Puisi Satrio Arismunandar: Ketika Tas Sekolah Menjadi Peti Mati

(Puisi ini diilhami peristiwa tewasnya 168-180 pelajar sekolah dasar putri di Iran oleh serangan rudal Tomahawk AS, dan menjadi salah satu tragedi kemanusiaan paling mengejutkan dalam perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran pada tahun 2026. Insiden ini terjadi pada 28 Februari 2026 di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, ketika sebuah sekolah dasar khusus perempuan bernama Shajareh Tayyebeh hancur akibat serangan rudal). 

Pagi itu
matahari Iran terbit seperti biasa
lembut di atas atap-atap kota Minab
dan angin dari Teluk
membawa bau laut yang asin
ke halaman sebuah sekolah kecil.

Di sana
anak-anak perempuan datang
dengan sepatu yang sedikit berdebu
dengan pita di rambut
dengan tas berisi buku matematika
dan mimpi yang terlalu muda untuk mati.

Mereka tertawa
seperti burung-burung yang baru belajar terbang.

Di papan tulis
seorang guru menuliskan huruf
tentang masa depan
tentang dunia yang katanya
akan lebih baik dari hari ini.

Tak seorang pun di ruang kelas itu
mengerti bahasa perang.

Mereka tidak tahu
bahwa di langit yang biru itu
mesin-mesin dingin sedang menghitung koordinat
mengubah bumi
menjadi angka-angka target.

Sebuah rudal melintas.

Tidak ada yang mendengarnya lebih dulu
kecuali angin.

Lalu
langit pecah.

Ledakan itu
seperti matahari yang jatuh ke bumi
seperti petir yang lupa berhenti.

Dinding sekolah runtuh
meja-meja terbalik
buku-buku beterbangan
seperti burung yang sayapnya patah.

Suara anak-anak
yang tadi membaca pelajaran
berubah menjadi jerit
yang bahkan malaikat pun mungkin tak sanggup menuliskannya.

Debu naik ke langit
seperti doa yang tersedak.

Di bawah reruntuhan
tas-tas sekolah
terkubur bersama mimpi.

Pensil-pensil patah
di antara serpihan beton.

Dan dunia tiba-tiba menjadi sunyi.

Di rumah-rumah kota itu
telepon berdering
dan para ibu mulai berlari.

Seorang ibu menjatuhkan piring
ketika mendengar kabar itu.

Seorang ayah
masih mengenakan sandal rumah
ketika berlari menuju sekolah.

Di jalan-jalan Minab
orang-orang berlarian
membawa nama anak mereka di mulut
seperti doa yang tak selesai.

"Fatemeh!"
"Leila!"
"Zahra!"

Nama-nama kecil itu
terbang di udara
mencari pemiliknya.

Namun di halaman sekolah
yang mereka temukan
hanyalah gunung puing.

Dan di antara debu
mereka menemukan
pita rambut yang terbakar
sepatu kecil
dan buku tulis
yang halaman depannya masih menuliskan:

“Nama saya …”

Beberapa ayah
menggali reruntuhan dengan tangan kosong.

Beberapa ibu
memeluk tas sekolah
seolah itu masih anak mereka.

Tangis mereka
mengguncang langit.

Tidak ada bahasa
yang cukup besar
untuk menampung kesedihan itu.

Malam itu
Minab menjadi kota pemakaman.

Barisan peti kecil
berderet seperti bunga yang layu.

Seratus lebih mimpi
dimasukkan ke dalam tanah.

Angin laut
membawa suara ratapan
melewati rumah-rumah
melewati gurun
melewati batas negara
melewati peta-peta politik
yang sering lupa pada manusia.

Dan bumi bertanya
kepada langit:

Bagaimana mungkin
sebuah rudal
lebih cepat
daripada masa depan seorang anak?

Bagaimana mungkin
dunia yang begitu canggih
tidak mampu membedakan
antara sekolah
dan medan perang?

Di suatu tempat
para jenderal berbicara tentang strategi.

Di suatu tempat
para politisi berbicara tentang kemenangan.

Tetapi di Minab
para ibu berbicara pada foto anak mereka.

Mereka mengelus rambut di bingkai itu
dan berkata pelan:

“Besok kamu tidak perlu pergi sekolah lagi, sayang.”

Langit tidak menjawab.

Hanya bintang-bintang
yang tampak seperti air mata
yang membeku.

Namun
suatu hari nanti
anak-anak yang hilang itu
akan menjadi cerita.

Cerita yang mengingatkan manusia
bahwa perang
tidak pernah benar-benar mengenai musuh.

Ia selalu menemukan
jalan menuju anak-anak.

Dan di setiap tas sekolah
yang tertinggal di reruntuhan
ada satu pesan yang tidak bisa dihancurkan oleh rudal:

bahwa masa depan
tidak seharusnya
dibunuh oleh langit.

Jakarta, 13 Maret 2026

Satrio Arismunandar