Satrio Arismunandar: Dari Cover Boy ke Kapolri - Ketika Wajah Remaja Pernah Menjadi Pintu Menuju Masa Depan
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto ternyata dulu pernah menjadi semifinalis Cover Boy 1988 Majalah Mode.
OpiniOleh Satrio Arismunandar
ORBITINDONESIA.COM - Ada sesuatu yang lucu sekaligus nostalgis dari sebuah foto lama. Wajah yang sama bisa membawa kita ke dua zaman yang sama sekali berbeda.
Hari ini wajah itu mungkin berada di televisi, mengenakan seragam dengan empat bintang di pundak. Tetapi 38 tahun lalu, wajah yang sama masih berupa foto hitam-putih seorang remaja di halaman sebuah majalah.
Itulah yang terjadi pada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Baru saja dilantik sebagai Kapolri pada 1 Oktober 2026, masa remaja Suyudi tiba-tiba ikut muncul ke permukaan. Bukan karena prestasinya sebagai polisi, melainkan karena sebuah arsip tua Majalah Mode.
Dalam edisi No. 11, 30 Mei 1988, terdapat foto seorang remaja bernama Suyudi Ario Seto. Ia tercatat sebagai peserta nomor 22 dalam ajang Cover Boy ’88. Ketika itu ia masih pelajar SMPN 70 Jakarta, berusia 16 tahun, dengan tinggi 171 sentimeter dan berat 52 kilogram.
Suyudi bukan pemenang Cover Boy. Ia adalah salah satu dari 60 semifinalis yang terpilih dari 8.345 pelamar. Angka itu saja sudah bercerita banyak tentang zaman.
Bayangkan, lebih dari delapan ribu remaja mengirim formulir dan foto kepada sebuah majalah hanya untuk mendapatkan kesempatan tampil dalam sebuah kompetisi. Tidak ada Instagram, TikTok, kamera ponsel. Tidak ada like, share, follower, atau algoritma.
Untuk menjadi terkenal, seseorang harus lebih dulu ditemukan oleh majalah. Dan di situlah kisah Suyudi membawa kita kembali kepada sebuah dunia yang kini hampir hilang: dunia Cover Boy dan Cover Girl.
Ketika Majalah Menjadi Panggung
Bagi generasi yang tumbuh pada 1980-an, majalah remaja bukan sekadar bacaan. Ia adalah dunia. Majalah dibeli, dibawa ke sekolah, dibaca berulang-ulang, dipinjamkan kepada teman, kemudian kadang tidak kembali karena dipinjam terlalu lama.
Di sana ada musik, film, mode, artis, cerita cinta, psikologi remaja, tips pergaulan, foto idola, dan tentu saja halaman yang paling membuat penasaran: wajah-wajah anak muda yang sedang mencari kesempatan untuk menjadi seseorang.
Cover Boy dan Cover Girl menjadi semacam pintu masuk. Remaja mengirim foto dan biodata. Redaksi memilih. Nama-nama semifinalis diumumkan. Foto mereka dicetak. Kemudian sebagian melangkah ke babak berikutnya.
Bagi remaja pada zaman itu, masuk halaman majalah saja sudah merupakan prestasi. Sebab majalah mempunyai sesuatu yang sekarang hampir tidak dimiliki media sosial: kemampuan memberikan legitimasi.
Jika wajahmu muncul di majalah, berarti seseorang di luar lingkaran keluarga dan teman-temanmu menganggap wajahmu layak dilihat. Itu bukan sekadar popularitas. Itu semacam pengakuan.
8.345 Remaja dan Sebuah Mimpi
Arsip Majalah Mode 1988 menyimpan angka yang menarik: 8.345 pelamar mengikuti seleksi Cover Boy ’88. Dari jumlah itu, redaksi memilih 60 semifinalis.
Coba bandingkan dengan zaman sekarang. Hari ini seorang remaja dapat mengunggah video ke TikTok dan dalam beberapa jam memperoleh jutaan penonton.
Pada 1988, untuk mendapatkan perhatian ribuan orang, seseorang harus masuk ke halaman majalah yang oplahnya terbatas dan hanya terbit pada waktu tertentu.
Popularitas berjalan jauh lebih lambat. Tetapi justru karena lambat itulah prosesnya terasa berbeda. Ada penantian. Ada seleksi. Ada debar ketika membuka majalah. Ada rasa penasaran melihat siapa yang terpilih. Dan ada kebanggaan ketika menemukan wajah sendiri atau wajah teman di antara puluhan peserta.
Bahkan bagi mereka yang tidak menjadi juara, foto di majalah dapat menjadi kenangan seumur hidup. Seperti yang terjadi pada Suyudi.
Barangkali pada 1988 tidak ada seorang pun yang melihat foto remaja nomor 22 itu dan membayangkan bahwa hampir empat dekade kemudian pemiliknya akan berdiri di Istana Negara sebagai Kapolri.
Tetapi memang begitulah kehidupan. Tidak ada foto masa muda yang memberi tahu kita ke mana seseorang akan pergi.
Zaman ketika Cover Boy adalah "Algoritma"
Yang membuat arsip tersebut semakin menarik adalah siapa saja yang berada di sekitarnya. Dalam barisan semifinalis itu terdapat nama-nama yang kemudian dikenal publik.
Salah satunya adalah Mohammad Gunawan Hendromartono, yang kemudian lebih dikenal sebagai Gugun Gondrong. Ada pula Candy Satrio, yang kemudian dikenal sebagai aktor. Suyudi dan Candy bahkan disebut berada dalam satu angkatan Cover Boy Mode 1988.
Mereka semua pada saat itu hanyalah anak-anak muda. Belum ada status sosial yang melekat. Belum ada jabatan, reputasi, gelar. Yang ada hanya wajah, nama, umur, sekolah, tinggi dan berat badan. Begitulah cara majalah remaja mengenalkan calon-calon bintang kepada pembacanya.
Dan menariknya, perjalanan hidup mereka kemudian bercabang ke berbagai arah. Ada yang masuk dunia hiburan. Ada yang menjadi wartawan, profesional, atau memilih dunia lain. Dan seorang di antaranya kelak menjadi Kapolri. Foto lama itu tiba-tiba menjadi semacam kapsul waktu.
Sekarang, seorang remaja dapat membangun personal branding sendiri. Ia bisa membuat akun Instagram, kanal YouTube, video TikTok. Menjadi content creator, mengembangkan pengikut, membuat konten setiap hari. Jika berhasil, industri akan datang mencarinya.
Pada 1980-an mekanismenya terbalik. Remajalah yang datang kepada media. Mereka mengirim foto, menunggu. Redaksi yang memilih. Media menjadi semacam gatekeeper. Itulah salah satu perbedaan terbesar antara industri popularitas zaman dulu dan zaman sekarang.
Dulu ada pintu. Sekarang pintunya nyaris tidak ada. Dulu ada redaksi yang menentukan siapa yang layak muncul. Sekarang algoritma menentukan siapa yang akan terlihat. Dulu sebuah foto dicetak di atas kertas. Sekarang sebuah foto dapat beredar ke seluruh dunia dalam hitungan detik.
Dulu popularitas harus diperjuangkan melalui majalah. Sekarang popularitas dapat dimulai dari kamar tidur. Tetapi ada satu hal yang sama: anak muda tetap ingin dilihat.
Cover Boy dan Cover Girl sebagai Pabrik Mimpi
Di sinilah pentingnya memahami budaya Cover Boy dan Cover Girl bukan sekadar sebagai kontes kecantikan atau ketampanan. Ia adalah bagian dari industri mimpi anak muda Indonesia. Pada era tersebut, majalah remaja menjadi jembatan antara dunia biasa dan dunia selebritas.
Seorang siswa SMA dapat melihat foto artis idolanya di satu halaman, kemudian beberapa halaman berikutnya menemukan foto anak seusianya yang sedang mengikuti Cover Boy. Pesannya jelas: “Suatu hari, mungkin kamu juga bisa berada di sana.”
Tidak semua peserta menjadi artis. Bahkan sebagian besar tentu kembali menjalani kehidupan biasa. Tetapi kompetisi tersebut memberikan sebuah pengalaman yang penting bagi generasi muda: keberanian untuk mencoba, tampil di depan publik, mengikuti seleksi, dan membayangkan masa depan. Banyak orang yang kemudian menjadi aktor, model, presenter atau figur publik memang pernah melewati jalur semacam ini.
Dunia hiburan Indonesia pada era 1980-an dan 1990-an memiliki hubungan yang sangat erat dengan majalah remaja. Majalah menjadi tempat pencarian wajah baru. Televisi kemudian menjadi panggung berikutnya. Film dan iklan menjadi pintu berikutnya. Dan bagi sebagian orang, perjalanan itu menjadi karier.
Tetapi dunia berubah. Pertama datang televisi swasta. Kemudian internet, media sosial, smartphone. Dan perlahan-lahan majalah remaja kehilangan monopoli atas dunia anak muda. Jika dahulu seorang remaja menunggu majalah terbit untuk mengetahui siapa yang menjadi Cover Boy, kini ia dapat melihat ratusan wajah baru setiap hari melalui media sosial.
Jika dahulu artis ditemukan oleh redaksi, sekarang artis dapat menemukan penontonnya sendiri. Jika dahulu seseorang membutuhkan halaman majalah untuk memperkenalkan diri, sekarang cukup memiliki kamera depan.
Akibatnya, konsep Cover Boy dan Cover Girl dalam pengertian lama menjadi semakin asing. Bukan karena anak muda tidak lagi tertarik menjadi terkenal. Justru sebaliknya. Keinginan itu mungkin semakin besar. Yang berubah adalah medianya.
Dari Cover Boy ke Content Creator
Dahulu seorang remaja mengirim foto ke redaksi. Sekarang ia mengirim video ke algoritma. Dahulu redaktur memilih. Sekarang pengguna memilih melalui like, komentar dan share.
Dahulu sebuah foto muncul dalam satu edisi majalah dan kemudian menghilang ketika edisi berikutnya datang. Sekarang sebuah konten dapat terus hidup selama bertahun-tahun di internet.
Dahulu ketenaran membutuhkan percetakan. Sekarang ketenaran membutuhkan koneksi internet. Inilah transformasi besar industri budaya.
Dan ada sesuatu yang hilang bersama perubahan itu: Rasa menunggu. Generasi 1980-an tahu rasanya menunggu majalah berikutnya. Menunggu album baru. Menunggu film masuk bioskop. Menunggu acara televisi pada jam tertentu. Menunggu surat pembaca dimuat. Menunggu hasil Cover Boy diumumkan.
Sekarang hampir semuanya tersedia seketika. Kita mendapatkan terlalu banyak hal. Tetapi mungkin kehilangan sebagian pengalaman menunggu.
Media Cetak yang Pernah Menjadi Dunia
Karena itu, kisah Suyudi bukan hanya kisah tentang seorang Kapolri yang pernah mengikuti Cover Boy. Ia juga mengingatkan kita pada kekuatan media cetak pada masa lalu.
Sebuah majalah dapat membuat seseorang dikenal. Sebuah halaman dapat mengabadikan wajah remaja. Sebuah edisi yang mungkin pada saat itu dibaca santai di ruang keluarga ternyata puluhan tahun kemudian berubah menjadi dokumen sejarah pribadi.
Coba bayangkan jika majalah Mode No. 11 tahun 1988 tidak pernah disimpan. Foto Suyudi mungkin sudah hilang. Kita mungkin tidak pernah tahu bahwa seorang calon Kapolri pernah berdiri di antara puluhan remaja yang bermimpi menjadi bintang.
Di situlah media cetak memiliki kelebihan yang kadang baru kita sadari setelah ia mulai menghilang. Kertas menyimpan waktu. Sebuah majalah tua dapat menjadi arsip sosial yang luar biasa. Ia menyimpan mode rambut, model pakaian, nama sekolah, bahasa anak muda, iklan, harga barang, musik, film. Dan tentu saja wajah-wajah manusia yang kelak menempuh perjalanan hidup masing-masing.
Ada ironi yang indah dalam foto Suyudi tersebut. Pada 1988, ia berada di sana karena mungkin ingin mencoba sesuatu yang baru sebagai seorang remaja. Tidak ada yang tahu masa depannya.
Hari ini, setelah 38 tahun, foto itu kembali muncul justru karena masa depannya sudah diketahui. Dulu orang melihat Suyudi dan bertanya: "Siapa anak ini?" Sekarang orang melihat foto tersebut dan berkata: "Oh, ternyata itu Kapolri."
Makna foto berubah karena waktu. Padahal fotonya sama. Inilah keajaiban arsip. Arsip tidak berubah. Yang berubah adalah kita yang melihatnya.
Dari 171 Sentimeter ke Empat Bintang
Pada usia 16 tahun, biodata Suyudi di Mode mencatat tinggi 171 sentimeter dan berat 52 kilogram. Ia adalah siswa SMPN 70 Jakarta, peserta nomor 22, salah satu dari 60 semifinalis Cover Boy ’88.
Empat puluh tahun kurang sedikit kemudian, biodata itu terasa seperti berasal dari kehidupan orang lain. Kini namanya ditulis dengan pangkat: Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Ia telah melewati Akademi Kepolisian, perjalanan panjang di dunia reserse dan kewilayahan, jabatan Kapolda Banten, Kepala BNN, hingga akhirnya mencapai puncak hierarki kepolisian sebagai Kapolri.
Tetapi mungkin justru foto remaja itulah yang membuat sosok seorang jenderal terasa lebih manusiawi. Sebelum menjadi pejabat tinggi, ia pernah menjadi anak SMP. Sebelum memimpin institusi ratusan ribu personel, ia pernah mengirim foto ke majalah.
Sebelum namanya muncul di berita politik dan keamanan, namanya pernah tercetak kecil di antara puluhan nama remaja lainnya. Dan mungkin di situlah daya tarik kisah ini.
Sebuah Zaman yang Tidak Kembali
Era Cover Boy dan Cover Girl seperti yang dikenal generasi 1980-an kemungkinan besar tidak akan kembali. Bukan karena anak muda tidak lagi membutuhkan panggung. Panggungnya justru semakin banyak. Tetapi panggung itu tidak lagi berupa halaman majalah. Ia berada di layar ponsel.
Media cetak remaja yang dahulu menjadi pusat perhatian telah kehilangan sebagian besar perannya. Sebagian majalah berhenti terbit, sebagian berubah bentuk, sebagian berpindah ke internet. Dunia tidak lagi menunggu majalah. Majalahlah yang dahulu menunggu dunia. Dan sekarang, dunia bergerak terlalu cepat.
Namun bagi mereka yang pernah hidup pada masa itu, Cover Boy dan Cover Girl bukan sekadar kontes. Ia adalah kenangan tentang masa ketika menjadi terkenal masih terasa seperti sesuatu yang jauh. Ketika sebuah foto bisa menjadi tiket menuju mimpi. Ketika majalah adalah jendela untuk melihat dunia yang lebih besar daripada lingkungan sekolah.
Dan ketika seseorang yang hari ini memimpin Kepolisian Republik Indonesia masih hanyalah seorang remaja berusia 16 tahun yang tersenyum—atau mungkin memasang wajah serius—di halaman sebuah majalah.
Barangkali itulah yang membuat arsip Mode 1988 terasa begitu menarik. Ia tidak sekadar memperlihatkan siapa Suyudi Ario Seto dulu. Ia memperlihatkan sebuah zaman ketika masa depan belum diketahui siapa pun. Termasuk oleh anak-anak muda yang wajahnya tercetak di sana.
Mereka hanya tahu satu hal: Mereka ingin dilihat. Dan mereka belum tahu, kelak hidup akan membawa mereka ke mana. #
Depok, 1 Oktober 2026
*Satrio Arismunandar, penulis cerpen remaja era 1980-an di Majalah Anita Cemerlang, Gadis, Halo, dan lain-lain. ***