DECEMBER 9, 2022
Internasional

SOHR Tuding Sebanyak 340 Warga Tewas Dalam Operasi Militer oleh Otoritas Baru di Suriah

image
Kelompok perlawanan yang kini menjadi otoritas baru di Suriah (Foto: Ahram Online)

ORBITINDONESIA.COM - Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris pada Sabtu, 8 Maret 2025, menuding otoritas baru Suriah melancarkan operasi militer yang menewaskan sekitar 340 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Bentrokan bersenjata pecah pada Kamis, 6 Maret 2025, antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak loyalis mantan Presiden Suriah Bashar Assad di provinsi Latakia dan Tartus. Otoritas setempat memberlakukan jam malam di daerah yang terdampak.

Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, menyerukan kelompok bersenjata di Latakia dan Tartus untuk menyerahkan senjata, sementara kementerian pertahanan menutup akses jalan menuju wilayah pesisir.

Baca Juga: Israel Serang Perbatasan Suriah - Lebanon, Melanggar Gencatan Senjata

“Kementerian pertahanan dan pasukan sekutunya telah melakukan kejahatan perang serta pelanggaran hak asasi manusia tanpa konsekuensi hukum, yang mengakibatkan tewasnya 340 warga sipil,” kata SOHR dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa di antara korban terdapat perempuan dan anak-anak.

Saksi mata dari sebuah desa di wilayah konflik mengatakan kepada RIA Novosti bahwa ada pejuang asing yang memasuki permukiman mereka.

“Saya tidak tahu dari mana mereka berasal, tetapi mereka tidak berbicara dalam bahasa Arab. Mereka menembaki rumah secara acak dan menangkap laki-laki yang tidak sempat melarikan diri. Kami terlalu takut untuk keluar rumah selama berhari-hari, dan persediaan makanan serta air kami hampir habis,” ujar salah satu saksi mata.

Baca Juga: Presiden Turki Erdogan: 130.000 Lebih Warga Suriah Sudah Pulang ke Tanah Air

Saksi lain di Latakia menggambarkan adanya baku tembak di jalan-jalan dan penangkapan yang terus terjadi selama beberapa hari.

“Kelompok bersenjata menjarah toko-toko dan mengambil apa pun yang mereka inginkan. Kami mengetahui dari internet bahwa banyak orang berkumpul di Bandara Internasional Latakia di Hmeimim, tetapi sekarang terlalu berbahaya untuk pergi ke sana, -- siapa pun yang mencoba bisa ditangkap atau bahkan dibunuh,” kata seorang warga lainnya.

Pada akhir November 2024, oposisi bersenjata Suriah melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah yang dikuasai pemerintah.

Baca Juga: Menlu Sugiono: Indonesia Dukung Penuh Rakyat Suriah Pulihkan Negara Jadi Lebih Demokratis

Bashar Assad kemudian mengundurkan diri sebagai presiden Suriah dan meninggalkan negara itu.***

Berita Terkait