Denny JA: Sejarah yang Disimpan Dalam Banguna 1.000 Tahun Itu

Ilustrasi monarki Inggris.

Ilustrasi monarki Inggris.

Opini

Catatan dari London (3)

SEJARAH YANG DISIMPAN DALAM BANGUNAN 1000 TAHUN ITU

- Kisah Windsor Castle dan Berubahnya Peran Kerajaan

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Suatu sore di Windsor, UK, saya berdiri beberapa menit tanpa berkata-kata di halaman kastel itu. Di hadapan saya menjulang tembok batu yang telah melewati hampir seribu tahun musim dingin, perang, wabah, pengkhianatan, dan kemenangan.

Tiba-tiba saya membayangkan seorang raja yang berjalan keluar dari gerbang ini dengan keyakinan bahwa kekuasaannya berasal dari Tuhan.

Beberapa abad kemudian, seorang raja lain justru kembali ke kastel ini sebagai tawanan sebelum kehilangan kepalanya di tiang eksekusi.

Di tempat yang sama, saya menyadari bahwa bangunan tua sering kali lebih jujur daripada manusia. Ia tidak pernah lupa bagaimana kekuasaan lahir, dibatasi, lalu berubah makna.

-000-

Windsor Castle bukan sekadar kastel tertua di dunia yang masih terus dihuni keluarga kerajaan. Ia adalah naskah hidup yang ditulis selama hampir seribu tahun.

Pembangunannya dimulai sekitar tahun 1070 oleh William the Conqueror, tidak lama setelah Penaklukan Norman tahun 1066. Lokasinya dipilih karena menguasai jalur Sungai Thames sekaligus melindungi London dari arah barat.

Benteng kayu pertama kemudian berkembang menjadi kastel batu yang terus diperluas oleh hampir setiap raja Inggris berikutnya.

Di sinilah lahir keputusan-keputusan kerajaan, pernikahan para raja, pemakaman para penguasa, hingga perlindungan bangsa pada masa perang.

Hampir tidak ada bangunan lain di dunia yang terus berfungsi selama seribu tahun sambil tetap menjadi pusat simbolik negara. Windsor bukan hanya menyimpan sejarah Inggris. Ia menyimpan evolusi cara manusia memahami kekuasaan.

-000-

Memandangi batu-batu yang membentuk kastel ini, saya teringat pada tiga peristiwa besar yang bukan hanya berkaitan dengan Windsor, tetapi juga mengubah cara manusia memahami kekuasaan.

Pertama: Magna Carta: Ketika Raja Mulai Belajar Bahwa Hukum Lebih Tinggi Daripada Mahkota

Musim panas tahun 1215 menjadi salah satu musim paling menentukan dalam sejarah politik dunia.

Raja John menghadapi pemberontakan para bangsawan. Pajak yang tinggi, kekalahan perang di Prancis, dan pemerintahan yang dianggap sewenang-wenang membuat kesabaran mereka habis. Namun yang menarik, titik tekan perundingan itu tidak berlangsung jauh dari Windsor Castle.

Hanya sekitar sepuluh kilometer dari kastel, di padang rumput Runnymede, para bangsawan memaksa Raja John menerima sebuah piagam yang kemudian dikenal sebagai Magna Carta.

Mengapa di sana? Karena Windsor Castle adalah benteng utama sang raja. Para bangsawan sengaja memilih lokasi yang cukup dekat agar tekanan militer tetap terasa, tetapi cukup jauh agar tidak berada dalam kendali langsung pasukan kerajaan.

Bahkan ketika naskah Magna Carta diterima, bayang-bayang menara Windsor masih mendominasi cakrawala.

Pada pandangan pertama, Magna Carta tampak sederhana. Ia bahkan belum berbicara mengenai demokrasi, hak pilih, ataupun kesetaraan seluruh warga negara. Dokumen itu terutama melindungi hak kaum bangsawan.

Namun sejarah sering bergerak melalui gagasan kecil yang kemudian tumbuh jauh melampaui niat para pembuatnya.

Untuk pertama kalinya, seorang raja dipaksa mengakui bahwa dirinya tidak berada di atas hukum. Kalimat itu terdengar biasa bagi manusia abad ke-21.

Namun pada abad ke-13, gagasan tersebut hampir terasa mustahil.

Selama berabad-abad sebelumnya, raja dianggap memperoleh legitimasi langsung dari Tuhan. Menentang raja berarti menentang kehendak langit.

Magna Carta mengubah arah pemikiran itu. Dari dokumen inilah kemudian berkembang prinsip due process of law, habeas corpus, supremasi hukum, parlemen modern, hingga konstitusi di berbagai negara demokrasi.

Maka ironi sejarah pun lahir. Di dekat benteng yang dibangun untuk mengukuhkan kekuasaan raja, justru lahir benih yang perlahan membatasi kekuasaan itu sendiri.

Windsor Castle sejak saat itu tidak lagi hanya menjadi simbol monarki.

Ia juga menjadi saksi kelahiran sebuah gagasan yang lebih besar daripada kerajaan mana pun.

Bahwa hukum harus lebih panjang umurnya daripada seorang raja.

-000-

Kedua: Kisah Charles I, Ketika Sebuah Kepala Dipenggal dan Sebuah Zaman Ikut Berakhir

Empat abad setelah Magna Carta, Inggris kembali menghadapi pertanyaan yang sama. Apakah seorang raja benar-benar berada di atas hukum?

Charles I menjawab, ya. Parlemen menjawab, tidak. Charles percaya pada Divine Right of Kings, keyakinan bahwa raja memperoleh mandat langsung dari Tuhan sehingga tidak wajib tunduk kepada lembaga mana pun di bumi.

Selama bertahun-tahun ia memerintah tanpa parlemen, memungut pajak sepihak, dan memaksakan kebijakan keagamaan yang menimbulkan perlawanan luas.

Konflik itu berkembang menjadi Perang Saudara Inggris. Pasukan kerajaan akhirnya dikalahkan oleh tentara Parlemen di bawah Oliver Cromwell.

Nasib Charles berubah secara tragis. Ia ditahan di Windsor Castle, istana yang dahulu menjadi lambang kemegahan kekuasaannya. Lorong-lorong yang pernah menyambutnya sebagai raja kini menjadi ruang penjara yang sunyi.

Dari jendela kastel itu, ia mungkin masih melihat lanskap Inggris yang selama ini diyakininya sebagai miliknya oleh hak ilahi.

Namun sejarah telah berubah arah.

Pada 30 Januari 1649, Charles I dihukum mati di depan Banqueting House, Whitehall, London.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Eropa, seorang raja diadili oleh rakyatnya sendiri dan dieksekusi atas nama hukum negara.

Tubuhnya kemudian dibawa kembali ke Windsor Castle. Tanpa upacara megah. Tanpa dentuman meriam.

Tanpa mahkota.

Ia dimakamkan secara sederhana di bawah lantai St George’s Chapel. Peristiwa itu jauh lebih besar daripada kematian seorang manusia.

Yang sesungguhnya dipenggal hari itu bukan hanya kepala Charles I. Yang dipenggal adalah keyakinan lama bahwa negara adalah milik seorang raja.

Memang monarki dipulihkan pada tahun 1660 melalui Charles II. Namun Inggris tidak pernah benar-benar kembali kepada absolutisme.

Revolusi Agung tahun 1688 dan Bill of Rights tahun 1689 kemudian menegaskan bahwa parlemen menjadi sumber utama kedaulatan politik, sementara raja memerintah dalam batas konstitusi.

Di bawah batu-batu tua St George’s Chapel, Charles I masih beristirahat hingga hari ini. Namun sejarah mengenangnya bukan semata sebagai raja yang kehilangan mahkota.

Ia dikenang sebagai batas yang memisahkan dua dunia. Dunia ketika kekuasaan dianggap suci.

Dan dunia ketika kekuasaan harus bersedia diadili.

-000-

Ketiga: Perang Dunia Kedua, Ketika Monarki Bertahan Bukan Karena Kekuasaan, Melainkan Karena Kepercayaan Rakyat

Jika Magna Carta mengajarkan bahwa raja harus tunduk pada hukum, dan eksekusi Charles I menunjukkan bahwa raja dapat dimintai pertanggungjawaban, maka Perang Dunia Kedua memperlihatkan perubahan yang lebih halus sekaligus lebih mendalam.

Monarki ternyata dapat bertahan bukan karena memiliki kekuasaan, melainkan karena berhasil memelihara kepercayaan.

Pada tahun 1939, ketika Inggris memasuki Perang Dunia Kedua, ancaman bukan lagi datang dari para bangsawan atau parlemen. Ancaman itu datang dari langit.

Pesawat-pesawat Luftwaffe Jerman membombardir London dan berbagai kota Inggris. Ribuan warga sipil meninggal. Rumah-rumah runtuh. Gereja-gereja bersejarah terbakar. Seluruh bangsa hidup dalam ketidakpastian.

Dalam situasi itulah Windsor Castle kembali memainkan perannya.

Kastel yang selama berabad-abad menjadi benteng pertahanan kerajaan berubah menjadi benteng perlindungan warisan bangsa.

Ribuan karya seni dari Royal Collection dipindahkan ke sana. Sebagian permata mahkota disembunyikan secara rahasia di bawah tanah. Ruang-ruang perlindungan dibangun untuk keluarga kerajaan apabila serangan udara semakin hebat.

Namun nilai sejarah Windsor Castle pada masa perang bukan terletak pada temboknya yang kokoh. Nilai sejarahnya terletak pada keputusan moral keluarga kerajaan.

Raja George VI dan Ratu Elizabeth menolak meninggalkan Inggris. Mereka tetap berada di tengah rakyat yang setiap malam mendengar sirene serangan udara.

Ketika Istana Buckingham ikut dihantam bom, sang Ratu mengatakan bahwa kini ia merasa dapat menatap mata rakyat London tanpa rasa bersalah, karena mereka mengalami penderitaan yang sama.

Kalimat itu sederhana. Namun dampaknya luar biasa.

Monarki memperoleh legitimasi baru. Bukan karena darah biru. Bukan karena hak ilahi.

Bukan karena tentara. Melainkan karena kesediaan berbagi risiko bersama rakyat. Di sinilah terjadi perubahan besar yang sering luput dari perhatian.

Pada abad pertengahan, rakyat hidup untuk kerajaan. Pada abad kedua puluh, kerajaan justru memperoleh maknanya karena hidup bersama rakyat.

Monarki Inggris tidak lagi menjadi pusat kekuasaan negara. Ia berubah menjadi pusat ingatan kolektif bangsa. Dan Windsor Castle menjadi saksi perubahan itu.

Selama hampir seribu tahun, fungsi kastel ini berubah mengikuti perubahan peradaban. Ia pernah menjadi benteng penaklukan.

Ia pernah menjadi pusat pemerintahan.

Ia pernah menjadi penjara seorang raja. Ia pernah menjadi tempat perlindungan bangsa. Sedangkan yang tetap hanyalah satu hal.

Kepercayaan rakyat selalu lebih kuat daripada tembok batu mana pun.

-000-

Berdiri di halaman Windsor Castle, saya tidak merasa sedang mengunjungi istana para raja. Saya merasa sedang berjalan di dalam ruang kelas sejarah yang terbesar.

Selama puluhan tahun saya mempelajari demokrasi, hak asasi manusia, dan perubahan masyarakat.

Namun baru di tempat ini saya merasakan bahwa peradaban yang besar bukanlah yang tidak pernah berbuat salah, melainkan yang berani mengubah kekuasaan menjadi kepercayaan.

Dua buku ini dapat memperluas wawasan kita memahami perubahan peran kerajaan berkaitan dengan dinamika sejarah.

Buku Pertama: The English Constitution. Penulisnya: Walter Bagehot, 1867.

Walter Bagehot menulis buku ini ketika monarki Inggris telah kehilangan sebagian besar kekuasaan politiknya. Banyak orang saat itu menganggap kerajaan akan semakin tidak relevan. Namun Bagehot justru menunjukkan mengapa monarki tetap bertahan.

Menurutnya, sistem politik memiliki dua unsur. Pertama adalah bagian yang bekerja, yaitu kabinet, parlemen, dan pemerintahan. Kedua adalah bagian yang dihormati, yaitu monarki. Yang pertama menjalankan negara. Yang kedua memelihara imajinasi, identitas, dan emosi kolektif bangsa.

Inilah gagasan yang sangat membantu memahami Windsor Castle. Selama berabad-abad, kastel itu berubah dari pusat pemerintahan menjadi pusat simbolik negara.

Yang bertahan bukan lagi kekuasaan rajanya. Yang bertahan adalah kemampuannya menjaga kesinambungan sejarah.

Bagehot mengingatkan bahwa legitimasi politik tidak selalu berasal dari kekuasaan hukum.

Ia juga lahir dari kepercayaan, tradisi, dan rasa memiliki bersama.

Tanpa dimensi simbolik itu, negara modern mudah kehilangan ikatan emosional dengan rakyatnya.

Sesudah membaca buku ini, saya memahami mengapa Inggris tidak membubarkan monarki setelah demokrasi berkembang.

Mereka mengubah fungsinya.

Dan justru perubahan itulah yang membuat monarki tetap relevan hingga hari ini.

-000-

Buku Kedua: The English and Their History. Robert Tombs. Allen Lane, 2014.

Robert Tombs melihat sejarah Inggris bukan hanya sebagai rangkaian perang, pergantian dinasti, dan kebijakan para penguasa.

Ia menelusuri bagaimana masyarakat Inggris terus menafsirkan masa lalunya, membentuk identitas bersama, lalu mengubah institusi lama agar sesuai dengan tuntutan zaman baru.

Inggris dalam buku ini tampil sebagai kerajaan yang berkali-kali mengalami invasi, perang saudara, revolusi, perluasan imperium, dan penyusutan kekuasaan global. Namun ia tetap memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap perubahan tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan tradisi.

Gagasan ini sangat relevan untuk memahami Windsor Castle. Monarki Inggris bertahan bukan karena tidak pernah dikalahkan, melainkan karena berkali-kali mengubah cara ia dipahami.

Raja yang semula memerintah berdasarkan penaklukan dan hak ilahi perlahan menjadi raja yang dibatasi hukum, bergantung pada parlemen, dan akhirnya berfungsi terutama sebagai simbol kesinambungan bangsa.

Tombs membantu kita melihat bahwa sejarah kerajaan bukan hanya sejarah mahkota. Ia juga sejarah ingatan rakyat terhadap mahkota.

Sebuah monarki dapat kehilangan wilayah, kekuasaan politik, bahkan kemegahan imperiumnya, tetapi masih bertahan jika masyarakat menganggapnya bagian dari kisah bersama.

Windsor Castle karena itu bukan sekadar peninggalan feodal. Ia adalah tempat bangsa Inggris menyimpan, memperdebatkan, dan memperbarui pengertian tentang dirinya sendiri.

-000-

Dua karya tersebut tidak sekadar menjelaskan sejarah, melainkan memperlihatkan bagaimana simbol monarki dan narasi kolektif saling berkelindan dalam membentuk kesadaran berbangsa yang melampaui kekuasaan politik formal semata.

Sebagian sejarawan berpendapat bahwa keberhasilan Inggris tidak terutama disebabkan oleh evolusi monarkinya. Mereka lebih menekankan faktor Revolusi Industri, perkembangan perdagangan global, kekuatan angkatan laut, munculnya kelas menengah, serta tradisi hukum yang terus berkembang.

Dalam pandangan ini, Windsor Castle hanyalah latar belakang yang romantis. Perubahan besar sesungguhnya digerakkan oleh ekonomi dan institusi modern, bukan oleh simbol kerajaan.

Pandangan itu memiliki dasar yang kuat. Tidak ada masyarakat yang menjadi demokratis hanya karena memiliki istana tua.

Tidak ada negara yang menjadi makmur hanya karena mempertahankan tradisi. Kemajuan selalu memerlukan pendidikan, inovasi, pasar yang sehat, supremasi hukum, dan lembaga politik yang akuntabel.

Namun justru di sinilah letak keistimewaan Windsor Castle.

Esai ini tidak pernah berpendapat bahwa sebuah bangunan mengubah sejarah.

Bangunan tidak pernah mengubah sejarah. Manusialah yang melakukannya. Windsor Castle menjadi penting karena selama hampir seribu tahun ia menjadi panggung tempat masyarakat Inggris terus-menerus merundingkan hubungan antara kekuasaan, hukum, dan legitimasi.

Batu-batu kastel itu tidak berbicara. Tetapi setiap generasi memberi makna baru kepada batu-batu tersebut. Karena itulah Windsor bukan sekadar objek wisata.

Ia adalah arsip moral sebuah bangsa. Ia mengingatkan bahwa institusi yang mampu bertahan bukanlah institusi yang menolak perubahan. Melainkan institusi yang cukup rendah hati untuk berubah tanpa kehilangan jati dirinya.

-000-

Pelajaran Windsor menjadi semakin relevan hari ini. Di bawah Raja Charles III, monarki Inggris kembali diuji oleh skandal keluarga, perdebatan Commonwealth, dan pertanyaan generasi muda tentang relevansi tahta di era republik digital.

Sejarah seribu tahun itu berbisik satu hal. Lembaga bertahan bukan karena menolak kritik, melainkan karena bersedia mendengarnya sebelum kritik berubah menjadi revolusi.

Ketika matahari tenggelam di balik Round Tower, saya menyadari bahwa yang sedang saya tinggalkan bukan sekadar sebuah kastel.

Saya sedang meninggalkan sebuah ruang kuliah yang telah mengajar dunia selama hampir seribu tahun.

Di sana saya belajar bahwa sejarah bukanlah museum yang dipenuhi benda-benda mati.

Sejarah adalah percakapan panjang antara kekuasaan dan kebijaksanaan. Percakapan itu belum selesai. Ia terus berlangsung di setiap parlemen yang memperjuangkan keadilan, di setiap pengadilan yang menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Juga di setiap warga negara yang berani mengingatkan penguasanya bahwa tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada martabat manusia.

Barangkali itulah sebabnya Windsor Castle tetap berdiri dengan tenang.

Ia tidak lagi harus mempertahankan kekuasaan.

Ia hanya perlu mengingatkan setiap generasi bahwa kekuasaan selalu fana, sedangkan nilai yang memperadabkan manusia dapat hidup jauh lebih lama.

Saya meninggalkan Windsor dengan langkah yang lebih pelan daripada ketika saya datang. Karena saya tahu, perjalanan yang sesungguhnya bukanlah perjalanan melintasi kota.

Melainkan perjalanan memahami bagaimana sebuah bangsa belajar mengubah kekuasaan menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi peradaban.

Bangunan dapat bertahan seribu tahun karena batu. Peradaban hanya dapat bertahan seribu tahun karena manusia terus bersedia belajar dari sejarahnya sendiri.*

London, 24 Juli 2026

-000-

Referensi

1. Bagehot, Walter. The English Constitution. Chapman and Hall, 1867.

2. Tombs, Robert. The English and Their History. Allen Lane, 2014.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/1JJq3UcjT7/?mibextid=wwXIfr