataan atau pembentukan aliansi baru.
India membutuhkan grand strategy.
Strategi tersebut harus mengintegrasikan kekuatan militer, ekonomi, teknologi, diplomasi, industri pertahanan, kekuatan maritim, infrastruktur Himalaya, keamanan energi, dan konektivitas regional.
Dan yang tidak kalah penting: India perlu memulihkan dan memperkuat kembali hubungan strategis dengan Rusia.
India harus mengembangkan hubungan dengan Amerika Serikat tanpa menjadikan dirinya bergantung kepada Washington.
India harus memperkuat hubungan dengan negara-negara Eropa tanpa kehilangan otonomi strategis.
India harus membangun hubungan yang lebih pragmatis dengan Iran. India harus memperluas kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dan Samudra Hindia.
Dan India harus menemukan cara untuk mengelola hubungan dengan Arab Saudi dan Turki tanpa membiarkan Pakistan memperoleh monopoli pengaruh di dunia Muslim.
Semua itu harus dilakukan secara bersamaan. Sebab persoalan India bukan hanya bahwa China memiliki militer yang lebih kuat. Persoalannya jauh lebih besar. China sedang membangun lingkungan geopolitik yang lebih kuat di sekeliling India.
Pakistan kini tidak lagi berdiri sendirian dalam hubungan bilateral dengan India. Islamabad semakin terhubung dengan jaringan strategis yang melibatkan China, Turki, Arab Saudi, serta sejumlah negara lainnya. Itulah perubahan yang harus dipahami New Delhi.
China Menang dengan Membangun Jaringan
Kekuatan China tidak hanya terletak pada jumlah kapal perang, rudal, pesawat tempur, satelit, atau kemampuan ekonominya. Kekuatan China juga terletak pada kemampuannya membangun jaringan.
China membangun infrastruktur. China membangun hubungan perdagangan. China membangun kerja sama pertahanan.
China membangun konektivitas. China membangun hubungan dengan negara-negara yang secara geografis berada di sekitar India.
Dan yang paling penting, China membangun semua itu dalam rentang waktu yang panjang. Inilah perbedaan mendasar antara kekuatan dan strategi.
Sebuah negara dapat memiliki ekonomi besar dan militer kuat, tetapi jika lingkungan geopolitiknya tidak mendukung, kekuatan tersebut tidak selalu menghasilkan pengaruh yang sepadan.
Sebaliknya, sebuah negara dapat membangun pengaruh yang jauh lebih besar daripada ukuran ekonominya jika ia mampu menciptakan jaringan strategis yang efektif.
Pakistan adalah contoh yang menarik. India adalah negara yang jauh lebih besar. Tetapi Pakistan berhasil membuat dirinya relevan bagi beberapa kekuatan besar sekaligus. Itulah yang harus membuat New Delhi berpikir ulang.
Pukulan Diplomatik
Bahaya terbesar bagi India bukan semata-mata bahwa China sedang tumbuh menjadi salah satu negara paling kuat di dunia. Bahaya yang lebih besar adalah jika China semakin cerdas secara strategis sementara India kehilangan ruang diplomatik.
Perang modern tidak selalu dimenangkan di medan perang. Sebagian kemenangan justru ditentukan jauh sebelum perang terjadi—melalui diplomasi, ekonomi, teknologi, jaringan aliansi, konektivitas, industri pertahanan, dan kemampuan membangun persepsi.
Dalam konteks itulah perkembangan hubungan Pakistan dengan China, Turki, dan Arab Saudi harus dibaca. Ini bukan berarti ketiga negara tersebut telah membentuk aliansi anti-India. Tetapi secara geopolitik, Pakistan memperoleh ruang manuver yang lebih besar.
Dan India harus menjawabnya. Bukan dengan kepanikan. Bukan dengan retorika. Melainkan dengan strategi.
Sebab jika China sedang membangun lingkungan strategis di sekitar India, sementara New Delhi terus kehilangan ruang diplomatik, maka masalah terbesar India bukanlah kekuatan lawan.
Masalah terbesar India adalah kegagalan mengubah kekuatannya sendiri menjadi strategi geopolitik yang efektif. Itulah pukulan diplomatik yang sesungguhnya.
(Disunting ulang dari esai Arindam Chaudhuri) ***