Syaefudin Simon: Dari Kisah Burung Sampai Frugal Life
- Penulis : Satrio Arismunandar
- Jumat, 12 April 2024 08:03 WIB

Budhy melanjutkan ceritaku tentang tubuh pasca hidup ini. Budhy tertarik dengan proses kremasi teman kuliahnya di STF Driyarkara, aktivis keberagaman, Trisno Sutanto, yang wafat pekan lalu.
Kenapa dalam Islam mayat hanya boleh dikafani, tapi agama lain bisa dikremasi (dibakar jadi abu). Trisno beragama Protestan tapi ia lebih dekat dgn Katolik dalam kesehariannya.
Menurut Budi, kremasi adalah upaya pemisahan total ruh dari jasad ketika manusia meninggal. Mungkin cerita kuntilanak, cerita kebangkitan tubuh seperti waktu hidup di alam Mahsyar, dan sebagainya karena basis mayat utuh yang dikubur tadi. Beda jika mayat itu dikremasi. Ruh tak akan bisa kembali karena jasad telah menjadi abu.
Tapi ada tradisi kepercayaan lain, kata Budi, mayat dikubur dan di atasnya ditanam tetumbuhan. Pohon di atas gundukan kuburan tumbuh subur dan membentuk hutan.
Aku pikir, kata Budi, ini pun baik karena mayat bisa berkontribusi terhadap perbaikan lingkungan yang hutannya krisis.
Cerita Amelia Fitriani, designer dari Creator Club, sangat menarik. Dalam beberapa tahun terakhir ia mencoba menjalani frugal life, hidup sederhana, dan minimalis.
Baca Juga: LSI Denny JA: Mayoritas Publik Setuju Koalisi Semi Permanen Pemerintahan Prabowo Subianto
Suatu ketika, kata Amel, ia membuka lemari bajunya yang besar. Ternyata banyak sekali busana yang tak terpakai. Setelah diseleksi, puluhan busana ia sisihkan. Busana yang lain, ia coba. Apakah tubuh ini merasa nyaman dengan baju itu.
Apakah setelah mengenakan baju itu, hati terasa lega, badan bebas bergerak, dan pikiran nyaman? Jika tidak, baju yang masih bagus pun, ia sisihkan. Lalu diberikan ke badan amal Tapi kalau nyaman di hati dan tubuh, meski baju lama, akan kupakai.
Baju adalah bukan sekadar pakaian badan tapi juga pakaian hati. Karena itu, kata Amel dalam rangka frugal life ini, aku akan meminimalising kebutuhan yang timbul dari pikiran dan nafsu. Hidup sederhana dan minimize itu indah, ujar Amel.
Baca Juga: Menangkan Pilpres Lima Kali Beruntun, LSI Denny JA Peroleh Penghargaan dari MURI Jaya
Sementara Satrio, mencoba merenungi hidup sebagai ketentuan Allah. Aku sekarang, kata Satrio, sudah menerima apa pun yang menimpaku. Baik dan buruk, semuanya sudah ketentuan Allah.