Puisi Satrio Arismunandar - Cahaya dari Dahaga Suci: Elegi untuk Sang Imam
ORBITINDONESIA.COM - Di bawah langit Ramadan yang luruh dalam doa,
Saat bibir mengering menahan dahaga demi Sang Pencipta,
Sebuah api membuncah dari tangan-tangan tirani—
Menerjang tubuh sepuh yang hanya ruku’ pada Ilahi.
Kematian, wahai kawan, adalah kepastian yang sunyi,
Namun ia yang berjalan di atas bara kebenaran, tak pernah mati.
Pertanyaannya bukan lagi tentang "kapan" raga akan fana,
Tapi "bagaimana" ia menjemput maut di gerbang cahaya.
Dan hari ini, di sela aroma kurma dan ayat yang mengalun,
Seorang putra Nabi telah pulang, dalam syahadah yang harum menahun.
Imam Ali Khamenei Syahid!
Bukan dalam tidur yang lelap di atas sutra,
Melainkan dalam kecamuk perlawanan melawan angkara.
Darahnya membasahi tanah yang ia jaga dari kuku Amerika,
Jiwanya terbang tinggi, lepas dari belenggu debu Israel yang nista.
Ia bukan sekadar pemimpin, ia adalah silsilah keberanian,
Cucu Muhammad SAW, yang mewarisi pedang keadilan.
Jangan! Sekali-kali jangan kau sangka ia telah tiada,
Sebab Tuhan telah berfirman dalam kalam-Nya yang nyata:
"Janganlah kau mengira mereka yang gugur di jalan Allah itu mati,"
Mereka hidup, beroleh rezeki di sisi Tuhan yang Maha Tinggi.
Mereka tersenyum, melihat kawan yang masih berjuang di belakang,
Tanpa rasa takut, tanpa sedih yang menghalang.
Seperti kata Iqbal: "Saat kita mati, kita sesungguhnya baru saja hidup,"
Raga mungkin terbujur, namun api perjuangan takkan redup.
Atau dengarlah teriakan Tan Malaka yang memecah sunyi:
"Dari dalam kubur, suaraku akan lebih keras daripada dari atas bumi!"
Suara Sang Imam kini mengguntur di tiap sudut Gaza,
Menggetarkan tembok Tel Aviv, meruntuhkan keangkuhan penguasa.
Sistem Wilayatul Faqih bukanlah gedung yang mudah runtuh,
Ia adalah pohon yang akarnya menghujam, batangnya kokoh dan tangguh.
Satu bintang jatuh, seribu fajar akan menyingsing kemudian,
Meneruskan panji-panji perlawanan terhadap segala kezaliman.
Kepergiannya justru menjadi minyak bagi api yang kian membara,
Membakar habis keputusasaan, menyalakan harapan di dada manusia.
Wahai Amerika, wahai Israel, lihatlah dengan mata yang nanar,
Ketakutanmu takkan sirna dengan peluru yang kau lontar.
Sebab seorang pejuang yang syahid dalam lapar dan puasa,
Adalah ruh yang takkan bisa kau penjarakan dalam batas angkasa.
Musuh-musuh Islam kini akan tertunduk dalam putus asa,
Melihat perlawanan ini tumbuh, melampaui waktu dan masa.
Salam penuh duka sedalam-dalamnya bagi Sang Imam,
Buka puasa syahidmu adalah pesta di langit yang diam.
Perjuanganmu abadi, perlawananmu takkan pernah padam,
Menuju fajar kemenangan yang kan menghapus kelam.
Depok, 1 Maret 2026
PUISI PENGHORMATAN oleh Satrio Arismunandar
(untuk mengenang Ayatullah Ali Khamenei, yang terbunuh oleh serangan AS-Israel, 28 Februari 2026). ***