Alex Runggeary: Kegelisahan I.S. Kijne dan Nurani
- Penulis : Satrio Arismunandar
- Jumat, 26 Januari 2024 06:30 WIB

Bisa dibilang, gerakan rakyat Papua yang pro Indonesia berawal dari sini. Inilah yang kemudian memicu semangat pemuda pemudanya berduyun duyun pergi ke Sorong akhir 1950an dan awal 1960an untuk menyeberang ke Indonesia. Dan balik menjadi sukarelawan sewaktu Trikora [5]
I.S Kijne gelisah melihat perkembangan terbaru masyarakat Serui yang bisa dikatakan mewakili rakyat Papua. Biar bagaimanapun jejaring gereja saling sharing infomasi yang sama.
"Mereka telah terpengaruh dan senang dengan Indonesia. Mereka tak mengerti apa itu Indonesia." Ini menggelisahkan Kijne.
Baca Juga: Alex Runggeary: Budaya dan Perkembangan Zaman, Belajar dari Malioboro
Kalau boleh meraba kegelisahan hatinya, "Kami sudah bekerja keras membawa mereka melihat terang Tuhan dan juga terang dunia. Tapi ini yang kami mendapatkannya sebagai imbalan"
Indonesia pada masa itu sedang berjuang keras membangun bangsanya sebagai bangsa yang baru merdeka. Kemajuan yang lamban karena terjadi pemberontakan di sana sini. Kehidupan rakyatnya bisa dibilang - memerlukan perjuangan tersendiri.
Sedangkan di Papua pada masa yang sama, kehidupan orang orang, khususnya di kota kota besar Papua dapat dikatakan stabil [6]. Kalau di kota besar di Jawa, kita dengan mudah menemukan peminta minta. Sebaliknya di Papua, tidak.
Baca Juga: Alex Runggeary: Kopi Paling Enak se Dunia
Kijne mencatat kegelisahan itu yang kemudian dikenal sebagai Nubuatan, "Saya pulang dengan keyakinan bahwa Tanah dan Bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang memiliki kepentingan politik atas segala kekayaan dan hasil tanah ini, tetapi mereka tidak akan membangun manusia Papua dengan kasih sayang. Sebab kebenaran dan keadilan akan diputar balikan, sebab banyak hal baru yang membuat orang Papua menyesal, tetapi itu bukan maksud Tuhan karena itu keinginan manusia." [7]
Menurut penelitian ahli Psikologi Paul Ekman, " Manusia Papua memiliki kecederungan alami untuk mengekspresikan emosi mereka melalui ekspresi mikro yang jujur dan tulus" [8]
Pembawaan alami mereka adalah punya - nurani. Perilaku dikendalikan oleh bawah sadar - nurani - berbuat baik dan berbudi luhur.
Baca Juga: Alex Runggeary: Soempah Pemoeda, Moeda dan Majoe
Terbukti perilaku berbagi dengan sesama, atau hidup sosial orang Papua dibilang sangat tinggi. Kemanapun kita pergi, perilaku sosial ini dipertontonkan dengan lugas, tak berpura-pura. Tak perlu pencitraan