Denny JA: Membayangkan Isti Nugroho Mentas di West End London

Isti Nugroho.

Isti Nugroho.

Opini

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Ada orang yang masuk penjara karena korupsi. Ada yang masuk penjara karena membunuh.

Tetapi sahabat kita semua, Isti Nugroho, pernah dipenjara hanya karena mendiskusikan buku Pramoedya Ananta Toer.

Hari ini, buku yang dahulu membuatnya kehilangan kebebasan dijual bebas di toko buku. Dibaca di kampus. Bahkan diangkat menjadi film layar lebar.

Bukunya tidak berubah. Yang berubah hanyalah zaman.

Dari kisah Isti, kita belajar bahwa kebebasan berpikir bukanlah hadiah yang turun dari langit. Ia lahir karena selalu ada orang yang berani membayar harganya.

Yang lebih mengagumkan lagi, penjara tidak berhasil memenjarakan jiwanya.

Isti Nugroho keluar penjara tetap sehat, tetap kritis, tetap berkarya. Ia tidak menjadi pribadi yang pahit. Ia tetap percaya bahwa gagasan lebih panjang umur daripada kekuasaan.

Saya mengenal Isti sejak kami sama-sama mahasiswa pada tahun 1980-an.

Selama lebih dari empat puluh tahun, kami saling menjaga agar yang satu tidak berhenti berkarya ketika yang lain mulai lelah.

Dalam politik praktis, kami tidak selalu berada di jalan yang sama.

Tetapi kami sama-sama belajar bahwa politik adalah pilihan, sedangkan persahabatan adalah kesetiaan.

Malam ini saya tak dapat hadir dalam acara ulang tahunmu di TIM, sahabatku. Walau sejak awal saya ikut mendukungmu. Saya sedang di London.

Beberapa malam terakhir saya menikmati pertunjukan di West End, salah satu panggung teater terbaik di dunia.

Ketika tepuk tangan panjang bergema di West End, saya bertanya dalam hati. Berapa banyak seniman Indonesia yang sebenarnya memiliki daya cipta sebesar ini, tetapi tidak pernah bertemu dengan ekosistem yang cukup mendukung.

Saat itulah saya membayangkan Isti Nugroho.

Di West End, saya menyaksikan bagaimana kisah-kisah perjuangan manusia diubah menjadi pertunjukkan yang megah. Dan panggung teater itu mendadak mengingatkan saya pada panggung hidupmu yang tak kalah dramatisnya.

Yang sering kurang di negeri kita bukanlah manusia berbakat, melainkan ekosistem yang cukup besar bagi mereka.

Selamat ulang tahun, sahabatku.

Semoga kesehatan selalu menyertaimu. Semoga daya kritismu tak pernah padam. Dan semoga karya-karyamu terus mengingatkan kita bahwa sebuah gagasan dapat dipenjara untuk sementara, tetapi tidak pernah dapat dipenjarakan untuk selamanya.

Penjara dapat mengurung tubuh manusia. Tetapi tak pernah ada penjara yang cukup besar untuk mengurung sebuah gagasan.*

London, 30 Juli 2026