El Nino California: Banjir, Pesisir Tergerus, Ekosistem Laut Terancam

Los Angeles Times

Los Angeles Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – El Nino California kembali menjadi sorotan karena peluangnya menjadi salah satu yang terbesar dalam catatan modern. NOAA menyebut peluang 63% El Nino menjadi “sangat kuat” pada akhir tahun, dan 88% menjadi “kuat” atau “sangat kuat”.

Jika skenario itu terjadi, California tidak hanya menghadapi musim dingin lebih basah, tetapi juga banjir pasang, erosi pantai, hingga guncangan pada kehidupan laut. “Sesuatu yang luar biasa bisa terjadi,” tulis ilmuwan iklim UC, Daniel Swain, merujuk pada kombinasi El Nino ekstrem dan pemanasan global lebih dari seabad.

El Nino adalah pola iklim yang muncul ketika angin pasat Pasifik melemah, sehingga air hangat bergerak ke timur dan mengubah sirkulasi atmosfer. Dampaknya paling terasa pada musim dingin, saat jalur jet stream cenderung bergeser dan memengaruhi pola badai di Amerika Serikat.

Di California, narasi publik sering menyederhanakan El Nino sebagai “pembawa hujan” bagi California Selatan. Padahal, artikel sumber menegaskan dampaknya jauh lebih luas, terutama pada garis pantai dan ekosistem laut yang sensitif terhadap perubahan suhu dan tinggi muka laut.

Sejarah juga menunjukkan El Nino tidak selalu memenuhi ekspektasi. Dari empat El Nino “sangat kuat” terakhir, dua musim (1982-83 dan 1997-98) membawa lebih dari dua kali lipat curah hujan tahunan normal di pesisir California Selatan, tetapi 2015-16 hanya mencapai 77% rata-rata tahunan.

Ancaman pertama adalah “musim dingin basah dan liar” yang bisa membuka “pintu air” atmosfer, terutama di California Selatan. Swain menilai El Nino sangat kuat mungkin menjadi prediktor tunggal terpenting untuk peluang meningkatnya kondisi sangat basah dan kejadian hujan ekstrem di California.

Namun, peningkatan hujan bukan sekadar kabar baik bagi waduk, karena risiko banjir skala besar ikut naik. Pada saat yang sama, musim dingin basah dapat memberi sedikit napas bagi cekungan Sungai Colorado yang disebut Swain berada dalam “kekeringan multi-dekade yang sangat parah”.

Ancaman kedua adalah banjir pasang dan erosi pantai yang lebih sering. NOAA menyatakan kenaikan muka laut di Pantai Barat dapat membuat pasang tinggi dan ombak kuat “menunggang lebih tinggi” dan mendorong air lebih jauh ke daratan dibanding normal.

NOAA juga mencatat El Nino 2015-16 dan 2023-24 memicu banjir pasang yang lebih sering, lebih dalam, dan lebih luas, diperparah oleh tren kenaikan muka laut selama beberapa dekade. Komisi Pesisir California bahkan menyebut 2015-16 membawa “erosi pantai yang memecahkan rekor” di banyak pantai.

Swain menambahkan mekanismenya bukan tunggal, melainkan gabungan gelombang Kelvin yang “terperangkap” di pesisir dan pemuaian termal air laut. Dalam peristiwa besar, muka laut lokal di California bisa naik sekitar 6 hingga 10 inci pada musim dingin yang basah dan badai, sehingga banjir pesisir “signifikan” mungkin terjadi.

Ancaman ketiga adalah pemanasan air dan suhu, yang juga mendorong rekor panas global. Jon Gottschalck dari Climate Prediction Center menjelaskan pelemahan angin pasat memicu gelombang Kelvin bawah permukaan yang membawa air hangat dari Pasifik barat ke tengah dan timur.

Air hangat yang bergerak ke timur lalu melemahkan angin barat-ke-timur, sehingga makin banyak air hangat terdorong ke timur dan memperkuat El Nino. Ariel Cohen dari NWS Oxnard menyebut pergeseran jalur jet stream ke selatan dapat membawa kondisi lebih basah dari normal pada musim dingin di wilayah mereka.

Ancaman keempat adalah perubahan komposisi satwa laut yang mendekat ke pantai, termasuk peluang lebih banyak penampakan hiu. Nate Jaros dari Aquarium of the Pacific menyebut spesies tropis atau subtropis hangat bisa meningkat, bahkan dalam kasus langka hiu paus pernah muncul di sekitar Catalina pada El Nino 2015-2016.

Andrew Leising dari NOAA Southwest Fisheries Science Center menambahkan mamalia laut dan spesies migran cenderung mendekat karena mengikuti makanan. Dalam sejarah El Nino, ilmuwan juga melihat sablefish berukuran lebih besar lebih dekat pantai, serta peningkatan larva rockfish.

Pemanasan laut juga dapat meningkatkan ubur-ubur dan organisme gelatin. Jaros mengingatkan Velella velella umumnya tidak berbahaya, tetapi pada El Nino tertentu pernah muncul Portuguese man o’ war yang langka dan memiliki sengatan sangat menyakitkan.

Ancaman kelima justru paradoks: sebagian satwa datang, tetapi banyak yang kesulitan bertahan. Leising menyebut ada dua gelombang panas laut yang tidak terkait El Nino di dekat California, dan El Nino cenderung menambah gelombang panas baru sehingga paparan panas menjadi lebih lama.

Lamanya paparan panas ini krusial, karena ekosistem tidak hanya “kepanasan” tetapi juga kehilangan stabilitas rantai makanan. Jaros menyebut gelombang panas laut sebelumnya menghancurkan kelp California, dengan habitat bull kelp turun 90% di California Utara sejak 2014.

Dampaknya merembet ke spesies lain, termasuk white abalone yang terancam punah, serta memperburuk sea star wasting disease pada sunflower sea star yang populasinya nyaris hilang dari California. Dalam El Nino kuat sebelumnya, ilmuwan juga mencatat penurunan plankton dan meningkatnya peluang harmful algal blooms.

Leising menambahkan El Nino kuat dapat menurunkan kelimpahan market squid dan mendorong pergeseran lebih ke utara. Produktivitas singa laut California juga sering turun, dengan anak yang “lebih kecil”, menandai tekanan pangan yang nyata.

Kombinasi gelombang panas “The Blob” dan El Nino sangat kuat sebelumnya bahkan memicu penutupan perikanan kepiting dan kerang akibat harmful algal blooms. Leising juga mencatat peningkatan lilitan paus karena paus lebih dekat pantai, bersinggungan dengan kapal dan alat tangkap, serta hilangnya sebagian habitat groundfish karena oksigen dasar menurun.

El Nino California seharusnya tidak diperlakukan sebagai mitos musiman yang hanya ditunggu untuk “mengisi waduk”. Data historis menunjukkan variabilitas besar, sehingga berharap pada satu pola iklim untuk menyelesaikan kekeringan adalah bentuk judi kebijakan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek gabungan: El Nino ekstrem datang di atas “tabungan” pemanasan global yang sudah menumpuk lebih dari seabad, seperti diperingatkan Swain. Artinya, kejadian yang dulu dianggap langka bisa menjadi lebih merusak karena garis dasar iklim dan muka laut sudah berubah.

Di pesisir, risiko banjir pasang dan erosi bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu ekonomi dan tata ruang. Ketika ombak masuk lebih jauh, yang terancam bukan hanya pantai wisata, melainkan jalan, properti, pelabuhan, dan sistem drainase yang dirancang untuk iklim masa lalu.

Di laut, kedatangan spesies hangat sering dibaca sebagai tontonan menarik, padahal bisa menjadi sinyal stres ekosistem. Jika plankton turun, kelp runtuh, dan harmful algal blooms meningkat, maka perikanan, pariwisata, dan kesehatan publik ikut terkena getarannya.

Karena itu, narasi yang paling jujur bukan “El Nino membawa berkah hujan”, melainkan “El Nino memperbesar ketidakpastian dan ekstrem”. Dalam dunia yang lebih panas, ketidakpastian itu sendiri adalah ancaman, karena mempersulit perencanaan air, mitigasi banjir, dan perlindungan pesisir.

El Nino California berpotensi menghadirkan musim dingin basah, banjir pasang, air laut menghangat, dan perubahan besar pada ekosistem pesisir. Tetapi pelajaran terpenting dari artikel sumber adalah ini: dampak tidak datang tunggal, melainkan bertumpuk dan saling menguatkan.

Jika El Nino sangat kuat benar terjadi, pertanyaan kuncinya bukan apakah hujan akan turun, melainkan apakah California siap menghadapi konsekuensi berlapis dari air yang berlebih dan laut yang lebih tinggi. Pada akhirnya, El Nino menguji satu hal yang sering diabaikan, yaitu kemampuan manusia beradaptasi pada alam yang tidak lagi “normal”.

(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)