Supernova Remnant Dekat Black Hole Bima Sakti Terungkap Chandra

Phys.org

Phys.org

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pencarian supernova remnant dekat black hole Bima Sakti memanas setelah data Observatorium Sinar-X Chandra NASA menunjukkan “gumpalan” sinar-X di kawasan Sagittarius C. Jika terkonfirmasi, temuan ini menempatkan sisa ledakan bintang itu sebagai salah satu yang paling dekat dengan lubang hitam supermasif di pusat Galaksi.

Para astronom menggunakan data Chandra dan XMM-Newton milik ESA untuk menelisik lingkungan ekstrem di pusat Bima Sakti, wilayah yang padat bintang masif, awan gas rapat, dan benang medan magnet panjang. Studi yang melaporkan kandidat sisa supernova ini dipublikasikan di The Astrophysical Journal.

Sisa supernova adalah puing bintang yang meledak dan mengembang, sekaligus “pabrik distribusi” unsur seperti besi, oksigen, dan silikon. Unsur-unsur inilah yang menjadi bahan baku planet dan, pada akhirnya, prasyarat kimia bagi kehidupan.

Kandidat ini berada sekitar 26.000 tahun cahaya dari Bumi, tepat di “tetangga” yang tidak ramah: dekat pusat galaksi. Di citra komposit, bidang galaksi membentang horizontal, sementara lubang hitam pusat berada di sisi kiri bingkai.

Bukti utama datang dari data sinar-X yang menampakkan sebuah “blob” atau gumpalan emisi sinar-X, seolah ada sumber panas berenergi tinggi yang tertimbun dalam awan gas mengembang. Para peneliti menafsirkan gumpalan ini sebagai sisa bintang masif yang menghancurkan diri dalam ledakan supernova.

Lokasinya ditandai lingkaran dan berada di dalam gelembung gas terionisasi, wilayah H II, yang mengitari bintang muda masif. Gelembung ini adalah sumber radio terang yang dikenal sebagai Sagittarius C.

Jika benar sisa supernova, objek itu diperkirakan mengembang sekitar 3,2 juta km/jam dan berumur setidaknya 1.700 tahun. Angka ini memberi skala waktu yang “baru kemarin” dalam astronomi, namun cukup untuk mengubah struktur gas lokal.

Petunjuk pendukung datang dari misi SOFIA NASA yang kini pensiun, yang sebelumnya melihat cangkang gas mengembang di sekitar Sagittarius C. Observasi itu memberi sinyal bahwa ledakan bintang mungkin terjadi di titik yang sama, sebelum sinar-X kini menambah kepingan bukti.

Citra radio dari teleskop MeerKAT Afrika Selatan menampilkan filamen panjang yang mencolok, jejak partikel energetik yang melaju mengikuti medan magnet. Arah medan magnet ini kebanyakan tegak lurus terhadap bidang galaksi, menegaskan betapa “berbeda” fisika pusat Bima Sakti dibanding lingkungan Matahari.

Tim juga mencari tanda pengayaan unsur kunci di dalam sisa ledakan, yang biasanya terlihat ketika supernova menyemburkan elemen baru ke ruang antarbintang. Mereka tidak menemukan peningkatan, namun ini bisa berarti puing bintang sudah tercampur dengan gas sekitar dan jejak kimianya menipis.

Ada skenario alternatif: gumpalan sinar-X berasal dari gas panas yang dipanaskan oleh kumpulan bintang masif. Namun penulis menilai ini kecil kemungkinannya karena emisi sinar-X dari gumpalan tersebut lebih dari 10 kali lebih terang dibanding emisi sinar-X gugus bintang besar yang sudah dikenal.

Gambar tambahan yang memasukkan data Teleskop Luar Angkasa James Webb menambah konteks spasial antara inframerah, radio, dan sinar-X. Warna biru muda menunjukkan cahaya inframerah dari gas di wilayah H II, sedangkan biru lebih gelap menandai sinar-X kandidat sisa supernova di sisi kanan citra.

Menariknya, sinar-X di dekat pusat citra juga terkait wilayah H II, kemungkinan berasal dari material yang dihembuskan bintang masif dan memanaskan gas hingga jutaan derajat. Ini mengingatkan bahwa pusat galaksi adalah panggung banyak mekanisme pemanas, sehingga “membuktikan supernova” menuntut kehati-hatian.

Temuan ini penting bukan karena sensasional, melainkan karena ia menguji batas cara kita “membaca” pusat galaksi yang penuh gangguan. Di lingkungan yang dijejali bintang masif, awan gas rapat, dan medan magnet kuat, sinyal supernova bisa tersamar, lalu muncul sebagai teka-teki multi-panjang gelombang.

Jika kandidat ini terkonfirmasi, kita mendapat laboratorium alami untuk melihat bagaimana ledakan bintang berinteraksi dengan ekosistem paling ekstrem di Bima Sakti. Ini juga akan memperjelas seberapa sering pusat galaksi “dipupuk” unsur berat, yang kemudian mengalir menjadi bahan baku generasi bintang berikutnya.

Namun ketiadaan pengayaan unsur dan adanya penjelasan alternatif mengingatkan publik bahwa sains bergerak lewat verifikasi, bukan keyakinan. Di era citra spektakuler, disiplin terbesar justru menahan diri: membedakan apa yang indah dari apa yang benar.

Pusat Bima Sakti terus menantang kita dengan kisah-kisah yang setengah tersembunyi, dan kandidat supernova remnant di Sagittarius C adalah salah satunya. Ia bisa menjadi jejak ledakan berumur 1.700 tahun yang terjadi sangat dekat dengan lubang hitam supermasif, atau sekadar gas panas dari bintang-bintang masif.

Apa pun hasil akhirnya, pencarian ini menunjukkan satu pelajaran: unsur pembentuk planet dan kehidupan lahir dari kehancuran bintang, lalu bercampur perlahan dalam kabut kosmik. Pertanyaannya kini, berapa banyak “ledakan senyap” lain di pusat galaksi yang belum kita kenali karena kita belum punya cara membaca kekacauannya dengan cukup jernih.

(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)