Budhius Ma'ruff: Psywar Jokowi dan Dampaknya pada PSI

Jokowi dengan seragam PSI.

Jokowi dengan seragam PSI.

Opini

Oleh Budhius Ma'ruff 

ORBITINDONESIA.COM - Dalam pidatonya saat Rakorda PSI di Bandung, Jawa Barat, hari Sabtu, 26 September 2026, Presiden ke 7 RI Ir. Joko Widodo mengingatkan seluruh kader, anggota dan simpatisan PSI untuk tidak khawatir dengan rencana ketetapan ambang batas parlemen yang kini sedang digodok parlemen di Senayan Jakarta.

Jokowi menegaskan, partai-partai parlemen tidak perlu takut dengan PSI yang hanyalah partai baru. Cara-cara politisi Senayan merancang ambang batas parlemen dengan menaikkannya dari 4% menjadi 5% atau NasDem mengusulkan menjadi 7% adalah cara-cara yang tidak simpatik, guna menjegal partai-partai non parlemen untuk bisa memiliki fraksi/kursi di DPR RI.

PSI tegas Jokowi, siap tarung baik dengan ambang batas 5% atau 7% atau bahkan 8% yang ditetapkan nanti. Keyakinan Jokowi tersebut tentu bukan sekedar psywar semata, namun tentu sudah melalui kalkulasi politik yang cermat dan berdasarkan sejumlah laporan survei rutin yang didapatnya.

Jokowi mengatakan target PSI dalam Pemilu 2029 nanti bukan sekedar lolos dan punya fraksi di parlemen, namun lebih dari itu yakni ingin menjadi partai papan tengah dan papan atas (3 besar).

Keberanian Jokowi menyampaikan positioning PSI dalam pesta demokrasi 2029 mendatang, wajar membuat para ketua umum partai parlemen mencermatinya dan menghitung balik kondisi dan kesiapan partainya masing-masing.

Berdasarkan hasil survei Poltracking terbaru September 2026 ini, PDIP yang semula menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi, kini disalip oleh Gerindra, partainya Presiden Prabowo.

Gerindra menjadi parpol dengan nilai elektabilitas tertinggi yakni 23,2 % disusul PDIP anjlok drastis menjadi 11,6%. Salah satu penyebab anjloknya elektabilitas PDIP adalah tidak berperannya Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI, yang kalah posisi dan kinerja dengan Wakil Ketua DPR RI, Prof. Sufmi Dasco Ahmad, yang powerful di Senayan.

Faktor penyebab utama lainnya adalah terlalu seringnya kader-kader PDIP seperti Guntur Romli, Ferdinand Hutahaean dan Novi Bule memprovokasi publik memaki dan merendahkan keluarga Presiden Jokowo dan Wapres Gibran Rakabuming di hadapan publik.

Sikap ketiga orang ini mendapat respon negatif dari audiens sebagai politisi busuk, nyinyir dan tidak beradab. Antipati publik akhirnya bermuara ke PDIP yang membiarkan ketiga kader busuknya ini berkoar negatif kepada Keluarga Solo.

Partai ke 3 dengan elektabilitas tertinggi adalah Golkar, yakni sebesar 10,4% disusul posisi ke 4 oleh PKB sebesar 6,2% dan kelima Demokrat sebesar 6,1%.

Tiga partai Senayan yang merosot elektabilitasnya di bawah 5% adalah NasDem 4,4%, PAN 3,4%, PKS 3,3%.

Artinya jika angka elektabiltasnya ini diasumsikan sebagai hasil Pemilu 2029 nanti, bisa dipastikan 3 partai koalisi pemerintah saat ini tidak akan lagi menjadi partai parlemen.

Bagaimana peluang PSI dan sejumlah partai-partai non parlemen seperti Perindo, PPP, Hanura, PBB, Partai Masyumi, Partai Garuda, Partai Ummat, Partai Buruh dan Partai Gerakan Rakyat untuk berhasil lolos ke Senayan, jika ambang batas parlemennya ditetapkan menjadi 5%?

Secara peluang, semuanya punya peluang untuk masuk ke Senayan jika mau berbenah dan bekerja keras dari sekarang. Namun yang membedakan dari yang lain adalah PSI.

PSI kini dimotori oleh Jokowi, politisi ulung dan 5 x tercatat pernah memenangkan kontestasi pemilihan langsung oleh rakyat. Hingga sekarang meski sudah pensiun sebagai presiden 10 tahun masa kerja, loyalis dan pendukung fanatik Jokowi makin bertambah banyak dan makin meluas dalam banyak lapis masyarakat.

Jokowi masih dikerubungi massa rakyat yang selalu menyemut setiap kunjungannya menemui masyarakat di banyak tempat di Indonesia. Hal ini tidak terjadi dan tidak dialami oleh SBY, dan Megawati yang juga pernah menjadi presiden. Kekuatan dan power Jokowi yang tinggi ini bahkan melebihi presiden incumbent saat ini Prabowo.

Prabowo malah mengalami penurunan tingkat kepercayaan publik yang terus merosot sepanjang lebih kurang setahun terakhir ini. Dari sekitar 72% di awal tahun 2026, kemudian turun menjadi 51,1% dan ambruk lebih dalam ke angka 35% dan konon katanya sekarang hanya tersisa 29,5%.

Jika Jokowi terus bekerja keras menemui rakyat hingga 2028 nanti, dapat dibayangkan tentu elektabilitas PSI sebagai kendaraan politik Jokowi bisa terkatrol deras ke angka 15%.

Selain akan dinikmati oleh PSI, tingginya elektoral Jokowi ini juga akan berimplikasi positif pada elektabilitas Gibran, yang digadang-gadang oleh banyak tokoh akan maju sebagai Capres 2029.

Oleh sebab itu jika para pembenci Jokowi dan Gibran melanjutkan politik kebencian dan fitnahan tanpa henti kepada ayah dan anak ini, dipastikan rasa simpati warga masyarakat akan semakin meningkat terus kepada mereka. ***